Jumat, 10 April, 2026

Indonesia Perkuat Ekspor Rempah ke Eropa, Jajaki Kerja Sama Strategis dengan Importir Belanda

MONITOR, Den Haag — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perdagangan terus memperluas akses pasar rempah dan produk pangan ke Eropa dengan menjajaki kerja sama strategis bersama importir Belanda, Unispices Wazaran BV.

Langkah ini dilakukan melalui kunjungan Atase Perdagangan (Atdag) RI di Den Haag bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia ke kantor Unispices Wazaran BV di Hoofddorp, Belanda, pada 23 Februari 2026.

Dorong Ekspansi Pasar dan Nilai Tambah

Atase Perdagangan RI Den Haag, Annisa Hapsari, menyatakan bahwa produk rempah Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang di pasar Eropa. Menurutnya, implementasi Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (Indonesia–EU CEPA) berpotensi membuka akses lebih luas melalui penurunan tarif perdagangan.

- Advertisement -

“Produk rempah Indonesia memiliki peluang ekspansi yang sangat besar di Eropa. Implementasi Indonesia-EU CEPA nantinya akan semakin mempermudah akses pasar,” ujar Annisa.

Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen mendukung pelaku usaha dalam negeri, mulai dari petani hingga koperasi, agar mampu meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk sebelum diekspor.

Peran Importir Belanda dan Peluang Investasi

Unispices Wazaran BV merupakan perusahaan perdagangan dan pengolahan rempah yang berbasis di Belanda serta bagian dari Wazaran Group asal Arab Saudi. Perusahaan ini memiliki model bisnis terintegrasi, mulai dari pengadaan bahan baku di Indonesia hingga pengujian standar mutu di Eropa.

Managing Director Unispices Wazaran BV, Heykal Balbaid, menyampaikan bahwa perusahaannya terbuka untuk menjalin kerja sama langsung dengan petani dan koperasi di Indonesia guna memperpendek rantai pasok.

“Indonesia memiliki kualitas produk dan ketersediaan bahan baku yang baik. Namun, untuk meningkatkan daya saing, perlu dijaga stabilitas pasokan, standardisasi mutu, serta efisiensi logistik,” kata Heykal.

Selain itu, Unispices juga menjajaki peluang joint venture dengan mitra lokal serta mempertimbangkan peningkatan kegiatan pengolahan di Indonesia.

Tantangan Standardisasi dan Kualitas

Pemerintah menilai, kepercayaan pasar internasional terhadap produk Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan kualitas. Standarisasi, ketertelusuran (traceability), dan kontrol kualitas menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing produk ekspor.

“Produk Indonesia tidak boleh hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi harus memiliki nilai tambah agar lebih kompetitif di pasar global,” tegas Annisa.

Data Perdagangan Indonesia–Belanda

Sepanjang 2025, total perdagangan Indonesia dengan Belanda mencapai USD 6,58 miliar, dengan nilai ekspor Indonesia sebesar USD 5,69 miliar dan impor sebesar USD 888,2 juta.

Sementara itu, ekspor rempah-rempah Indonesia ke Belanda tercatat sebesar USD 34,32 juta, menunjukkan potensi pertumbuhan yang masih terbuka lebar.

Selain rempah, Unispices juga mengembangkan produk lain dari Indonesia seperti jamur dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta tuna dari Sulawesi Utara.

Upaya Berkelanjutan Pemerintah

Kementerian Perdagangan menegaskan akan terus memfasilitasi pelaku usaha nasional untuk menembus pasar Eropa melalui penguatan kemitraan bisnis, peningkatan kualitas produk, serta dukungan regulasi dan sertifikasi.

Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekspor sekaligus mendorong investasi asing di sektor pengolahan pangan dan rempah di Indonesia.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER