Pemeriksaan sapi ternak sebagai antisipasi PMK
MONITOR, Lampung Timur – Pemerintah memastikan penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Desa Tegal Yoso, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur dalam kondisi terkendali. Intervensi cepat yang dilakukan sejak awal terbukti efektif menekan penyebaran dan mempercepat pemulihan ternak milik peternak rakyat.
Berdasarkan hasil investigasi terbaru petugas Dinas Peternakan Kabupaten Lampung Timur pada Senin, 23 Maret 2026, kasus yang beredar merupakan akumulasi kejadian sejak Februari hingga Maret 2025, bukan kasus baru.
Dari hasil penelusuran lapangan, tercatat sebanyak 135 ekor ternak terdampak, dengan 25 ekor kematian. Sebagian besar kematian terjadi pada pedet yang induknya bergejala PMK, sementara satu kasus pada sapi dewasa terindikasi PMK, dan dua kematian lainnya dipastikan bukan akibat PMK.
Mayoritas kasus ditemukan pada ternak yang belum divaksinasi, meskipun sebelumnya telah dilakukan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada peternak.
Meski demikian, langkah cepat pemerintah menunjukkan hasil nyata. Penanganan berupa pelayanan kesehatan hewan, penyemprotan disinfektan, pemberian obat dan vitamin, serta penguatan edukasi telah berdampak pada kesembuhan ternak.
Direktur Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menegaskan bahwa pengendalian PMK diperkuat melalui percepatan vaksinasi yang terencana dan terdistribusi dengan baik.
“Vaksinasi PMK merupakan langkah strategis dan krusial untuk menekan penyebaran penyakit. Pemerintah menjamin ketersediaan vaksin yang aman, bermutu, dan tepat waktu sebagai bagian dari peta jalan pengendalian PMK nasional,” ujarnya di Kantor Kementan Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, untuk Provinsi Lampung pada 2026 dialokasikan sebanyak 338.000 dosis vaksin PMK yang dibagi dalam dua periode vaksinasi, yakni Januari–Maret dan Juli–September, masing-masing sebanyak 169.000 dosis.
Hingga pertengahan Maret 2026, pemerintah telah mendistribusikan 169.000 dosis vaksin ke Provinsi Lampung, terdiri dari 100.000 dosis pada Januari–Februari dan tambahan 69.000 dosis pada pertengahan Maret.
Khusus untuk Kabupaten Lampung Timur, telah disalurkan 6.500 dosis vaksin dengan realisasi penyuntikan mencapai 5.124 dosis atau sekitar 78 persen. Pemerintah juga akan menambah alokasi sebanyak 6.000 dosis untuk mempercepat perlindungan ternak di wilayah tersebut.
Sementara itu, Kepala Balai Veteriner Lampung, Suryantana, menyampaikan bahwa pihaknya terus memperkuat investigasi epidemiologis dan dukungan teknis.
“Balai Veteriner Lampung telah melakukan penelusuran kasus, wawancara dengan petugas dan peternak, serta pengambilan sampel pada hewan sakit dan bangkai ternak. Kami juga memperkuat surveilans dan konfirmasi laboratorium untuk memastikan diagnosis serta mempercepat pengendalian,” katanya.
Ia juga mengimbau peternak untuk tetap tenang dan disiplin dalam menerapkan langkah pengendalian di kandang.
“Kami mengimbau peternak tetap tenang, segera melaporkan kasus, melakukan isolasi ternak sakit, serta membatasi lalu lintas ternak. Penerapan biosekuriti secara disiplin menjadi kunci utama,” tegasnya.
Di tingkat provinsi, penguatan penanganan dilakukan melalui pendampingan langsung di lapangan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Peternakan Provinsi Lampung, Anwar Bahri, mengatakan pihaknya terus mendorong percepatan pengendalian secara terkoordinasi.
“Tim provinsi bersama kabupaten terus melakukan pendampingan di lapangan, termasuk penguatan biosekuriti, percepatan disinfeksi, serta edukasi kepada peternak. Kami juga mendorong percepatan vaksinasi sebagai langkah kunci untuk meningkatkan kekebalan ternak dan mencegah penyebaran lebih luas,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya peran aktif peternak dalam pengendalian. “Kami mengajak peternak untuk disiplin menerapkan isolasi ternak sakit, tidak menjual ternak yang terindikasi sakit, serta segera melaporkan jika ada gejala. Dengan kolaborasi yang baik, penanganan akan lebih efektif,” tambahnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Lampung Timur, Dwi Giyarti, menyampaikan bahwa penanganan telah dilakukan sejak awal laporan diterima.
“Kami telah melakukan sosialisasi kepada peternak, penyemprotan disinfektan, serta pengobatan suportif berupa pemberian vitamin dan terapi sesuai petunjuk teknis. Tim medis dan paramedis juga sudah diturunkan untuk memperkuat penanganan di lokasi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa edukasi vaksinasi terus dilakukan kepada peternak sebagai langkah perlindungan utama. “Kami terus mengedukasi peternak agar bersedia mengikuti vaksinasi karena ini merupakan langkah penting dalam pencegahan,” tambahnya.
Dengan penanganan cepat, dukungan lintas sektor, serta hasil kesembuhan di lapangan, Kementan memastikan kondisi tetap terkendali. Bagi peternak rakyat, langkah ini menjadi bukti bahwa negara hadir melindungi usaha mereka dan menjaga ternak tetap produktif.
MONITOR, Jakarta - Kehadiran Serambi MyPertamina merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam meningkatkan kenyamanan masyarakat…
MONITOR, Jakarta - PT Jasa Marga (Persero) Tbk akan kembali memberlakukan diskon tarif tol sebesar…
MONITOR, Jakarta – Puncak arus balik libur Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 M mencatat lonjakan signifikan. Jasa…
MONITOR, Jakarta – Perusahaan transportasi online Maxim menyalurkan Bonus Hari Raya (BHR) kepada lebih dari…
MONITOR, Lumajang - Momentum Idulfitri dimanfaatkan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lumajang untuk…
MONITOR, Jakarta — Tren tiga tahun terakhir, data permohonan pencatatan pernikahan pada bulan Syawal mengalami…