Senin, 16 Maret, 2026

Wamendag Roro Tekankan Pentingnya Keamanan Ekonomi Anggota ASEAN

MONITOR, Jakarta – Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan komitmen Indonesia dalam penguatan ekonomi ASEAN, khususnya di tengah dinamika geopolitik global saat ini. Hal tersebut disampaikan Wamendag Roro saat hadir sebagai Alternate AEM dalam Pertemuan ke-32 Menteri Ekonomi ASEAN Retreat (32nd AEM Retreat) di Taguig, Filipina, Jumat (13/3/2026).

Pada pertemuan tersebut, Wamendag Roro didampingi Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Djatmiko Bris Witjaksono.

“Kesempatan ini menjadi peluang tepat bagi negara anggota ASEAN untuk menguatkan respons kolektif melalui resillience without retreat dalam menghadapi tekanan global. Respons ini menekankan pentingnya bersama-sama menghadapi fragmentasi geoekonomi dan disrupsi rantai pasok, dengan menyusun kebijakan yang mengedepankan keamanan ekonomi anggota ASEAN,” ungkap Wamendag Roro.

Wamendag Roro menjelaskan, pertumbuhan ASEAN saat ini terdampak perkembangan kondisi makro global, seperti tekanan geopolitik dan energi di Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan harga energi dunia, serta berdampak pada negara ASEAN yang memiliki ketergantungan pasokan produk bahan bakar mineral dari Timur Tengah. Selain itu, dinamika penerapan kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) juga berpotensi mengganggu perdagangan dan rantai pasok global. Terkait hal tersebut, Wamendag Roro menegaskan beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi gejolak tantangan global mendatang.

- Advertisement -

“Pertama, meski Indonesia dan beberapa negara ASEAN telah masing-masing melakukan upaya negosiasi dengan AS, tetap dibutuhkan respons kolektif bersama ASEAN untuk mengantisipasi tindakan terkait tarif yang dapat merugikan di masa mendatang. ASEAN harus terus memonitor, berkoordinasi, dan menegaskan kembali komitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, termasuk menyerukan kepada negara mitra dan observer ASEAN untuk menghormati prinsip yang sama,” jelas Wamendag Roro.

Kemudian, lanjut Wamendag Roro, untuk mengantisipasi keberlanjutan tekanan geopolitik Timur Tengah, ASEAN perlu menguatkan dan mempercepat kerja sama regional di bidang keamanan energi. Salah satu opsi yang patut dieksplorasi yaitu koordinasi yang lebih erat pada upaya penyediaan cadangan energi strategis. Hal lainnya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan integrasi ekonomi regional melalui beberapa perjanjian ekonomi yang sudah ada.

“ASEAN harus meningkatkan implementasi perjanjian ekonomi yang ada, seperti perjanjian perdagangan bebas ASEAN+1 dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). Dengan begitu, diharapkan akan memperkuat ketahanan rantai pasokan dengan memperdalam perdagangan intra-regional dan mendukung diversifikasi rantai pasokan. Kita harus memastikan ASEAN tetap menjadi pusat yang kompetitif dan andal dalam jaringan produksi kawasan maupun global,” tegas Wamendag Roro.

Selain itu, Indonesia mendukung koordinasi lintas pilar dalam hal ini adalah isu ekonomi dan keamanan. Wamendag Roro juga menggarisbawahi bahwa Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh anggota untuk memastikan ASEAN tetap tangguh, terbuka, dan berorientasi pada masa depan.

Indonesia juga menyambut baik beberapa rekomendasi yang lahir melalui ASEAN Geoeconomics Task Force (AGTF) untuk menyikapi isu geopolitik dan isu resiliensi ekonomi lainnya. Indonesia juga mendukung target penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada KTT ASEAN November 2026. Melalui DEFA yang merupakan perjanjian ekonomi digital pertama di dunia ini, diharapkan ASEAN dapat mempercepat transformasi ekonomi di beberapa area utama agar dapat beradaptasi dengan situasi global terkini.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menekankan pentingnya penguatan Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Community Council/AECC) sebagai platform penyelesaian berbagai isu lintas sektor di kawasan, termasuk penguatan ekonomi ASEAN di tengah dinamika global. Isu-isu lintas sektor tersebut antara lain pengembangan Perjanjian Kerangka Ekonomi Digital ASEA (Digital Economy Framework Agreement/DEFA), keamanan ekonomi (economic security), dan dinamika geoekonomi. AECC juga berperan penting sebagai forum persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN sekaligus wadah koordinasi dalam memperkuat integrasi ekonomi kawasan.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

Ramdhan Monitor.co.id

TERPOPULER