Anggota Komisi II DPR RI, Muhammad Khozin. (dok: dpr)
MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi II DPR RI, Muhammad Khozin menyoroti data terbaru dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengenai jumlah pemilih dalam Pemilu 2029 mendatang yang didominasi generasi milenial dan Gen Z. Dengan data tersebut, Khozin menilai Pemilu 2029 memerlukan regulasi yang adaptif dan berbasis digital.
Menurut Khozin, data pemilih yang dirilis KPU harus dibaca secara seksama. Terutama dalam Negara menyiapkan perangkat aturan yang adaptif untuk pemilih.
“Mayoritas pemilih berasal dari kalangan muda yang sehari-harinya bersama digital. Medan tempur Pemilu 2029 akan terjadi di ruang digital. Ini harus dibaca secara kritis oleh seluruh pemangku kepentingan,” kata Khozin, Senin (27/7/2026).
Seperti diketahui, KPU merilis data pemilih dalam Pemilu 2029 yang berjumlah 214,3 juta orang. Dari data itu, pemilih Pemilu 2029 diketahui didominasi generasi muda dengan komposisi generasi milineal sebesar 32,13% dan pemilih generasi Z sebesar 24,56%.
Terkait hal ini, Khozin mendorong kementerian/lembaga Pemerintah yang membidangi urusan digital mesti melakukan koordinasi secara intensif dengan DPR dan penyelenggara pemilu untuk merancang aturan main pemilu yang adaptif dengan digital.
“Seperti hingga saat ini, Indonesia belum memiliki pengaturan tentang artificial inteligence (AI). Padahal, AI telah membanjiri media digital kita,” tutur Legislator dari Dapil Jawat Timur IV itu.
Khozin khawatir bila persoalan AI atau kecerdasan buatan tidak diatur secara rigid, hal tersebut akan menjadi persoalan serius dalam Pemilu 2029.
“Harus diatur soal AI dalam Pemilu. Pemilu 2029 akan berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya, pertarungan narasi politik mayoritas akan berada di ruang digital karena mayoritas pemilih berada di ruang digital. Ini yang harus diantisipasi,” ungkap Khozin.
Anggota Komisi di DPR yang membidangi urusan Pemerintahan dan Pemilu ini mengingatkan potensi dampak negatif dari keberadaan digital dalam pemilu. Menurut Khozin, potensi seperti itu harus dikalkulasi agar persoalan dapat dikelola lebih antisipatif.
“Potensi persoalan dalam pemilu akibat kemajuan digital ini harus dimitigasi sejak dini,” tegas politisi PKB tersebut.
Di sisi lain, Khozin menyambut positif komposisi pemilih yang didominasi oleh pemilih dari kalangan muda yang melek digital. Ia menilai, karakter pemilih ini cenderung kritis, cerdas, dan melek politik.
“Dominasi pemilih muda akan berpeluang dalam meingkakan literasi politik dan penguatan demokrasi kita,” tutup Khozin.
MONITOR, Jakarta - Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI, Daniel Johan geram dengan praktik kasus korupsi…
MONITOR, Kuta — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran perguruan…
MONITOR, Palu - Kontestasi menuju Muktamar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat di berbagai…
MONITOR, Jakarta – Politisi PDI Perjuangan asal Aceh, Masady Manggeng, mendesak Menteri Energi dan Sumber…
MONITOR, Denpasar - Menteri Haji dan Umrah Mochammad Irfan Yusuf menegaskan evaluasi penyelenggaraan ibadah haji…