MONITOR, Jakarta – Memasuki hari ke-19, kancah peperangan di Teluk Persia belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Iran mengancam melakukan eskalasi serangan terhadap fasilitas perusahaan teknologi besar yang terafiliasi dengan AS dan Israel.
Sementara ajakan negosiasi yang dilontarkan presiden Trump pada Senin (16/3/2026) belum mendapat sambutan positif pihak Iran.
Pada saat bersamaan serangan militer Israel dan AS berlanjut, dan terbaru telah menewaskan Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Selasa (17/3/2026).
Eskalasi ini dinilai menambah tekanan politik yang dihadapi presiden Trump. “Ada empat tekanan berat yang dihadapi Trump saat ini,” ungkap Mahfuz Sidik, Peneliti Dunia Islam dalam keterangannya, Rabu (18/3/2026).
Pertama, tekanan penolakan negara-negara sekutu AS dan juga NATO untuk mengirim kapal perang membuka blokade Selat Hormuz.
Saking geramnya, Trump sampai menyebut sikap sekutu dan NATO dengan ‘very foolish mistake’ dan AS tidak akan pernah meminta bantuan mereka lagi.
Menurut Mahfuz, alasan penolakan ini karena negara-negara sekutu AS tidak siap menghadapi resiko retiliasi atau pembalasan dari pihak Iran, dan mereka menganggap ini sejak awal adalah perang Israel dan AS dengan Iran.
Kedua, tekanan negara-negara kerjasama Teluk (GCC) yang terus mendesak AS mengakhiri perang, namun juga menghendaki sterilisasi kekuatan militer Iran.
Dimotori oleh Bahrain, GCC telah mengajukan draft resolusi ke Dewan Keamanan PBB, yang kemudian pada Kamis (12/3/2026) diadopsi oleh PBB. Resolusi itu berisi tekanan agar Iran menghentikan serangan ke wilayah negara-negara sekitar Teluk.
Menurut Mahfuz, tekanan negara-negara ini akan sangat mengganggu realisasi komitmen investasi dalam jumlah besar ke AS, bahkan Saudi dan Qatar misalnya telah memutuskan menunda rencana investasinya di AS.
Ketiga, tekanan resistensi politik domestik AS terhadap keputusan dan jalannya perang. Terbaru, Direktur Pusat Kontra Terorisme Nasional AS, Joe Kent mengundurkan diri secara terbuka, dan menyatakan alasan kuat bahwa Iran bukan ancaman nyata bagi keamanan AS.
Bahkan Kent menegaskan bahwa Trump memulai perang ini karena tekanan Israel dan pengaruh kuat lobi Yahudi di Gedung Putih.
Sementara, publik AS dalam sejumlah polling pada awal bulan maret menunjukkan kisaran 53%-60% warga Amerika menolak perang yang diputuskan Trump.
Mahfuz mengatakan, sikap warga ini akan sangat memengaruhi pilihan pada pemilu sela yang rencananya digelar pada november depan.
Keempat, tekanan ancaman eskalasi serangan oleh pihak Iran terhadap perusahaan-perusahaan teknologi besar di kawasan Teluk yang terafiliasi dengan AS dan Israel, antara lain Google, Amazon, Microsoft, IBM, Nvidia, dan Palantir.
Dalam satu dekade terakhir, Qatar dan UEA misalnya sangat berambisi mengembangkan negaranya sebagai pusat pendukung industri siber dunia.
Ketua Komisi 1 DPR RI Periode 2010-2017 ini, keempat macam tekanan itu membuat Presiden Trump dalam kebingungan besar bagaimana menyelesaikan perang dengan tetap mencapai target intinya.
Yaitu menetralisir seluruh kemampuan militer Iran, dan menciptakan situasi kisruh politik yang mengarah pada pergantian rezim di Iran.
Mahfuz menyebutkan bahwa masyarakat dunia menyaksikan bagaimana Presiden Trump pada pernyataan pers di Gedung Putih pada Selasa (17/3/2026), memuji Pemimpin Iran sebagai orang yang cerdas dan ber IQ tinggi, yang memahami permainan catur perang.
Lalu Trump mengajak Iran untuk melakukan negosiasi untuk segera mengakhiri perang. “Ini menandakan pikiran dan ucapan Presiden Trump ini bolak-balik dan gonta-ganti tidak jelas. Secara psikopolitik, presiden Trump benar-benar ada dalam tekanan berat,” kata Mahfuz yang juga Sekjen Partai Gelora ini.
Dalam pandangannya, Mahfuz meyakini Trump akan terus mencari jalan mengakhiri segera perang di Teluk, apalagi ancaman dampak ekonomi dan kemanusiaan semakin mengancam stabilitas dunia.
Amnesti Internasional misalnya merilis perkiraan 45 juta orang akan menderita kelaparan jika perang ini terus berlangsung.
“Namun sekeras apapun upaya Trump mencari jalan negosiasi untuk mengakhiri perang, tantangan terbesar bukan dari Iran, tetapi justru dari Israel.” Imbuh Mahfuz.
Pasalnya, bagi Israel ini adalah perang eksistensi dan momen yang disiapkan sejak tahun 1996 oleh Benjamin Netanyahu saat mulai Netanyahu menjabat Perdana Menteri Israel.
Dimana Netanyahu akan menjadikan Israel kekuatan dominan di kawasan, dan mewujudkan ambisi Israel Raya, perluasan wilayah kekuasaan sampai sebagian wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, Mesir dan Saudi Arabia.
“Belajar dari peristiwa perundingan antara pihak Iran dan AS yang dimediasi oleh negara Oman, begitu mengarah kepada kesimpulan yang positif dan progresif, Israel secara tiba-tiba dan sepihak membalikkan papan catur dengan menyerang Iran yang menyebabkan gugurnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei,” ujarnya.
Mahfuz mengingatkan, bahwa peristiwa ini mungkin saja akan berulang kembali, dengan tindakan tiba-tiba dan sepihak dari Israel yang membuyarkan ikhtiar negosiasi untuk menghentikan perang.

