ICAI 2026, Rokhmin Dahuri: Akuakultur Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi, Pangan, Farmasi, dan Energi

MONITOR, SEMARANG – Akuakultur atau budi daya perairan berpotensi menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, mulai dari memperkuat ketahanan pangan dan gizi hingga mendukung industri farmasi, energi, serta pengentasan kemiskinan. Namun, potensi tersebut hanya dapat diwujudkan jika pembangunan akuakultur tidak berhenti pada peningkatan produksi, melainkan mampu menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan pembudidaya.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., saat menjadi pembicara kunci dalam The 12th International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2026 di Hotel Tentrem, Semarang, 21–22 Oktober 2026.

“Akuakultur memiliki potensi untuk menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan dan gizi, ketahanan farmasi, ketahanan energi, hingga pengentasan kemiskinan,” ujar Rokhmin, yang juga anggota Komisi IV DPR RI dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.

Menurut Rokhmin, perkembangan akuakultur dunia menunjukkan perubahan penting dalam sistem produksi pangan akuatik. Mengutip laporan FAO The State of World Fisheries and Aquaculture 2026, ia menyebut produksi perikanan dan akuakultur global mencapai 235 juta ton pada 2024. Untuk pertama kalinya, akuakultur menyumbang 53 persen produksi hewan akuatik dunia, atau sekitar 103 juta ton.

- Advertisement -

Perkembangan tersebut memperlihatkan semakin strategisnya budi daya perairan dalam memenuhi kebutuhan pangan dunia. Bagi Indonesia, tren ini menjadi peluang untuk memperkuat posisi sebagai produsen sekaligus pengembang industri berbasis sumber daya akuatik.

Dari produksi komoditas menuju industri bernilai tambah

Rokhmin mengingatkan, peningkatan volume produksi tidak cukup dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan akuakultur. Persoalan produktivitas tradisional yang rendah, mahalnya pakan, penyakit ikan, dan terbatasnya akses permodalan masih menjadi tantangan bagi pembudidaya, terutama skala kecil.

“Ukuran sejati pembangunan akuakultur seharusnya bukan berapa banyak ton ikan dan udang yang kita produksi, tetapi seberapa efektif produksi itu meningkatkan kesejahteraan rakyat, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, dan menjaga ekosistem akuatik,” tegas Guru Besar IPB University tersebut.

Karena itu, ia mendorong transformasi akuakultur melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan integrasi industri. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), robotika, blockchain, serta bioteknologi dinilai dapat membuka peluang peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas hasil budi daya.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah rantai pasok yang belum terintegrasi. Komoditas seperti udang, ikan, rumput laut, dan kerang, menurut dia, perlu dikembangkan lebih jauh agar tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Udang, ikan, rumput laut, dan kerang jangan terus dijual mentah. Harus jadi produk bernilai tinggi: makanan siap saji, nutraseutikal, kosmetik, hingga bio-material ramah lingkungan,” jelasnya.

Rokhmin mencontohkan rumput laut yang dapat diolah menjadi agar, karagenan, alginat, dan bahan pangan fungsional. Pengembangan industri pengolahan semacam ini dapat memperbesar nilai tambah komoditas, memperluas kesempatan kerja, dan mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan baku.

Dengan demikian, agenda pengembangan akuakultur perlu mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari pembenihan, pakan, teknologi budi daya, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran. Integrasi tersebut juga perlu membuka ruang lebih besar bagi industri nasional dan usaha masyarakat untuk berkembang.

Modernisasi harus mengangkat pembudidaya kecil

Di tengah dorongan modernisasi, Rokhmin menekankan bahwa transformasi akuakultur tidak boleh mengorbankan pembudidaya kecil. Kemajuan teknologi dan ekspansi industri harus disertai kebijakan yang memperluas akses masyarakat terhadap pembiayaan, pasar, pengetahuan, dan kemitraan usaha.

“Modernisasi akuakultur tidak boleh menggusur petani kecil. Ia harus memberdayakan mereka,” ujarnya.

Ia mendorong penguatan koperasi, akses pembiayaan digital, asuransi, serta kemitraan yang adil antara pembudidaya dan perusahaan besar. Kontrak kerja sama yang transparan dan transfer teknologi juga diperlukan agar pembudidaya memperoleh manfaat yang sepadan dari pertumbuhan industri.

Selain itu, perempuan perlu diperkuat perannya dalam pengolahan dan pemasaran hasil akuakultur, sedangkan generasi muda didorong menjadi pelaku usaha berbasis teknologi digital.

Pendekatan tersebut penting agar peningkatan produksi tidak hanya meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi juga memperkuat pendapatan keluarga pembudidaya, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperluas kesempatan ekonomi di wilayah pesisir.

Produktivitas harus berjalan bersama kelestarian ekosistem

Rokhmin juga menekankan pentingnya pengembangan akuakultur berdasarkan daya dukung ekologis dan perencanaan tata ruang yang ilmiah. Perluasan usaha budi daya perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan agar peningkatan produksi tidak memicu kerusakan ekosistem perairan dan pesisir.

Ia mencontohkan pengintegrasian rehabilitasi mangrove dengan budi daya yang bertanggung jawab di wilayah pesisir Demak, Jawa Tengah. Menurutnya, produksi ekonomi dan pemulihan lingkungan dapat berjalan beriringan jika dirancang dengan tepat.

Pendekatan ini menjadi penting di tengah meningkatnya kebutuhan pangan dan tekanan terhadap sumber daya alam. Pengembangan akuakultur harus memastikan keberlanjutan kualitas air, kesehatan organisme budi daya, dan daya dukung lingkungan dalam jangka panjang.

Dalam penutup paparannya, Rokhmin menegaskan bahwa akuakultur perlu ditempatkan sebagai bagian strategis dari pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Keberhasilannya tidak cukup diukur melalui angka produksi, tetapi juga melalui kontribusi terhadap ketahanan pangan, lapangan kerja, keadilan sosial, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian ekosistem.

Dengan inovasi teknologi, hilirisasi industri, kemitraan yang adil, serta tata kelola lingkungan yang kuat, akuakultur berpeluang menjadi salah satu penggerak ekonomi biru Indonesia sekaligus memperkuat daya saing industri akuatik di pasar global.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER

BERITA TERKINI