Anggota DPR RI Rokhmin Dahuri saat menjadi narasumber di YPI Al-Zaytun Indramayu, Minggu (3/5/2026)
MONITOR, Indramayu – Anggota DPR RI, Prof. Dr. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh keberhasilan membangun pendidikan holistik, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta transformasi ekonomi berbasis inovasi dan keadilan sosial.
Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pelaku Didik ke-43 di Mesjid Rahmatan Lil Alamin Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat yang dihadiri ribuan peserta dari pimpinan ponpes, santri, mahasiswa, guru dan dosen IAI Al-Zaytun pada Minggu (3/5/2026).
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menekankan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki seluruh modal untuk menjadi negara maju dan berdaulat. Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah, posisi geopolitik strategis, bonus demografi, kekayaan energi, serta potensi agro-maritim terbesar di dunia.
Namun, terang Rektor Universitas Ummi Bogor itu berbagai persoalan struktural membuat potensi tersebut belum mampu diwujudkan menjadi kesejahteraan yang merata bagi rakyat.
Menurutnya, tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan menyangkut kualitas sumber daya manusia, ketimpangan sosial, lemahnya budaya inovasi, hingga arah pembangunan nasional yang belum sepenuhnya berbasis pada kepentingan jangka panjang bangsa.
“Bangsa maju tidak dibangun hanya oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi oleh kualitas manusianya, penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, dan karakter kebangsaannya,” ujar Prof. Rokhmin.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB tersebut juga menjelaskan, pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa.
Karena itu, pendidikan Islam maupun pendidikan nasional harus bergerak menuju pendekatan holistik yang tidak hanya menekankan capaian akademik formal, tetapi juga membentuk manusia yang unggul secara intelektual, emosional, sosial, spiritual, dan moral.
Menurut Prof. Rokhmin, pendidikan modern tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi harus mampu melahirkan pemimpin, inovator, ilmuwan, entrepreneur, dan generasi yang memiliki daya saing global tanpa kehilangan identitas kebangsaan dan nilai keislaman.
“Pendidikan harus melahirkan manusia yang utuh. Cerdas pikirannya, kuat karakternya, tinggi moralitasnya, dan memiliki tanggung jawab sosial serta kebangsaan,” kata Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu.
Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin juga menyoroti berbagai persoalan mendasar yang masih dihadapi Indonesia. Ia mengungkapkan bahwa ketimpangan ekonomi nasional masih sangat tinggi.
Berdasarkan berbagai data yang dipaparkannya, sebagian besar kekayaan nasional masih terkonsentrasi pada kelompok elite ekonomi tertentu, sementara jutaan masyarakat masih menghadapi persoalan akses terhadap pangan bergizi, pendidikan berkualitas, pekerjaan layak, hingga hunian sehat.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi ancaman menurunnya kualitas sumber daya manusia. Fenomena brain rot akibat masifnya konsumsi konten digital dangkal dan tidak edukatif dinilai menjadi ancaman serius terhadap kemampuan berpikir kritis generasi muda.
Kondisi tersebut diperburuk oleh rendahnya kualitas literasi, numerasi, kapasitas riset, inovasi, dan budaya entrepreneurship nasional.
Ia menyebut skor PISA Indonesia yang masih rendah, lemahnya kapasitas inovasi nasional, hingga kecilnya jumlah wirausahawan menjadi indikator bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam pembangunan manusia unggul.
Prof. Rokhmin juga menyinggung fenomena deindustrialisasi yang menurutnya menjadi alarm serius bagi masa depan ekonomi Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB terus menurun, sementara gelombang PHK dan peningkatan pekerja informal terus terjadi.
Banyak industri mengalami tekanan akibat tingginya ketergantungan pada bahan baku impor, melemahnya daya beli masyarakat, hingga tekanan ekonomi global.
Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan era Presiden Gus Dur dan Megawati itu, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia belum sepenuhnya memiliki struktur ekonomi yang kuat dan mandiri.
