Kamis, 9 April, 2026

Kementan Perkuat Pengaturan Produksi Ayam, Jaga Harga dan Lindungi Peternak

MONITOR, Jakarta – Kementerian Pertanian terus memperkuat pengelolaan produksi dan pasokan ayam ras nasional sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan usaha peternakan. Langkah ini dilakukan melalui penataan pemasukan bibit secara terukur dan adaptif agar selaras dengan kebutuhan pasar.

Kebijakan ini menjadi penting karena berpengaruh langsung terhadap stabilitas perunggasan. Produksi yang terkendali diharapkan mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga, sehingga peternak mendapatkan kepastian pendapatan.

Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Evaluasi Triwulan Pemasukan bibit ayam ras Grand Parent Stock (GPS) yang digelar secara virtual pada 7 April 2026. Evaluasi difokuskan pada optimalisasi realisasi triwulan I serta penguatan strategi pengaturan produksi ke depan.

Berdasarkan data pelaporan, pada triwulan I realisasi pemasukan GPS broiler kumulatif sebanyak 87.150 ekor Day Old Chick (DOC) dan GPS layer sebanyak 2.995 ekor. Pemasukan bibit tersebut menjadi acuan pemerintah untuk meningkatkan ketepatan pengaturan produksi secara berkelanjutan.

- Advertisement -

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian, Hary Suhada, mengatakan pemerintah terus menyempurnakan tata kelola pemasukan bibit agar lebih presisi dan sesuai kebutuhan nasional.

“Perencanaan dan realisasi pemasukan GPS terus kami sinkronkan dengan kebutuhan nasional, sehingga pengaturan produksi dapat berjalan lebih optimal,” ujarnya di Kantor Kementan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Ia menjelaskan, implementasi National Stock Replacement (NSR) yang mulai berjalan sejak awal 2026 menjadi instrumen utama dalam menjaga keseimbangan produksi. Pengaturan waktu pemasukan dan distribusi dilakukan secara lebih terukur agar pasokan tetap stabil di setiap periode.

Bagi peternak, penerapan NSR memberikan kepastian produksi stabil, sehingga harga di tingkat kandang dapat terjaga dan usaha tetap berkelanjutan.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan kualitas bibit melalui penguatan mutu genetik dan performa produksi. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas peternak sekaligus daya saing subsektor perunggasan nasional.

Di sisi pasokan, peluang negara sumber GPS semakin terbuka, termasuk dari Australia dan United Kingdom yang telah memiliki kesepakatan harmonisasi dengan Indonesia. Kebijakan ini memperkuat ketersediaan GPS sebagai sumber utama bibit ayam ras nasional.

Pakar Tim Analisa Penyediaan dan Kebutuhan Ayam Ras dan Telur Konsumsi, Trioso Purnawarman, menekankan pentingnya menjaga keseimbangan produksi agar pasar tetap stabil.

“Sebaran NSR perlu dijaga agar tetap proporsional, sehingga kesinambungan pasokan dan stabilitas pasar dapat terjaga,” imbuhnya.

Ketua Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU), Dawami, menilai bahwa stabilitas harga sangat bergantung pada pengelolaan produksi yang tepat.

“Dengan pengaturan produksi yang baik, stabilitas harga dapat tetap terjaga sehingga memberikan kepastian bagi peternak dan konsumen,” ujarnya.

Kementerian Pertanian menegaskan bahwa penguatan tata kelola produksi ayam ras merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam melindungi peternak sekaligus menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

Dengan pengaturan produksi yang semakin presisi, pemerintah optimistis sektor perunggasan nasional akan semakin stabil, peternak terlindungi, dan kebutuhan protein hewani masyarakat tetap terpenuhi.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER