EKONOMI

Rokhmin Dahuri: Ekonomi Biru Jadi Game Changer Indonesia Menuju 2045

MONITOR, Tanjungpinang – Indonesia dinilai memiliki modal strategis untuk memainkan peran lebih besar dalam ekonomi dunia melalui pengembangan ekonomi biru.

Dengan sekitar 77 persen wilayah Indonesia berupa laut dan samudera, sektor kelautan dinilai bukan lagi sekadar sumber daya ekonomi, melainkan bagian penting dari strategi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Pandangan tersebut disampaikan Guru Besar Kelautan dan Perikanan IPB University sekaligus anggota DPR RI Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS saat menjadi salah satu keynote speaker dalam The 6th Maritime Continent Fulcrum International Conference (MaCiFIC) 2026 di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Kamis (1/10/2026).

MaCiFIC 2026 mengangkat tema “Securing the Maritime Future: Advancing Smart Technology and Governance for a Resilient Blue Economy” dan berlangsung pada 1–2 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan akademisi, peneliti, praktisi, serta pemangku kepentingan dari Indonesia dan berbagai negara.

Dalam perspektif Rokhmin, posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan wilayah laut yang sangat luas memberikan keunggulan strategis yang belum sepenuhnya dikonversi menjadi kekuatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Ekonomi biru perlu ditempatkan sebagai paradigma pembangunan yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, keberlanjutan ekosistem, inovasi teknologi, serta tata kelola sumber daya laut,” katanya.

Ekonomi biru, menurut dia, tidak sebatas meningkatkan produksi perikanan tangkap maupun budidaya. Potensinya mencakup perikanan dan akuakultur, rumput laut, bioteknologi kelautan, energi laut, pariwisata bahari, jasa ekosistem, hingga berbagai produk bernilai tambah yang berbasis sumber daya hayati laut.

Laut Bukan Sekadar Sumber Daya

Rokhmin menilai paradigma pembangunan kelautan perlu bergeser dari pendekatan ekstraktif menuju pemanfaatan sumber daya yang menghasilkan nilai tambah sekaligus menjaga daya dukung ekosistem.

Dalam konteks tersebut, inovasi teknologi menjadi instrumen penting. Pemanfaatan kecerdasan buatan, teknologi digital, bioteknologi, sistem observasi laut, hingga teknologi produksi rendah karbon dapat meningkatkan produktivitas sekaligus membantu menjaga keberlanjutan sumber daya.

Gagasan tersebut sejalan dengan tema MaCiFIC 2026 yang menempatkan teknologi cerdas dan tata kelola sebagai dua instrumen penting dalam membangun ekonomi biru yang tangguh. Rektor UMRAH Prof. Dr. Agung Dhamar Syakti juga menekankan bahwa kesehatan laut berkaitan erat dengan regulasi iklim global, keanekaragaman hayati, dan keberlangsungan kehidupan manusia.

Menurut Rokhmin, tantangan terbesar bukan terletak pada ada atau tidaknya sumber daya laut, melainkan kemampuan Indonesia mengubah kekayaan tersebut menjadi nilai ekonomi, lapangan kerja, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir tanpa merusak ekosistem.

Karena itu, pembangunan ekonomi biru membutuhkan pendekatan lintas sektor dan lintas disiplin. Kebijakan kelautan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi harus terhubung dengan industri, energi, pangan, pendidikan, riset, teknologi, investasi, hingga pemberdayaan masyarakat pesisir.

Game Changer Indonesia Emas 2045

Rokhmin memandang ekonomi biru berpotensi menjadi game changer dalam perjalanan Indonesia menuju 2045 apabila dikelola melalui kebijakan yang konsisten, berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan tata kelola yang baik.

Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya menjadi produsen bahan mentah dari sektor kelautan. Tantangan berikutnya adalah membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir sehingga sumber daya laut menghasilkan produk dengan nilai tambah tinggi.

