MONITOR, Bogor – Komisi IV DPR RI menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi produk perhutanan sosial sebagai strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
Hal tersebut disampaikan oleh Rokhmin Dahuri saat Kunjungan Kerja Spesifik ke Balai Diklat Kehutanan Rumpin, Bogor, Jawa Barat, yang diikuti puluhan penyuluh kehutanan dari berbagai daerah, Selasa (31/3/2026).
Dalam kunjungan tersebut, perhatian khusus diberikan pada inovasi produk KEPOTA (Kelompok Poktan Tani), berupa kopi robusta olahan yang dipadukan dengan jahe dan rempah-rempah. Produk ini dinilai sebagai contoh konkret keberhasilan kreativitas kelompok tani hutan dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
“Masyarakat sekitar hutan tidak boleh berhenti hanya menjual bahan mentah dengan nilai ekonomi rendah. Mereka harus masuk ke tahapan hilirisasi agar mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar,” tegas Rokhmin.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi petani dan kelompok tani hutan bukan hanya pada aspek produksi, tetapi juga menyangkut standardisasi dan legalitas produk. Ia menyoroti pentingnya perizinan seperti BPOM dan PIRT, kualitas kemasan yang kompetitif, serta akses pasar yang lebih luas, baik di ritel modern maupun pasar ekspor.
“Negara harus hadir secara nyata—mulai dari pendampingan, fasilitasi perizinan, peningkatan kualitas kemasan, hingga membuka jejaring pemasaran. Tanpa itu, produk lokal akan sulit naik kelas,” lanjutnya.
Lebih jauh, Rokhmin menekankan bahwa keberhasilan perhutanan sosial tidak hanya diukur dari aspek ekonomi, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kelestarian lingkungan. Ia menyebut pendekatan ini sebagai wujud nyata ekonomi hijau yang inklusif.
“Kalau rakyat sudah merasakan manfaat ekonomi dari hutan tanpa merusaknya, maka merekalah penjaga hutan yang paling kuat. Inilah esensi ekonomi hijau: hutan lestari, masyarakat sejahtera,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri sejumlah anggota Komisi IV DPR RI, antara lain Abdul Kharis Almasyhari, Agus Ambo Djiwa, Edoardus Kaize, Firman Soebagyo, Adrianus Asia Sidot, Endang Setyawati Thohari, Sumail Abdullah, Muhammad Habibur Rochman, Jaelani, Rina Sa’adah, Johan Rosihan, serta Ellen Esther Pelealu.
Diskusi juga melibatkan Indra Exploitasia Semiawan selaku Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan. Kolaborasi lintas pihak ini menjadi bagian dari upaya memperkuat UMKM berbasis perhutanan sosial dan pemberdayaan petani hutan.
Melalui sinergi tersebut, produk-produk unggulan seperti KEPOTA diharapkan tidak hanya dikenal secara lokal, tetapi mampu menembus pasar nasional hingga global, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat dan penjaga keberlanjutan hutan Indonesia.

