MONITOR, Jakarta – Mantan Ketua Komisi I DPR RI periode 2010–2017, Mahfuz Sidik, memprediksi kawasan Indo-Pasifik berpotensi menjadi titik konflik baru setelah eskalasi perang di kawasan Timur Tengah mereda. Indonesia dinilai perlu segera menetapkan strategi geopolitik guna mengantisipasi dampak yang mungkin timbul.
Hal tersebut disampaikan Mahfuz dalam kajian bertema Fase Ketiga Konflik Israel vs Iran yang digelar pada Jumat (24/4/2026) malam. Ia menilai, posisi geografis Indonesia yang berada di jalur strategis Indo-Pasifik membuatnya berpotensi terdampak langsung maupun tidak langsung jika konflik meluas.
“Indonesia secara langsung atau tidak langsung akan ada dalam pusaran konflik itu, jika perang berkembang ke wilayah Indo-Pasifik,” ujar Mahfuz.
Menurutnya, meningkatnya tensi geopolitik di kawasan tersebut dapat dilihat dari sejumlah indikator, salah satunya permintaan izin lintas udara atau overflight clearance oleh Amerika Serikat di wilayah Indonesia. Hal ini dinilai berkaitan dengan memanasnya situasi di Laut China Selatan.
Selain itu, latihan militer bersama antara Amerika Serikat, Filipina, dan Jepang di kawasan Indo-Pasifik juga menjadi sinyal meningkatnya ketegangan politik. Mahfuz menyebut, kawasan ini kini menjadi prioritas utama kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
“Amerika Serikat telah menetapkan Indo-Pasifik sebagai kawasan paling utama dalam peta politik luar negerinya,” katanya.
Mahfuz juga menyoroti potensi keterlibatan aktor baru seperti Rusia dan China dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Jika konflik tersebut meluas dan mengganggu jalur distribusi energi, khususnya dari kawasan Selat Hormuz, maka eskalasi dinilai sulit dihindari.
Ia menambahkan, jika kepentingan energi China terganggu, negara tersebut berpotensi mengerahkan kekuatan militer untuk mengamankan jalur pasoknya, yang dapat memicu konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat.
Dalam skenario tersebut, Mahfuz menilai konflik dapat meluas hingga ke kawasan strategis lain seperti Selat Malaka dan Laut China Selatan, sehingga menciptakan titik konflik baru di Indo-Pasifik.
“Ketika China terlibat langsung dalam konflik dengan Amerika, maka potensi terbentuknya spot perang baru di kawasan Indo-Pasifik semakin besar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mahfuz menekankan bahwa Indonesia memiliki posisi tawar strategis dalam geopolitik global, terutama karena peran penting Selat Malaka sebagai jalur utama perdagangan dan distribusi energi dunia.
Sekitar 25–30 persen rantai pasok energi global melintasi Selat Malaka, sehingga kawasan ini menjadi salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Kondisi tersebut, menurut Mahfuz, dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat diplomasi bersama negara-negara kawasan seperti Malaysia dan Singapura.
“Selat Malaka adalah jantung lalu lintas pelayaran dunia. Ini menjadi nilai tawar strategis bagi Indonesia dalam percaturan geopolitik global,” jelasnya.
Ia pun mengingatkan pentingnya langkah mitigasi serta penguatan stabilitas politik nasional dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks.
Mahfuz berharap pemerintah mampu menjaga soliditas politik, baik di tingkat elite maupun masyarakat, agar Indonesia tetap kuat menghadapi potensi tekanan geopolitik di masa mendatang.
“Jika stabilitas politik dan kohesi nasional terjaga, maka tantangan sebesar apa pun akan lebih mudah dihadapi,” pungkasnya.
