MONITOR, Jakarta – Tiga perguruan tinggi di Indonesia kini tercatat sebagai anggota International Association of University Libraries (IATUL), asosiasi perpustakaan perguruan tinggi bergengsi dunia. Dua di antaranya berasal dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang dilalui secara bertahap dengan komitmen tinggi.
“Setelah melalui beberapa kali proses pengajuan dan pemenuhan berbagai persyaratan internasional, alhamdulillah dua PTKIN diterima sebagai anggota IATUL. Ini merupakan langkah strategis dalam menguatkan daya saing global perguruan tinggi keagamaan Islam Indonesia,” ujar Sahiron di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, keanggotaan ini menempatkan UIN Malang dan UIN Tulungagung sejajar dengan sejumlah universitas kelas dunia yang juga tergabung dalam IATUL, seperti Harvard University, University of Edinburgh, serta Nanyang Technological University.
Secara nasional, keanggotaan di asosiasi ini masih tergolong eksklusif. Hal tersebut menunjukkan bahwa PTKIN mampu menembus jejaring internasional sekaligus memperoleh pengakuan global, khususnya dalam pengelolaan dan pengembangan perpustakaan perguruan tinggi.
Sahiron menegaskan, keanggotaan tersebut bukan sekadar simbol, melainkan membuka peluang kolaborasi global yang luas, mulai dari pengembangan sistem perpustakaan, pertukaran pengetahuan, digitalisasi koleksi, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
“Perpustakaan adalah jantung perguruan tinggi. Dengan bergabung di IATUL, PTKIN memiliki akses lebih luas terhadap praktik terbaik pengelolaan perpustakaan dunia, termasuk dalam transformasi digital dan penguatan riset berbasis literatur,” jelasnya.
Direktorat PTKI berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi PTKIN lainnya untuk terus meningkatkan kualitas layanan akademik, khususnya di bidang literasi dan pengelolaan pengetahuan.
Ke depan, Kementerian Agama akan terus mendorong internasionalisasi PTKIN sebagai bagian dari strategi besar penguatan pendidikan tinggi keagamaan Islam di era global.
“Ini adalah salah satu tahapan menuju ekosistem akademik yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berdaya saing global,” tutup Sahiron.