Rumput laut, misalnya, tidak hanya dapat diposisikan sebagai komoditas primer, tetapi dapat dikembangkan menjadi bahan pangan, hidrokoloid, bahan farmasi dan kosmetik, bioplastik, pakan, pupuk hayati, biostimulan, hingga berbagai biomaterial.

Demikian pula sektor perikanan dan akuakultur perlu dikembangkan bukan semata untuk mengejar volume produksi, tetapi menjadi industri pangan biru yang produktif, efisien, inklusif, berdaya saing, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Dengan pendekatan tersebut, ekonomi biru dapat menjadi titik temu antara kepentingan ekonomi dan kepentingan ekologis.

Dari Potensi Menjadi Kekuatan Ekonomi

Forum MaCiFIC 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif ilmiah dan kebijakan mengenai masa depan maritim. Selain Rokhmin, konferensi menghadirkan sejumlah keynote speaker internasional, antara lain Prof. Marina D. Sokolova dari Far Eastern State Technical Fisheries University, Laksdya TNI (Purn) Prof. Dr. Ir. Amarulla Octavian dari BRIN, serta Prof. Som Nath Sachdeva dari Kurukshetra University, India.

Konferensi juga membahas isu lingkungan dan rekayasa, oseanografi dan teknologi kelautan, konservasi keanekaragaman hayati, energi bersih dan terbarukan, infrastruktur berkelanjutan, tata kelola negara kepulauan, budaya maritim, serta keamanan dan geopolitik maritim.

Keragaman tema tersebut menunjukkan bahwa masa depan ekonomi biru tidak dapat dibangun hanya melalui satu sektor. Diperlukan integrasi antara teknologi, kebijakan, riset, investasi, industri, dan masyarakat.

Bagi Indonesia, tantangannya kini adalah mengubah posisi sebagai negara kepulauan dengan kekayaan laut yang besar menjadi negara maritim yang mampu menciptakan nilai tambah dari sumber daya tersebut.

Dengan wilayah laut yang luas, kekayaan biodiversitas, sumber daya perikanan, potensi energi, serta posisi strategis di kawasan Indo-Pasifik, ekonomi biru dapat menjadi salah satu fondasi penting bagi pembangunan Indonesia menuju 2045—dengan catatan pemanfaatannya tetap berada dalam batas daya dukung dan keberlanjutan ekosistem laut.

Recent Posts

Tinjau Peserta TIH, Menaker Minta Buktikan Keunggulan Produk

MONITOR, Bekasi — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta peserta Talent and Innovation Hub (TIH) memastikan…

8 jam yang lalu

Menjangkau Siberut Memperkuat Wirausaha Terdampak Bencana

MONITOR, Jakarta - Di tengah bentang Samudra Hindia, Pulau Siberut di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatra…

20 jam yang lalu

Guru Besar UIN Jakarta: Subkultur Pesantren Menjadi Identitas dalam Sistem Pendidikan Nasional

MONITOR - Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag., menegaskan bahwa…

1 hari yang lalu

Analis: Listyo Sigit di KSP Perkuat Perspektif Keamanan dalam Pengawalan Pembangunan

MONITOR, Jakarta - Perpindahan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dari posisi Kapolri ke Kepala Staf…

1 hari yang lalu

Panen Padi Temanggung Tembus 10,2 Ton/Ha, Komisi IV DPR dorong Pemupukan Berimbang

MONITOR, Temanggung - Produktivitas padi di demplot seluas 5 hektare di Desa Plosogaden, Kecamatan Candiroto,…

1 hari yang lalu

Kemenhaj–Kemendagri Padankan Data Jemaah Haji, Pastikan Antrean Lebih Akurat

MONITOR, Jakarta - Dalam upaya meningkatkan akurasi, transparansi, dan kualitas pelayanan ibadah haji, Menteri bersama…

1 hari yang lalu