MONITOR, Jakarta – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak tokoh masyarakat dan umat beragama untuk menyikapi dinamika sosial secara arif, dewasa, dan berorientasi pada solusi. Pesan tersebut disampaikannya saat bersilaturahmi dengan para tokoh masyarakat di Bumi Silih Asih Pusat Pastoral Keuskupan Bandung, Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/2/2026).
Menag menyoroti posisi Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia. Menurutnya, kompleksitas persoalan sosial yang muncul merupakan konsekuensi logis dari besarnya populasi serta keberagaman latar belakang masyarakat. Karena itu, tantangan tersebut perlu dihadapi secara bijak dan proporsional, tanpa saling menyalahkan.
Dalam konteks kepemimpinan dan pengabdian sosial, Menag mengingatkan pentingnya mengubah cara pandang dalam merespons persoalan. Ia menekankan bahwa energi kolektif seharusnya diarahkan untuk menghadirkan solusi nyata, bukan larut dalam keluhan atau perdebatan yang tidak produktif.
“Dalam setiap dinamika sosial, yang terpenting bukan mencari siapa yang salah, melainkan bagaimana kita bersama-sama menghadirkan jalan keluar yang membawa kebaikan,” ujar Menag.
Menag juga mengajak para pemimpin dan tokoh masyarakat untuk meneladani sikap orang-orang arif yang lebih memilih bekerja secara tenang, namun memberi dampak luas bagi masyarakat. Menurutnya, kepemimpinan yang matang tidak diukur dari pencarian pengakuan, tetapi dari kesungguhan menghadirkan manfaat.

“Daripada meratapi kegelapan, lebih baik menyalakan lilin. Prestasi tentu perlu dicatat dan dipertanggungjawabkan, namun keikhlasan dalam bekerja harus tetap menjadi fondasi utama,” tuturnya.
Selain itu, Menag menekankan pentingnya menjaga dan memaknai simbol-simbol nilai dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Penghormatan terhadap orang tua, guru, lingkungan, serta tempat ibadah dinilainya sebagai bagian dari adab yang perlu terus dirawat di tengah perubahan zaman.
“Penghormatan terhadap nilai dan simbol kehidupan merupakan bagian penting dari pembentukan karakter dan spiritualitas. Dari sanalah lahir pribadi-pribadi yang beradab dan bertanggung jawab,” kata Menag.
Menutup arahannya, Menag mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjalani pengabdian secara total dan tulus. Ia menegaskan bahwa ketulusan hati akan tercermin dalam kualitas pengabdian dan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.
“Pengabdian yang dilakukan dengan sepenuh hati akan meninggalkan jejak kebaikan. Segala sesuatu yang lahir dari ketulusan, insyaallah akan sampai ke hati orang lain,” ujarnya.
Menag menambahkan bahwa orientasi hidup dan pengabdian sejatinya bukan pada besarnya capaian materi atau popularitas, melainkan pada keberkahan dan kemanfaatan bagi sesama.
“Hidup ini bukan semata-mata mencari yang banyak atau yang besar, tetapi mencari keberkahan. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” pungkasnya.
Silaturahmi tersebut turut dihadiri Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat H. Dudu Rohman, Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., Staf Khusus Menteri Agama Bidang Kerukunan dan Layanan Keagamaan, Pengawasan, dan Kerjasama Luar Negeri Gugun Gumilar, M.A., Ph.D., serta Staf Ahli Menteri Agama Bidang Manajemen Komunikasi dan Informasi A.M. Adiyarto Sumardjono.
