Sabtu, 21 Maret, 2026

Ketika Mahasiswa Mudik: Dari Kampus Kembali ke Kampung

Oleh: Sugiyono, M.IP*

Mudik selalu menghadirkan dua wajah sekaligus: kerinduan yang tuntas dan kesadaran yang pulang. Ia bukan sekadar perjalanan geografis dari kota ke desa, melainkan juga perjalanan batin—kembali pada akar sosial, nilai, dan identitas. Terlebih bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), mudik menyimpan makna yang lebih dalam: momentum untuk menjembatani ilmu dari kampus dengan realitas kehidupan di kampung.

Di tengah suasana yang fitri, tak berlebihan kiranya kita saling mengucapkan: Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H, mohon maaf lahir dan batin. Sebab Idul Fitri bukan hanya perayaan, melainkan juga peneguhan kembali komitmen sebagai manusia yang memberi manfaat bagi sesama.

Mahasiswa PTKI berada pada posisi yang khas. Mereka tidak hanya mengenyam pendidikan akademik, tetapi juga dibentuk dalam kerangka nilai-nilai keislaman yang menekankan kesatuan antara ilmu dan amal. Dalam kerangka itu, mudik dapat dibaca sebagai ruang praksis—tempat di mana pengetahuan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan hadir sebagai tindakan yang menyentuh kehidupan masyarakat.

- Advertisement -

Dalam perspektif sosiologi, individu terdidik memiliki peran penting dalam mendorong perubahan sosial. Soerjono Soekanto melihat perubahan sebagai proses yang lahir dari interaksi sosial, di mana gagasan baru diperkenalkan, diuji, dan perlahan diterima oleh masyarakat. Mahasiswa, dengan bekal keilmuan dan pengalaman intelektualnya, menjadi salah satu aktor yang memungkinkan proses itu berlangsung.

Kehadiran mahasiswa PTKI di kampung halaman sering kali disertai harapan. Mereka dipandang sebagai rujukan—baik dalam persoalan keagamaan, pendidikan, maupun dinamika sosial sehari-hari. Namun, harapan itu tidak selalu menuntut jawaban yang besar. Justru dalam praktik sederhana, peran itu menemukan bentuknya: mendampingi anak-anak belajar, menghidupkan kembali kegiatan keagamaan, atau sekadar menjadi teman diskusi bagi generasi muda di desa.

Apa yang tampak kecil itu, dalam kacamata ilmu sosial, bukanlah hal sepele. Koentjaraningrat menegaskan bahwa perkembangan masyarakat bertumpu pada proses pewarisan dan pengayaan pengetahuan. Artinya, setiap upaya berbagi ilmu—sekecil apa pun—merupakan bagian dari kerja kebudayaan yang berkelanjutan.

Dalam konteks pendidikan tinggi, hal ini sejalan dengan semangat pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pendidikan tidak hanya dimaksudkan untuk melahirkan individu yang cakap secara intelektual, tetapi juga peka secara sosial. Sebagaimana diingatkan dalam Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global, pendidikan yang utuh adalah pendidikan yang membentuk tanggung jawab moral, bukan sekadar kecerdasan kognitif.

Nilai-nilai tersebut menemukan pijakannya dalam ajaran Islam. Al-Qur’an menyebutkan, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11). Namun, ketinggian derajat itu tidak berhenti pada simbol atau status, melainkan menuntut pembuktian dalam tindakan nyata. Demikian pula perintah untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan (QS. Al-Ma’idah: 2), yang menegaskan dimensi sosial dari setiap ilmu yang dimiliki.

Pada titik ini, mahasiswa PTKI tidak hanya dituntut cakap dalam menyampaikan gagasan, tetapi juga menghadirkan keteladanan. Zakiah Daradjat mengingatkan bahwa pendidikan Islam bertujuan membentuk kepribadian yang utuh—di mana ilmu tercermin dalam sikap dan akhlak. Dalam kehidupan masyarakat, keteladanan sering kali lebih efektif daripada argumentasi.

Meski demikian, proses ini tidak selalu berjalan mulus. Perbedaan cara pandang antara mahasiswa dan masyarakat, keterbatasan sarana, hingga keraguan untuk memulai menjadi tantangan tersendiri. Dalam situasi semacam ini, pendekatan menjadi kunci. Al-Qur’an memberikan arahan yang jelas: mengajak dengan hikmah dan pelajaran yang baik (QS. An-Nahl: 125). Artinya, perubahan tidak dihadirkan secara konfrontatif, melainkan melalui dialog dan keteladanan.

Pada akhirnya, mudik bagi mahasiswa PTKI adalah ruang refleksi sekaligus pengabdian. Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak memiliki makna jika terputus dari kehidupan sosial. Dari kampus yang sarat teori menuju kampung yang penuh realitas, mahasiswa diajak untuk menguji sekaligus membumikan pengetahuannya.

Ketika mahasiswa PTKI mudik, yang kembali bukan hanya individu yang menuntut ilmu, tetapi juga pribadi yang membawa tanggung jawab. Dari kampung halaman itulah, perubahan sosial yang berakar kuat dapat tumbuh—tidak selalu cepat, tetapi lebih mungkin bertahan.

Dan mungkin, di situlah makna mudik menemukan kedalamannya: bukan hanya kembali ke rumah, tetapi kembali pada peran—sebagai manusia yang belajar, sekaligus memberi.

*Penulis Adalah Kasubtim Kemahasiswaan Direktorat PTKI Kemenag RI

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

Ramdhan Monitor.co.id

TERPOPULER