dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK
Menjalin Ukhuwah, Menggapai Barokah, Menjemput Maghfiroh, Menuju Jannah
Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih mempertemukan kita dengan pergantian waktu dan musim kehidupan. Tidak terasa, Tahun Baru Islam 1448 Hijriah tinggal menghitung hari. Bagi sebagian orang, pergantian tahun hanyalah perubahan angka pada kalender. Namun, bagi seorang mukmin, terutama bagi jamaah dan pengurus DKM Jabal Nur Al Islamiyah, datangnya tahun baru hijriah merupakan momentum untuk melakukan muhasabah, introspeksi, dan pembaruan niat dalam menempuh perjalanan menuju Allah SWT.
Hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah perjalanan jiwa dari kegelapan menuju cahaya, dari perpecahan menuju persatuan, dari kebencian menuju kasih sayang, dan dari ego menuju ketundukan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, ketika menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, yang paling penting bukanlah seberapa meriah peringatannya, melainkan sejauh mana kita mampu memperbaiki diri dan memperkuat ukhuwah dalam kehidupan bermasyarakat.
Moto DKM Jabal Nur Al Islamiyah, “Menjalin Ukhuwah, Menggapai Barokah, Menjemput Maghfiroh, Menuju Jannah”, sejatinya merupakan jalan ruhani yang sangat mendalam. Ukhuwah menjadi fondasi utama karena Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan individual, tetapi juga kesalehan sosial. Seorang muslim tidak hanya dituntut baik hubungannya dengan Allah SWT, tetapi juga baik hubungannya dengan sesama manusia.
Dalam pandangan para ulama tasawuf, hati manusia ibarat cermin. Jika dipenuhi rasa iri, dengki, sombong, dan kebencian, maka cahaya Allah sulit memancar ke dalamnya. Sebaliknya, ketika hati dipenuhi cinta, kasih sayang, dan persaudaraan, hati akan menjadi bersih dan mampu menerima cahaya petunjuk dari Allah SWT.
Karena itulah, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat menunaikan shalat. Masjid juga menjadi tempat bertemunya hati-hati yang mengharap ridha Allah SWT. Masjid adalah rumah bersama bagi seluruh umat Islam tanpa memandang latar belakang organisasi, kelompok, profesi, maupun tingkat pendidikan. Semua datang dengan tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT dan memperbaiki diri.
Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, jamaah dan pengurus DKM Jabal Nur Al Islamiyah diharapkan semakin menyadari bahwa persatuan umat merupakan amanah besar yang harus dijaga bersama. Jangan sampai perbedaan yang sejatinya merupakan rahmat justru berubah menjadi sumber perselisihan yang merugikan semua pihak.
Menjaga Ukhuwah dan Menghindari Ego Pribadi maupun Kelompok
Dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perbedaan pendapat, cara pandang, maupun metode dalam memahami suatu persoalan merupakan bagian dari sunnatullah. Yang menjadi persoalan bukanlah adanya perbedaan itu sendiri, melainkan bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut.
Islam mengajarkan prinsip wasathiyah, yaitu sikap moderat, seimbang, dan adil. Islam Wasathiyah mengajak umat untuk tidak bersikap ekstrem, baik dalam pemikiran maupun tindakan. Sikap ini melahirkan pribadi yang mampu menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar agamanya.
Di tengah kehidupan umat, terkadang muncul kecenderungan untuk lebih mengutamakan identitas kelompok daripada kepentingan umat secara keseluruhan. Ada yang merasa kelompoknya paling benar, organisasinya paling berjasa, atau pemahamannya paling sempurna. Ketika sikap seperti ini tumbuh, maka secara perlahan ukhuwah akan melemah.
Para ulama sufi menyebut ego sebagai salah satu hijab atau penghalang terbesar antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ego membuat seseorang sulit menerima nasihat, enggan menghargai orang lain, dan selalu ingin menang dalam setiap perdebatan. Padahal, Allah SWT lebih mencintai orang-orang yang rendah hati daripada mereka yang sibuk membanggakan dirinya.
Karena itu, menjelang Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, seluruh jamaah dan pengurus DKM Jabal Nur Al Islamiyah perlu memperbarui komitmen untuk mengedepankan kepentingan umat di atas kepentingan golongan. Apa pun latar belakang kita, semua adalah saudara dalam ikatan iman.
Masjid harus menjadi ruang yang nyaman bagi seluruh kalangan. Anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua harus merasakan bahwa masjid adalah rumah mereka. Mereka yang baru belajar agama perlu diterima dengan penuh kelembutan, sementara mereka yang memiliki pandangan berbeda harus diajak berdialog dengan hikmah dan kebijaksanaan.
Pengurus masjid hendaknya menjadi teladan dalam bersikap terbuka, bijaksana, dan merangkul seluruh jamaah. Sebaliknya, jamaah juga perlu mendukung setiap program masjid dengan semangat kebersamaan. Hubungan antara pengurus dan jamaah bukanlah hubungan atasan dan bawahan, melainkan hubungan persaudaraan yang dilandasi niat ibadah kepada Allah SWT.
Apabila semangat kebersamaan tumbuh dan terpelihara, masjid akan menjadi pusat peradaban yang melahirkan generasi berakhlak mulia, masyarakat yang harmonis, serta lingkungan yang penuh keberkahan.
Menggapai Barokah, Menjemput Maghfiroh, Menuju Jannah
Dalam perjalanan kehidupan, setiap manusia tentu menginginkan keberhasilan dan kebahagiaan. Namun, dalam pandangan Islam, keberhasilan tidak hanya diukur dari banyaknya harta, jabatan, atau popularitas. Keberhasilan sejati adalah ketika hidup dipenuhi keberkahan dari Allah SWT.
Barokah berarti bertambahnya kebaikan yang dirasakan dalam kehidupan. Terkadang sesuatu terlihat sedikit secara materi, tetapi memberikan manfaat yang besar karena di dalamnya terdapat keberkahan. Sebaliknya, sesuatu yang tampak banyak belum tentu membawa ketenangan apabila kehilangan barokah.
Keberkahan sering lahir dari hubungan yang baik antarsesama. Ketika jamaah saling menghormati, pengurus bekerja dengan ikhlas, dan masyarakat saling membantu dalam kebaikan, maka Allah SWT akan menurunkan keberkahan-Nya kepada lingkungan tersebut.
Setelah barokah, tujuan berikutnya adalah memperoleh maghfiroh atau ampunan Allah SWT. Setiap manusia pasti memiliki kesalahan dan kekurangan. Tidak ada seorang pun yang sempurna. Oleh sebab itu, memasuki tahun baru hijriah hendaknya menjadi kesempatan untuk saling memaafkan dan membuka lembaran baru yang lebih baik.
Mungkin ada kata-kata yang pernah menyakiti. Mungkin ada keputusan yang menimbulkan ketidaknyamanan. Mungkin pula ada kesalahpahaman yang belum terselesaikan. Semua itu hendaknya disikapi dengan hati yang lapang dan niat untuk memperbaiki keadaan. Sebab Allah SWT mencintai orang-orang yang memaafkan dan mendamaikan saudaranya.
Para ulama tasawuf mengajarkan bahwa salah satu tanda hati yang dekat dengan Allah SWT adalah mudah memaafkan kesalahan orang lain. Orang yang dekat dengan Allah tidak sibuk mencari kekurangan saudaranya, melainkan sibuk memperbaiki kekurangan dirinya sendiri. Ia lebih senang membangun daripada meruntuhkan, lebih suka menyatukan daripada memecah belah.
Akhir dari seluruh perjalanan ini adalah menuju jannah, surga yang dijanjikan Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Jalan menuju surga tidak hanya ditempuh melalui banyaknya ibadah ritual, tetapi juga melalui akhlak yang mulia, kasih sayang kepada sesama, serta kemampuan menjaga persaudaraan.
Karena itu, menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H, marilah seluruh jamaah dan pengurus DKM Jabal Nur Al Islamiyah menjadikan momentum ini sebagai hijrah bersama: hijrah dari perpecahan menuju persatuan, dari prasangka menuju husnuzan, dari ego kelompok menuju kepentingan umat, dan dari budaya saling menyalahkan menuju semangat saling menguatkan.
Semoga Allah SWT senantiasa mempersatukan hati kita dalam ikatan ukhuwah Islamiyah, melimpahkan keberkahan dalam setiap langkah, mengampuni segala dosa dan kekhilafan kita, serta membimbing kita menuju surga-Nya yang penuh kenikmatan.
Dengan semangat “Menjalin Ukhuwah, Menggapai Barokah, Menjemput Maghfiroh, Menuju Jannah”, mari kita songsong Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H dengan hati yang lebih bersih, jiwa yang lebih tenang, serta tekad yang lebih kuat untuk membangun persatuan umat dalam bingkai Islam Wasathiyah yang rahmatan lil ‘alamin.
*Penulis Adalah Jamaah Masjid Jabal Nur Al-Islamiyah, Cibeber, Cimahi dan Juga Ketua LKNU Kabupaten Lebak
MONITOR, Malang - Wakil Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengunjungi rumah…
MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini berharap Pemerintah segera merealisasikan…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi VIII DPR RI, KH Maman Imanulhaq menyoroti banyaknya temuan terkait…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyoroti kondisi keuangan BPJS…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan meminta Pemerintah mengantisipasi meluasnya kebakaran…
MONITOR, Brebes - Dosen Sekolah Pascasarjana sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu…