Sabtu, 14 Februari, 2026

Menag Lepas Parade Budaya Widyalaya di Bali, Teguhkan Pendidikan dan Ekoteologi

MONITOR, Denpasar – Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar, secara resmi membuka Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, pada Jumat (13/2/2026) pagi. Kegiatan ini merupakan rangkaian peringatan Hari Bhakti Pertiwi Widyalaya yang juga diisi dengan lomba mewarnai dan menggambar di Museum Bali.

Parade budaya tersebut diikuti hampir 600 peserta dari berbagai Widyalaya di Provinsi Bali, mulai dari Pratama Widyalaya (PAUD), Adi Widyalaya (SD), Madyama Widyalaya (SMP), hingga Utama Widyalaya (SMA). Kegiatan ini menjadi parade budaya Widyalaya pertama yang digelar sejak diterbitkannya Peraturan Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Widyalaya pada 13 Februari 2024.

Dirjen Bimas Hindu Prof. I Nengah Duija, menjelaskan bahwa parade budaya ini merupakan implementasi nyata dari regulasi tersebut sekaligus momentum penguatan eksistensi Widyalaya sebagai lembaga pendidikan umum berciri khas agama Hindu.

“Saat ini telah berdiri sekitar 146 Widyalaya di Indonesia dengan berbagai tingkatan, mulai dari Pratama, Adi, Madyama, hingga Utama Widyalaya. Ini menunjukkan komitmen umat Hindu dalam menghadirkan pendidikan yang berkarakter dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan,” jelasnya.

- Advertisement -

Lebih lanjut, Prof. I Nengah Duija menyampaikan bahwa konsep parade budaya ini mencerminkan ekoteologi yang menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama Republik Indonesia. Para peserta diwajibkan menggunakan sarana parade berbahan daur ulang sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian lingkungan.

Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah daerah di Bali yang telah memberikan hibah lahan untuk pembangunan Widyalaya, seperti di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Gianyar. Menurutnya, dukungan pemerintah daerah menjadi amunisi penting dalam pengembangan Widyalaya ke depan.

“Kami berharap keberadaan Widyalaya tidak hanya menjadi perhatian pemerintah pusat, tetapi juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah demi penguatan pendidikan Hindu yang berkualitas,” imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar menegaskan bahwa parade budaya yang ditampilkan bukan sekadar pementasan seni, melainkan representasi visual dari kesadaran ekoteologi.

“Hari ini mata kita dimanjakan oleh parade budaya yang luar biasa. Namun, yang kita saksikan bukan sekadar pementasan seni dan budaya. Ini adalah representasi kesadaran dalam ekoteologi, yakni menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam,” ujar Menag.

Menurutnya, konsep ekoteologi sejatinya telah lama hidup dalam ajaran Hindu melalui filosofi Tri Hita Karana yang menekankan harmoni kehidupan. Ia berharap Parade Budaya Bhakti Pertiwi Widyalaya dapat menjadi tonggak dan dilaksanakan secara konsisten setiap tanggal 13 Februari sebagai Hari Widyalaya.

Menag juga menekankan bahwa kehadiran Widyalaya bernafaskan pendidikan agama Hindu menjadi penguatan karakter di tengah tantangan degradasi moral. Pendidikan, menurutnya, tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga harus diimbangi dengan pembinaan moral, etika, dan karakter.

Melalui parade budaya serta lomba mewarnai dan menggambar ini, Widyalaya diharapkan semakin kokoh menjadi pilar pendidikan yang melahirkan generasi cerdas, beriman, berakhlak mulia, serta peduli terhadap lingkungan dan bangsa.

Jayalah Widyalaya. Jayalah Pertiwi.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER