Senin, 6 April, 2026

1,7 Juta Siswa Madrasah dan Santri Ikuti AN-TKA 2026, Kemenag Dorong Transformasi Evaluasi Pendidikan Islam

MONITOR, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) resmi menggelar Asesmen Nasional (AN) yang terintegrasi dengan Tes Kompetensi Akademik (TKA) Tahun 2026. Program ini melibatkan lebih dari 1,7 juta peserta didik dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga pondok pesantren di seluruh Indonesia.

Pelaksanaan AN-TKA dimulai pada 6–16 April 2026 untuk jenjang MTs, dan dilanjutkan pada 20–30 April 2026 untuk jenjang MI. Kegiatan ini dibagi dalam lima gelombang selama 10 hari dengan total 20 sesi, menjadikannya salah satu asesmen pendidikan Islam terbesar di Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, menegaskan bahwa integrasi AN dan TKA merupakan langkah strategis dalam transformasi sistem evaluasi pendidikan. Menurutnya, kebijakan ini tidak sekadar penyederhanaan, melainkan upaya membangun sistem berbasis data yang mampu mengukur kualitas pendidikan secara menyeluruh.

“Ini bukan sekadar asesmen. Kita sedang membangun sistem evaluasi berbasis data yang mampu membaca kualitas pendidikan secara utuh—baik pada level sistem maupun capaian individu murid,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/4/2026).

- Advertisement -

Ia menjelaskan, AN berfungsi sebagai alat diagnosis mutu pendidikan nasional, sementara TKA memberikan gambaran rinci terkait capaian akademik siswa. Integrasi keduanya diharapkan menjadi dasar perumusan kebijakan pendidikan yang lebih presisi dan adaptif.

Partisipasi Tinggi di Madrasah dan Pesantren

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, tingkat partisipasi lembaga pendidikan madrasah dalam AN-TKA 2026 tergolong tinggi. Pada jenjang MI, sebanyak 25.628 dari 26.178 lembaga (97,9%) telah mendaftar, dengan 659.567 siswa (99,01%) siap mengikuti TKA dari total 666.182 siswa.

Sementara itu, pada jenjang MTs, terdapat 18.899 dari 19.376 lembaga (97,54%) yang telah terdaftar, dengan jumlah peserta mencapai 1.005.408 siswa (96,71%) dari total 1.039.585 siswa.

Untuk pesantren, dari 2.222 lembaga, sebanyak 1.605 lembaga (72,23%) telah mendaftar, dengan jumlah santri peserta mencapai 45.163 orang (84,07%) dari total 53.721 santri.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah, Nyayu Khodijah, menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong peningkatan partisipasi, khususnya di lingkungan pesantren.

“Kami melihat tren yang positif, tetapi juga menyadari masih ada ruang peningkatan, terutama dalam kesiapan infrastruktur dan integrasi sistem di pesantren,” ujarnya.

Dominasi Pelaksanaan Daring dan Verifikasi Infrastruktur

Pelaksanaan TKA 2026 didominasi oleh moda daring. Pada jenjang MI, sebanyak 97,57% lembaga melaksanakan secara online. Jenjang MTs mencapai 94,13%, sementara pesantren sebesar 97,13%.

Kemenag juga telah melakukan verifikasi kesiapan infrastruktur. Hasilnya, pada jenjang MI sebanyak 73,69% lembaga telah terverifikasi, MTs sebesar 67,77%, dan pesantren masih berada di angka 40,31%.

Nyayu menegaskan bahwa kualitas pelaksanaan menjadi prioritas utama dalam AN-TKA 2026. “Tidak hanya jumlah peserta, tetapi juga memastikan bahwa pelaksanaan berjalan kredibel, adil, dan mencerminkan kemampuan riil peserta didik,” tegasnya.

Instrumen Ukur Mutu dan Daya Saing Pendidikan

AN-TKA dirancang untuk mengukur capaian akademik siswa secara terstandar, sekaligus menjamin akses pendidikan nonformal dan informal dalam penyetaraan hasil belajar. Selain itu, program ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas pendidik dalam menyusun sistem penilaian yang berkualitas.

Dalam pelaksanaannya, peserta akan mengerjakan tiga komponen utama, yaitu Matematika (75 menit, 30 soal), Bahasa Indonesia (75 menit, 30 soal), serta soal karakter (20 menit per hari selama dua hari).

Ke depan, hasil AN-TKA tidak hanya menjadi laporan capaian individu siswa, tetapi juga menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, peningkatan kualitas pembelajaran, serta penguatan daya saing lulusan madrasah dan pesantren.

“Ini adalah pijakan menuju masa depan pendidikan Islam yang lebih adaptif, terukur, dan berdaya saing global,” pungkas Amien.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER