Senin, 13 April, 2026

Fahri Hamzah: Hadapi Disrupsi Global, Pemimpin Harus Percaya Diri dan Bangun Narasi Persatuan

MONITOR, Jakarta – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, menegaskan pentingnya kepercayaan diri tinggi bagi para pemimpin nasional dalam menghadapi disrupsi geopolitik global yang kian kompleks. Ia juga mengingatkan agar elite nasional tidak terus mengembangkan narasi perpecahan, melainkan memperkuat persatuan bangsa.

Dalam keterangannya, Minggu (12/4), Fahri menyebut kondisi dunia saat ini dipenuhi ketidakpastian akibat perang dan konflik di berbagai kawasan. Situasi tersebut, menurutnya, menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk melakukan lompatan besar.

“Dunia sedang mengalami disrupsi besar yang menciptakan ketidakpastian. Kita butuh kepercayaan diri tinggi untuk menghadapinya agar bisa menjadi peluang perubahan fundamental,” ujar Fahri.

Ia menilai Presiden Prabowo Subianto memiliki karakter kepemimpinan yang kuat dengan tingkat kepercayaan diri tinggi di tengah kondisi bangsa yang dinilai masih mengalami defisit rasa percaya diri.

- Advertisement -

“Presiden Prabowo adalah sosok dengan latar unik dan memiliki kepercayaan diri tinggi saat bangsa ini justru mengalami defisit kepercayaan diri,” katanya.

Fahri menyoroti narasi sejarah yang kerap menempatkan Indonesia sebagai bangsa yang lemah karena pengalaman penjajahan. Menurutnya, narasi tersebut perlu ditinjau ulang karena berpotensi melemahkan mental bangsa.

“Kita terlalu lama dibentuk oleh narasi bahwa Indonesia bangsa yang dijajah. Padahal, kita bagian dari peradaban tua dunia yang besar,” ujarnya.

Ia juga mengapresiasi upaya penulisan ulang sejarah nasional yang tengah dilakukan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon, sebagai langkah membangun kembali kepercayaan diri bangsa berbasis fakta sejarah.

Lebih lanjut, Fahri menekankan posisi strategis Indonesia dalam peta global, terutama terkait jalur perdagangan dunia. Ia menyebut Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan global baru.

“Kalau negara lain menguasai sebagian jalur perdagangan dunia, Indonesia dengan selat-selatnya justru memiliki potensi lebih besar. Ini peluang besar bagi kita,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar elite politik tidak terus memperkeruh situasi dengan narasi polarisasi yang dapat memecah belah masyarakat.

“Kita tidak boleh terus mengembangkan narasi perpecahan. Yang kita butuhkan saat ini adalah narasi persatuan dan kebersamaan,” tegas Fahri.

Ia mencontohkan solidaritas masyarakat di negara lain dalam mendukung pemimpinnya sebagai refleksi pentingnya kekompakan nasional. Menurutnya, Indonesia juga membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi tantangan global.

Fahri menambahkan, penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor, baik di pusat maupun daerah, menjadi kunci dalam membangun kekuatan nasional. Hal ini termasuk mendukung visi besar pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan baru di dunia.

“Dengan arah kebijakan yang ada saat ini, Indonesia memiliki peluang menjadi negara superpower baru. Ini bukan hal yang mustahil jika seluruh elemen bangsa bergerak bersama,” ujarnya.

Ia juga menyinggung kesamaan narasi antara visi Presiden Prabowo dan pemikiran Ketua Umum Partai Gelora, Anis Matta, terkait arah baru Indonesia melalui konsep konsensus dan gelombang sejarah.

Menurut Fahri, langkah pemerintah dalam memperkuat kemandirian pangan, energi, hilirisasi industri, hingga pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi penting menuju Indonesia sebagai kekuatan global.

“Yang dilakukan pemerintah saat ini adalah membangun fondasi kemandirian nasional dan mempersiapkan Indonesia menjadi kekuatan besar dunia,” pungkasnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER