Buya Satria Efendi Tuanku Kuniang (Wakil ketua PCNU Padang Pariaman)
Buya Satria Efendi Tuanku Kuniang
(Wakil ketua PCNU Padang Pariaman)
Nahdlatul Ulama (NU) sedang berada di sebuah persimpangan sejarah yang tidak sederhana. Setelah melewati satu abad perjalanan, NU tidak lagi hanya dituntut menjadi penjaga tradisi, pengawal pesantren, atau rumah besar kaum nahdliyin.
Di abad keduanya, NU sedang dipanggil untuk memasuki ruang yang lebih luas: menjadi kekuatan moral, intelektual, sosial, dan peradaban.
Transisi NU hari ini bukan sekadar pergantian generasi. Ia jauh lebih dalam dari itu. Ini adalah pergeseran zaman. Dari era khidmah kultural menuju era kepemimpinan global. Dari organisasi massa keagamaan menuju kekuatan peradaban. Dari sekadar merawat warisan para masyayikh menuju keberanian membaca masa depan.
Di titik transisi semacam inilah, nama Gus Hery Haryanto Azumi menarik untuk diperhatikan.
Bagi saya, Gus Hery bukan sosok yang hadir tiba-tiba dalam percakapan ke-NU-an. Ia bukan figur yang baru belajar membaca denyut organisasi ketika namanya mulai disebut dalam ruang-ruang kepemimpinan. Perjalanannya panjang. Ia tumbuh dari dunia aktivis, ditempa oleh pergulatan kaderisasi, dibentuk oleh diskusi, perdebatan, pengorganisasian, serta kerja-kerja lapangan yang tidak selalu tampak di permukaan.
Salah satu fase penting dalam perjalanan itu adalah ketika Gus Hery dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PB PMII. Posisi itu tentu bukan sekadar jabatan organisasi mahasiswa. PMII adalah salah satu kawah candradimuka kader-kader muda NU.
Dari ruang itulah banyak aktivis belajar memahami umat, membaca negara, mengelola perbedaan, dan menyiapkan diri untuk memasuki gelanggang kebangsaan yang lebih luas.
Menjadi Ketua Umum PB PMII berarti pernah berada di tengah simpul besar pergerakan mahasiswa nahdliyin. Ia harus berhadapan dengan dinamika kader dari berbagai daerah, keragaman cara berpikir, perbedaan kepentingan, sekaligus tuntutan untuk menjaga arah organisasi.
Dari sana, seseorang tidak hanya belajar berbicara. Ia belajar mendengar. Tidak hanya belajar memimpin. Ia belajar menanggung beban. Jejak aktivisme semacam itu penting untuk dibaca. Sebab kepemimpinan NU tidak cukup hanya ditopang oleh popularitas atau kedekatan dengan struktur.
NU terlalu besar jika hanya didekati dengan cara-cara administratif. Ia membutuhkan sosok yang memahami denyut kader, mengenal kultur pesantren, mengerti bahasa aktivis, dan mampu menjahit berbagai kepentingan tanpa kehilangan kejernihan sikap.
Dalam hal itu, Gus Hery memiliki modal yang tidak kecil. Ia adalah intelektual muda NU yang memiliki daya pikir kuat, jejaring luas, dan cara bicara yang teduh. Ia tidak hadir dengan suara gaduh. Tidak pula membawa gaya kepemimpinan yang gemar menepuk dada. Namun dari cara ia memandang persoalan, terasa ada kedalaman yang tidak dibuat-buat.
NU membutuhkan sosok-sosok seperti itu dalam masa transisinya. Sebab abad kedua NU tidak bisa dijawab hanya dengan romantisme sejarah. Kita tentu harus menjaga warisan ulama, pesantren, kitab kuning, tahlil, bahtsul masail, dan seluruh kekayaan tradisi ahlussunnah wal jamaah. Tetapi menjaga tradisi tidak berarti berhenti bergerak. Tradisi justru akan hidup jika ia mampu berdialog dengan zaman.
Tantangan NU hari ini sudah berubah. Lawan zaman tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasatmata. Ia bisa berupa algoritma, ketimpangan ekonomi, krisis moral, disrupsi teknologi, polarisasi politik, kemiskinan struktural, hingga penjajahan cara berpikir. Dunia bergerak cepat, sementara umat sering kali masih dipaksa bertahan dalam persoalan-persoalan dasar.
Di sinilah transisi NU menjadi penting. NU harus tetap menjadi jangkar moral masyarakat, tetapi pada saat yang sama harus mampu menjadi navigator masa depan. Ia harus menjaga akar pesantren, namun pikirannya mesti sanggup menembus percakapan global. Ia harus tetap teduh dalam wajah keislaman, tetapi berani dalam merumuskan arah peradaban.
Gus Hery, dalam pandangan saya, memiliki sensitivitas terhadap kebutuhan zaman itu. Ia memahami bahwa NU tidak cukup hanya besar secara jumlah. NU harus besar secara gagasan. Tidak cukup hanya kuat secara struktur. NU harus kuat secara arah. Tidak cukup hanya memiliki massa. NU harus mampu melahirkan pemikiran, kebijakan, kader, dan ekosistem perubahan.
Pengalamannya sebagai aktivis, terutama saat memimpin PB PMII, memberi warna tersendiri pada cara pandangnya. Ia memahami bahwa kaderisasi bukan sekadar urusan formal organisasi. Kaderisasi adalah proses membentuk manusia: membentuk keberanian, kepekaan sosial, keluasan bacaan, dan kesediaan berkhidmah. Dari rahim pergerakan itulah, Gus Hery belajar bahwa gagasan besar hanya bermakna jika sanggup menyentuh kehidupan umat.
Kekuatan Gus Hery terletak pada kemampuannya menjembatani banyak ruang. Ia berasal dari rahim santri, tumbuh dalam tradisi pergerakan, dan memiliki jejaring lintas sektor. Ia dapat berbicara dengan aktivis, ulama, intelektual, pengusaha, hingga jejaring internasional tanpa kehilangan adab santri. Ini bukan kemampuan kecil. Dalam masa transisi, NU membutuhkan figur yang bisa menjadi jembatan, bukan sekadar pengeras suara.
Karena transisi NU tidak boleh melahirkan keterputusan. Yang muda tidak boleh memutus mata rantai dengan yang tua. Yang modern tidak boleh meremehkan yang tradisional. Yang global tidak boleh tercerabut dari pesantren. Yang strategis tidak boleh kehilangan ruh keikhlasan. NU harus bergerak maju tanpa kehilangan wajah teduhnya.
Gus Hery seperti mewakili kemungkinan itu: santri yang berpikir kosmopolit, aktivis yang tidak kehilangan keheningan batin, intelektual yang tidak berjarak dari masyarakat, dan kader NU yang melihat organisasi ini bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai amanah masa depan.
Dalam transisi NU, kita membutuhkan kepemimpinan yang tidak sekadar administratif. NU terlalu besar jika hanya dikelola seperti mesin organisasi biasa. NU adalah samudra sosial, kultural, spiritual, dan politik kebangsaan. Maka pemimpinnya harus mampu membaca arus bawah, memahami denyut umat, menjaga marwah ulama, sekaligus berani membawa NU masuk ke gelanggang dunia.
Pertanyaannya bukan hanya siapa yang akan memimpin NU. Pertanyaan yang lebih besar adalah: NU akan dibawa ke mana?
Apakah NU hanya akan menjadi kekuatan domestik yang sibuk mengurus dinamika internal? Ataukah NU akan tampil sebagai pusat etika global, suara Islam yang teduh, dan kekuatan peradaban yang mampu menjawab krisis dunia modern?
Di tengah pertanyaan besar itu, gagasan tentang NU sebagai lokomotif peradaban dunia terasa semakin relevan. Dunia hari ini membutuhkan Islam yang tidak marah pada kemajuan, tetapi juga tidak tunduk membabi buta pada modernitas. Dunia membutuhkan agama yang tidak menjadi sumber ketakutan, melainkan sumber kebijaksanaan. Dan NU memiliki modal historis, kultural, serta spiritual untuk mengambil peran itu.
Namun modal besar tidak akan berarti tanpa kepemimpinan yang tepat. Abad kedua NU memerlukan kader yang mampu memadukan tiga hal: kedalaman tradisi, kecerdasan membaca zaman, dan keluasan jejaring. Tanpa itu, NU bisa besar secara nama, tetapi lambat dalam gerak. Bisa kuat secara jumlah, tetapi kurang tajam dalam pengaruh.
Gus Hery hadir dalam percakapan ini bukan semata sebagai nama dalam bursa kepemimpinan. Ia hadir sebagai simbol kemungkinan baru: bahwa kader NU masa depan harus mampu berpikir lintas batas, bergerak lintas jejaring, dan tetap berbicara dengan bahasa yang teduh.
Perjalanan panjangnya di dunia aktivis, terutama melalui PMII, menjadikannya tidak asing dengan dinamika akar rumput. Ia tahu bahwa organisasi tidak hanya hidup di atas kertas keputusan. Organisasi hidup dalam denyut kader, dalam obrolan warung kopi, dalam forum diskusi, dalam kegelisahan mahasiswa, dalam suara pesantren, dan dalam harapan masyarakat kecil yang sering kali tidak masuk dalam pidato-pidato besar.
Sebab NU tidak boleh kehilangan keteduhan. Itulah kekuatan utamanya. Di tengah dunia yang kasar, NU harus tetap halus. Di tengah politik yang bising, NU harus tetap jernih. Di tengah modernitas yang sering kehilangan ruh, NU harus tetap membawa adab.
Transisi NU bukan sekadar pergantian orang. Ia adalah ujian kedewasaan sejarah. Apakah NU mampu menjaga warisan sambil menciptakan masa depan? Apakah NU mampu tetap menjadi rumah umat, sekaligus menjadi mercusuar peradaban? Apakah NU mampu melahirkan pemimpin yang tidak hanya mengerti struktur, tetapi juga mengerti jiwa zaman? Saya melihat Gus Hery sebagai salah satu figur yang layak dibaca dalam kerangka itu.
Bukan karena ia paling keras bersuara. Bukan karena ia paling rajin menampilkan diri. Tetapi karena dalam dirinya ada kombinasi yang jarang: pikiran yang kuat, tutur yang teduh, akar santri yang kokoh, pengalaman aktivisme yang panjang, dan jejaring yang menembus banyak ruang.
Pada akhirnya, sejarah NU selalu bergerak melalui orang-orang yang mengerti khidmah. Bukan sekadar ingin memimpin, tetapi sanggup memikul amanah. Bukan sekadar ingin dikenal, tetapi bersedia bekerja dalam sunyi. Bukan sekadar bicara tentang umat, tetapi menjadikan umat sebagai pusat pengabdian.
Dan dalam masa transisi NU menuju abad keduanya, kita membutuhkan lebih banyak sosok seperti itu.
Sosok yang tidak hanya bertanya bagaimana NU bertahan, tetapi berani membayangkan bagaimana NU memimpin. Sosok yang tidak hanya menjaga masa lalu, tetapi menyiapkan jalan bagi masa depan. Sosok yang teduh dalam bicara, kuat dalam berpikir, panjang dalam pengalaman, dan luas dalam merajut jejaring.
Di situlah, menurut saya, Gus Hery menemukan relevansinya: bukan hanya sebagai nama dalam percakapan kepemimpinan NU, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar membaca masa depan NU dengan kepala yang jernih dan hati yang tetap santri.
MONITOR, Jakarta – Pasar keuangan domestik dihantam gelombang tekanan jual masif pada awal pekan ini.…
MONITOR, Tangerang — Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf menegaskan bahwa berakhirnya puncak ibadah…
SuwendiDosen Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Fenomena kekerasan seksual (KS) yang dilakukan oleh beberapa…
MONITOR, Jenewa — Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli berada di Jenewa, Swiss, membawa pesan Presiden Prabowo…
MADINAH – Sebanyak 5.499 jemaah haji Indonesia gelombang kedua dijadwalkan tiba di Madinah pada Minggu…
MONITOR, Jakarta — Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama menggelar Computer Based Test (CBT) Seleksi…