MONITOR, Yogyakarta – Sepuluh tim dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) beradu inovasi dan kemampuan teknologi dalam Lomba Robotik Olimpiade Agama, Sains, dan Riset (OASE) III Tahun 2026. Bertempat di Convention Hall (CH) Lantai 2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, kompetisi ini menjadi ajang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kreativitas dan penguasaan teknologi robotika, sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi Islam dalam pengembangan sains dan teknologi modern.
Salah satu kategori yang dipertandingkan adalah robot transporter, yakni kompetisi yang menguji kemampuan peserta dalam merancang dan mengoperasikan robot untuk menyelesaikan tantangan di lintasan. Kompetisi ini menuntut perpaduan keterampilan pemrograman, desain mekanis, pengendalian sensor, serta ketepatan dan efisiensi gerak robot.
Sepuluh PTKIN yang berpartisipasi meliputi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai tuan rumah, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Salatiga, UIN Raden Mas Said Surakarta, UIN Imam Bonjol Padang, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, UIN Sunan Ampel Surabaya, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kehadiran kontingen dari berbagai daerah ini memperlihatkan berkembangnya minat dan kapasitas mahasiswa PTKIN dalam bidang rekayasa serta inovasi teknologi.
Sebelum kompetisi dimulai, panitia memberikan kesempatan kepada seluruh peserta untuk melakukan uji coba lintasan. Sesi ini dimanfaatkan untuk memetakan kondisi arena, mengalibrasi sensor, serta menguji respons dan kinerja penggerak robot. Persiapan tersebut menjadi bagian penting karena peserta harus memastikan robot mampu beradaptasi dengan kondisi lintasan sesungguhnya, yang dapat berbeda dari simulasi maupun pengujian di laboratorium.
Pada sesi klasemen pertama yang berlangsung hingga menjelang jeda salat Jumat, persaingan antartim berlangsung ketat. Para peserta menunjukkan kehati-hatian dalam mengoperasikan robot sekaligus melakukan penyesuaian strategi untuk meningkatkan ketepatan dan efisiensi waktu. Performa sejumlah tim juga menunjukkan perkembangan selama pertandingan, seiring kemampuan mereka beradaptasi dengan kondisi arena.
Tiga kontingen berhasil mencatatkan perolehan poin maksimal 100 persen pada sesi pertama, yakni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ketiganya menempati posisi teratas dalam klasemen sementara sebelum kompetisi dilanjutkan pada sesi kedua setelah jeda salat Jumat.
Penanggung Jawab Lomba Robotik OASE III 2026, M. Arif Rahman, S.T., M.T., mengapresiasi antusiasme dan capaian seluruh peserta. Ia menyampaikan bahwa sesi klasemen pertama berlangsung kondusif dan menjadi gambaran perkembangan kemampuan mahasiswa dalam bidang robotika.
Menurutnya, keberlanjutan lomba robotik dalam tiga penyelenggaraan OASE menunjukkan bahwa cabang kompetisi ini makin mendapat tempat di kalangan mahasiswa PTKIN. Robotika tidak sekadar menjadi bagian dari perlombaan, tetapi juga menjadi salah satu sarana untuk mendorong penguasaan sains, teknologi, dan keterampilan rekayasa di lingkungan perguruan tinggi keagamaan.
Arif berharap, pada penyelenggaraan OASE berikutnya, kategori lomba robotik dapat dikembangkan dengan cakupan yang lebih luas. Selain robot transporter, kompetisi dapat diperluas ke kategori lain, seperti robot sepak bola hingga wahana robot terbang. Pengembangan tersebut diharapkan dapat membuka lebih banyak ruang eksplorasi bagi mahasiswa sekaligus mendorong lahirnya riset terapan dan inovasi teknologi.
Ia juga mengusulkan pembentukan pusat kegiatan mahasiswa atau Robotic Center di UIN Sunan Kalijaga. Pusat pengembangan robotika ini diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan, melakukan riset kolaboratif, serta memperoleh pembinaan secara berkelanjutan. Dengan dukungan fasilitas dan ekosistem pengembangan yang memadai, potensi mahasiswa dalam bidang robotika dapat terus diasah dan dikembangkan.
Antusiasme terhadap kompetisi ini juga dirasakan para peserta. Revaldi Pamungkas, perwakilan kontingen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, mengungkapkan bahwa timnya telah melakukan persiapan intensif selama lebih dari satu bulan. Persiapan tersebut mencakup perancangan konsep, perakitan komponen mekatronika, hingga penyempurnaan robot sebelum digunakan dalam pertandingan.
Revaldi mengaku antusias melihat tingginya partisipasi mahasiswa dari berbagai PTKIN dalam kompetisi robotik. Menurutnya, hal tersebut menjadi perkembangan positif, mengingat bidang robotika dan elektronika selama ini belum selalu menjadi pilihan utama bagi mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi keagamaan. Ia berharap persiapan kompetisi pada penyelenggaraan mendatang dapat dilakukan lebih awal sehingga setiap tim memiliki waktu yang cukup untuk mengembangkan dan mengoptimalkan inovasinya.
Semangat serupa ditunjukkan kontingen tuan rumah, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Setelah dinyatakan lolos seleksi administrasi, tim langsung mempersiapkan rancangan dan kebutuhan teknis robot melalui diskusi serta pengembangan ide bersama. Hasilnya, mereka menghadirkan inovasi bertajuk Robo Omni 3, robot yang menggunakan mekanisme roda omni-directional sehingga memungkinkan pergerakan lebih fleksibel ke berbagai arah di atas lintasan.
Keterlibatan dalam OASE III 2026 diharapkan dapat memperluas ketertarikan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga terhadap bidang robotika, khususnya pengembangan robot transporter. Lebih dari sekadar mengikuti kompetisi, pengalaman ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya berbagai inovasi kreatif dan aplikatif yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Lomba Robotik OASE III 2026 menjadi salah satu wujud pengembangan kompetensi sains dan teknologi di lingkungan PTKIN. Melalui kompetisi ini, mahasiswa tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga mengasah kreativitas, kolaborasi, ketelitian, dan kemampuan memecahkan masalah. Semangat tersebut sejalan dengan upaya UIN Sunan Kalijaga dalam mendorong pengembangan keilmuan yang adaptif terhadap kemajuan teknologi serta berorientasi pada kemanfaatan yang lebih luas.
