PEMERINTAHAN

Wamen UMKM Ungkap Tiga Kunci UMKM Indonesia Tembus Pasar Global

MONITOR, Jakarta – Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza menegaskan tiga aspek utama yang perlu diperkuat pengusaha UMKM agar mampu naik kelas dan menembus pasar global, yakni pemanfaatan teknologi, penguatan kemitraan, dan perluasan akses pasar.

Hal tersebut disampaikan Wamen UMKM Helvi dalam webinar RRI Fest 2026 bertema “Saatnya Menembus Pasar Global” yang diselenggarakan LPP RRI bersama Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS), Kamis (3/9).

Menurut Helvi, ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun daya saing UMKM. Teknologi berperan meningkatkan produktivitas dan inovasi, kemitraan memperkuat skala usaha, standardisasi, dan keterhubungan dengan rantai pasok, sedangkan akses pasar mempertemukan produk UMKM dengan konsumen dan pembeli yang lebih luas.

“Digitalisasi harus bergerak dari sekadar go online menjadi go productive. Teknologi harus digunakan untuk meningkatkan efisiensi produksi, mengelola keuangan dan persediaan, membaca kebutuhan konsumen, hingga menciptakan inovasi,” kata Helvi.

Ia menekankan bahwa transformasi digital perlu menghasilkan dampak nyata terhadap kinerja usaha. Dengan pemanfaatan teknologi yang tepat, pengusaha UMKM tidak hanya memperoleh kanal pemasaran baru, tetapi juga dapat meningkatkan efisiensi, memperbaiki pengelolaan usaha, dan memperkuat kemampuan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan pasar.

Selain teknologi, Helvi mendorong pengusaha UMKM memperluas kemitraan dengan usaha besar, badan usaha milik negara (BUMN), lembaga pembiayaan, distributor, pembeli, platform digital, maupun perguruan tinggi.

Kemitraan tersebut dinilai penting untuk memperluas akses UMKM terhadap teknologi, pembiayaan, pengetahuan, standardisasi, serta rantai pasok sehingga pengusaha memiliki fondasi yang lebih kuat untuk meningkatkan skala usahanya.

“Pengusaha UMKM tidak bisa tumbuh sendiri. Kemitraan menjadi penting untuk memperkuat kapasitas usaha sekaligus membuka akses terhadap teknologi, pembiayaan, pengetahuan, standardisasi, dan rantai pasok,” ujarnya.

Di sisi pasar, peluang bagi produk UMKM Indonesia untuk berekspansi semakin terbuka. Data Kementerian Perdagangan mencatat transaksi business matching UMKM dengan pembeli internasional mencapai sekitar 57,61 juta dolar AS sepanjang Januari–April 2025 melalui 246 kegiatan business matching.

Peluang tersebut turut ditopang perkembangan ekonomi digital Indonesia. Berdasarkan laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company pada November 2025, nilai gross merchandise value (GMV) ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 99 miliar dolar AS pada 2025, dengan perdagangan elektronik (e-commerce) menjadi kontributor terbesar senilai sekitar 71 miliar dolar AS.

Potensi ekspor juga terlihat dari sektor ekonomi kreatif. Berdasarkan data Kementerian Ekonomi Kreatif pada 2026, subsektor fesyen menyumbang sekitar 58,55 persen dari total ekspor barang ekonomi kreatif Indonesia sepanjang Januari–April 2026.

Selain ekonomi digital dan industri kreatif, pasar halal global menjadi ruang pertumbuhan yang dapat dimanfaatkan pengusaha UMKM Indonesia. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2024/25 dari DinarStandard, belanja konsumen Muslim pada enam sektor ekonomi riil mencapai 2,43 triliun dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi 3,36 triliun dolar AS pada 2028.

Menurut Helvi, besarnya peluang tersebut perlu direspons dengan peningkatan kesiapan pengusaha UMKM, mulai dari kualitas produk, pemenuhan standar dan sertifikasi, desain dan kemasan, penguatan merek, hingga kapasitas produksi dan kontinuitas pasokan.

“Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi UMKM di pasar global, termasuk melalui ekonomi digital dan pasar halal. Namun, peluang tersebut harus diikuti dengan peningkatan kualitas produk, sertifikasi, desain, kemasan, merek, kapasitas produksi, serta kontinuitas pasokan,” katanya.

Untuk membantu pengusaha UMKM memanfaatkan berbagai peluang tersebut, Kementerian UMKM terus memperkuat ekosistem pengembangan usaha melalui pendampingan, standardisasi dan sertifikasi, pembiayaan, kemitraan, perluasan akses pasar, serta digitalisasi layanan.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui SAPA UMKM sebagai platform layanan terpadu Kementerian UMKM yang memudahkan pengusaha UMKM memperoleh informasi dan mengakses berbagai layanan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Penguatan ekosistem tersebut diarahkan agar semakin banyak pengusaha UMKM memiliki kesiapan untuk meningkatkan skala usaha sekaligus terhubung dengan rantai pasok dan pasar yang lebih luas.

“Kita ingin UMKM Indonesia bukan hanya menjadi penonton dalam pertumbuhan ekonomi global, tetapi menjadi bagian dari rantai nilai global. Karena itu, kami terus mendorong agar pengusaha UMKM memiliki kapasitas, kualitas, dan kesiapan untuk masuk ke pasar yang lebih luas,” ujar Helvi.

Wamen UMKM juga mengapresiasi kolaborasi LPP RRI dan GEKRAFS yang menghadirkan ruang bagi pengusaha UMKM untuk memperoleh informasi, memperluas jejaring, serta menemukan peluang pasar baru.

Menurutnya, keberanian membuka pasar perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas usaha agar produk UMKM Indonesia mampu bersaing secara berkelanjutan, baik di pasar domestik maupun internasional.

“Kami mengajak seluruh pengusaha UMKM untuk terus meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan teknologi, membangun kemitraan, dan aktif menjemput peluang. Jangan hanya menunggu pasar datang, tetapi kita harus berani mencari dan membuka pasar baru, termasuk pasar global,” kata Helvi.

Recent Posts

Menaker Terima Audiensi Koalisi Buruh, Bahas RUU Pelindungan Ketenagakerjaan

MONITOR, Jakarta - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menerima audiensi Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia (KBPBI)…

7 jam yang lalu

Banpres Pemulihan Usaha Jangkau Para Pengusaha Mikro Terdampak Bencana di Sumbar

MONITOR, Padang - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menyiapkan Bantuan Presiden (Banpres) rehabilitasi…

7 jam yang lalu

Dari Akuakultur hingga Bioteknologi, Prof Rokhmin tegaskan Laut Bisa jadi Mesin Indonesia Emas 2045

MONITOR, Surabaya - Indonesia tidak kekurangan sumber daya untuk menjadi negara maju. Persoalannya justru terletak…

18 jam yang lalu

IPW Desak Polri Usut Aktor Intelektual Provokator di Balik Kerusuhan Demo DPR

MONITOR, Jakarta – Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, mendesak aparat kepolisian untuk…

22 jam yang lalu

Kemenag Buka Pengajuan Bantuan Pendidikan Pesantren, Batas Akhir 4 September 2026

MONITOR, Jakarta - Direktorat Pesantren Kemenag telah membuka pengajuan bantuan Pendidikan Pesantren dan Pendidikan Keagamaan…

1 hari yang lalu

Alih Generasi dan Tantangan Sensus Pertanian, HKTI Lumajang Dorong Transformasi Smart Farming

MONITOR, Lumajang - Penurunan jumlah usaha pertanian di Kabupaten Lumajang dalam beberapa tahun terakhir menjadi…

1 hari yang lalu