Ia menilai Indonesia masih terlalu lama berada dalam pola pembangunan “asosiatif-ekstraktif”, yakni menjadi pemasok bahan mentah, sumber buruh murah, sekaligus pasar bagi produk negara maju.
“Kalau kita terus hanya menjual bahan mentah dan bergantung pada kekuatan luar, maka Indonesia akan sulit menjadi negara maju yang berdaulat,” ujarnya.
Karena itu, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya membangun innovation-driven economy, yakni ekonomi yang bertumpu pada riset, kreativitas, teknologi, dan inovasi nasional.
Menurutnya, di era globalisasi dan revolusi industri 4.0, inovasi menjadi kunci utama memenangkan persaingan dunia.
Dewan Pakar ASPEKSINDO itu menjelaskan bahwa pembangunan Indonesia ke depan harus berpijak pada keunggulan komparatif nasional sebagai negara agro-maritim.
Potensi pertanian, kelautan, energi, biodiversitas, dan sumber daya tropis harus diolah menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu menciptakan lapangan kerja luas dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Selain tantangan domestik, Prof. Rokhmin juga memaparkan berbagai dinamika global yang akan memengaruhi masa depan dunia dan Indonesia. Ia menyebut meningkatnya ketegangan geopolitik dunia, perang dagang global, krisis iklim, serta disrupsi teknologi berbasis AI dan robotik sebagai tantangan besar abad ke-21.
Menurutnya, perubahan iklim menjadi ancaman paling serius bagi keberlangsungan hidup manusia. Pemanasan global telah menyebabkan cuaca ekstrem, penurunan produksi pangan, krisis air, kenaikan muka laut, kerusakan ekosistem, hingga ancaman konflik sosial dan migrasi massal.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dituntut segera mempercepat transformasi menuju pembangunan hijau dan ekonomi berkelanjutan. Ketergantungan global terhadap energi fosil dinilai tidak hanya memperburuk krisis iklim, tetapi juga menjadi sumber konflik geopolitik internasional.
Prof. Rokhmin turut menyoroti paradoks energi Indonesia. Meski Indonesia memiliki kekayaan energi sangat besar dan bahkan surplus perdagangan energi, negara justru sering mengalami tekanan fiskal ketika harga energi dunia naik.
Menurutnya, persoalan utama terletak pada struktur penguasaan sumber daya yang terlalu terkonsentrasi pada korporasi besar dan oligarki energi.
“Masalah Indonesia bukan kekurangan sumber daya, tetapi bagaimana sumber daya itu dikelola dan untuk siapa manfaatnya,” katanya.
Di akhir pemaparannya, Prof. Rokhmin menegaskan bahwa Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan dilakukan secara menyeluruh dan berorientasi pada kualitas manusia. Pendidikan, ekonomi, teknologi, lingkungan, moralitas, dan keadilan sosial harus berjalan secara terintegrasi.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa, termasuk pesantren, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk bersama-sama membangun generasi unggul yang berilmu, inovatif, berakhlak, produktif, dan memiliki visi peradaban.
“Indonesia membutuhkan generasi yang menguasai sains dan teknologi, tetapi tetap berakar pada nilai spiritual, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah fondasi menuju Indonesia maju, adil, makmur, dan berdaulat,” pungkasnya.
MONITOR, Jakarta — Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menegaskan generasi muda perlu mengambil peran aktif dalam…
MONITOR, Jakarta – Usai memimpin Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, Menteri Agama RI, Prof.…
MONITOR, Jakarta - Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB) menggelar Business Forum HA IPB…
MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Esti Wijayanti menekankan keadilan pendidikan…
MONITOR, Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah mendorong aparat penegak hukum menindak tegas…
MONITOR, Bogor - PT Jasa Marga (Persero) Tbk melalui Jasamarga Metropolitan Tollroad (JMT) Regional Division memohon…