MONITOR, Brebes – Ratusan peserta didik baru SMP NU dan SMA NU Al Fattah Tegalgandu mengikuti kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) Raya yang diselenggarakan oleh Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di lingkungan Yayasan Al Fattah Tegalgandu.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) ini berlangsung selama dua hari, Ahad–Senin, 19–20 Juli 2026, dengan menghadirkan sejumlah narasumber yang memberikan materi secara intensif.
Salah satu materi utama yang disampaikan adalah Ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan Tradisi Nahdlatul Ulama, yang dibawakan oleh Sekretaris MWC NU Wanasari, Akhmad Sururi.
Dalam paparannya di hadapan peserta yang terbagi dalam dua kelas, Sururi menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah, yaitu manhaj keagamaan yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, para sahabat, serta ijma’ dan pandangan para ulama.
Menurutnya, identitas warga Nahdliyin tidak dapat dipisahkan dari tradisi keagamaan yang telah diwariskan para ulama dan memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an, hadis, serta pendapat para ulama muktabar.
“Sebagai orang NU, kita tidak bisa dilepaskan dari tradisi-tradisi keagamaan yang semuanya memiliki dasar syariat. Sejak seseorang masih dalam kandungan telah didoakan melalui walimatul hamli. Ketika lahir disyukuri dengan walimah kelahiran, kemudian walimatul asma saat pemberian nama, hingga berbagai fase kehidupan lainnya selalu diiringi doa dan rasa syukur kepada Allah SWT,” ujar Sururi.
Ia menambahkan, bagi anak laki-laki terdapat tradisi walimatul khitan, kemudian ketika menikah dilaksanakan walimatul ursy sebagai ungkapan syukur atas akad pernikahan. Demikian pula ketika seseorang meninggal dunia, masyarakat NU memiliki tradisi tahlil, doa bersama tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, hingga haul tahunan sebagai bentuk penghormatan sekaligus ikhtiar mendoakan almarhum.
Sururi menegaskan bahwa seluruh tradisi tersebut bukan sekadar budaya, melainkan merupakan ekspresi nilai-nilai Islam yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Nusantara berdasarkan dalil-dalil syariat serta bimbingan para ulama.
Ia juga mengingatkan pentingnya memperkuat pemahaman Aswaja bagi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali menghadirkan berbagai pemahaman keagamaan yang tidak memiliki dasar keilmuan yang kuat.
“Sebagai kader NU yang menempuh pendidikan di lingkungan NU, kalian harus memiliki pemahaman yang benar tentang Aswaja. Memilih belajar di SMP NU dan SMA NU Al Fattah merupakan langkah tepat untuk memperkuat jati diri sebagai generasi Nahdliyin. Di era media sosial saat ini, banyak sekali informasi keagamaan yang menyesatkan,” tuturnya.
“Karena itu, pemahaman Aswaja menjadi benteng agar kita tetap berada di jalan yang benar sebagaimana diajarkan para ulama. Nahdlatul Ulama yang didirikan para ulama pesantren pada tahun 1926 hadir untuk menjaga kemurnian ajaran Islam yang moderat, toleran, dan berlandaskan tradisi keilmuan,” tegas alumni Pondok Pesantren Lirboyo angkatan 2000 tersebut.
Lebih lanjut, Sururi menjelaskan bahwa pendidikan di bawah naungan Yayasan Al Fattah Tegalgandu tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga menanamkan penguatan akidah, ibadah, akhlak, serta pembiasaan tradisi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan adab agar mampu melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlakul karimah.
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, lanjutnya, nilai-nilai Islam moderat yang menjadi karakter Aswaja harus tercermin dalam sikap toleran, menghargai perbedaan, serta menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Suasana Makesta Raya semakin semarak ketika Sururi menutup sesi materi dengan mengajak seluruh peserta menyanyikan yel-yel dan tepuk semangat khas IPNU-IPPNU. Ratusan peserta mengikuti setiap aba-aba dengan penuh antusias, menciptakan suasana yang hangat, kompak, dan penuh semangat kebersamaan.
Melalui Makesta Raya ini, Yayasan Al Fattah Tegalgandu berharap para peserta didik baru tidak hanya mengenal lingkungan sekolah, tetapi juga memiliki fondasi ideologi Aswaja yang kokoh, memahami tradisi keagamaan Nahdlatul Ulama secara benar, serta tumbuh menjadi pelajar yang berilmu, berakhlak, dan siap menjadi penerus perjuangan ulama dalam menjaga Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
