Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita
MONITOR, Jakarta – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan nasional melalui berbagai program strategis untuk memperluas akses pasar dan memperkuat jejaring kemitraan usaha. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melalui kegiatan Business Matching IKM Kerajinan 2026 yang mempertemukan pelaku IKM dengan buyer, mitra industri, hingga pemangku kepentingan dari sektor hospitality.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, kegiatan temu bisnis tersebut menjadi strategi penting dalam membuka peluang kerja sama baru bagi pelaku IKM kerajinan sekaligus memperluas jaringan pemasaran produk kerajinan Indonesia.
Menurutnya, forum business matching memungkinkan pelaku IKM berinteraksi langsung dengan calon pembeli dan mitra industri sehingga dapat meningkatkan peluang kemitraan bisnis yang berkelanjutan.
“Melalui forum business matching, pelaku IKM kerajinan dapat berinteraksi langsung dengan buyer dan mitra industri sehingga membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkuat ekosistem industri kerajinan nasional agar semakin berdaya saing,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Senin (16/3).
Menperin menilai industri kerajinan merupakan salah satu sektor yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Selain itu, sektor ini juga memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya Indonesia di pasar global.
Produk kerajinan Indonesia dikenal memiliki keunggulan dari sisi kreativitas desain, kekayaan budaya, serta keterampilan para perajin yang telah diwariskan secara turun-temurun. Hal ini menjadikan produk kerajinan Indonesia memiliki daya tarik tersendiri di pasar internasional.
Karena itu, pemerintah terus mendorong penguatan daya saing sektor ini melalui berbagai program pembinaan, termasuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku IKM.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan bahwa kegiatan business matching merupakan salah satu strategi Kemenperin untuk memperkuat jaringan pemasaran sekaligus meningkatkan kesiapan pelaku IKM dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Menurutnya, produk kerajinan Indonesia telah menunjukkan kinerja ekspor yang cukup positif dalam beberapa tahun terakhir.
Berdasarkan data Kemenperin, nilai ekspor produk kerajinan Indonesia pada tahun 2025 mencapai USD806,63 juta, meningkat 15,46 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar USD698,62 juta.
Pasar utama produk kerajinan Indonesia meliputi China, Taiwan, Amerika Serikat, Jepang, serta sejumlah negara di kawasan Eropa.
“Peningkatan kinerja ekspor ini menunjukkan bahwa produk kerajinan nasional memiliki potensi besar untuk terus berkembang di pasar global. Oleh karena itu, peningkatan kualitas produk, inovasi desain, serta penguatan jaringan pemasaran menjadi faktor penting bagi pelaku IKM,” kata Reni.
Kegiatan Business Matching IKM Kerajinan 2026 yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 10 Maret 2026 diikuti oleh 50 pelaku IKM kerajinan dari berbagai daerah di Indonesia. Selain pelaku usaha, kegiatan ini juga menghadirkan berbagai pemangku kepentingan seperti kementerian dan lembaga, asosiasi industri, serta sektor hospitality yang berpotensi menjadi pengguna produk kerajinan dalam negeri.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Kemenperin Budi Setiawan mengatakan bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum pertemuan bisnis, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi pelaku IKM untuk memahami kebutuhan pasar secara lebih komprehensif.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pertemuan antara IKM dan buyer, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi pelaku IKM untuk memahami kebutuhan pasar serta meningkatkan kesiapan usaha mereka dalam menjalin kerja sama bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan business matching diawali dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan berbagai narasumber dari sektor industri dan asosiasi. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan wawasan mengenai pentingnya legalitas bahan baku melalui Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) serta aspek keberlanjutan dalam industri kerajinan berbasis sumber daya alam.
Diskusi juga menghadirkan perwakilan dari Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) yang memaparkan keunggulan desain dan keterampilan perajin Indonesia, serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang menjelaskan kebutuhan produk kerajinan dalam sektor hospitality.
Selain diskusi, kegiatan juga dilanjutkan dengan sesi konsultasi bisnis dan one-on-one deskyang mempertemukan pelaku IKM dengan buyer, mitra industri, serta lembaga pemerintah yang terkait dengan pengembangan industri kerajinan.
Melalui sesi tersebut, pelaku IKM dapat berkonsultasi secara langsung mengenai peluang kerja sama bisnis, peningkatan kualitas produk, hingga pemenuhan berbagai persyaratan pasar.
Budi berharap kegiatan business matching ini dapat menjadi pintu masuk bagi pelaku IKM kerajinan untuk memperluas akses pasar, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Ia menegaskan bahwa industri kerajinan nasional memiliki peran strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif sekaligus industri berbasis budaya di Indonesia.
“Kami berharap semakin banyak pelaku IKM kerajinan yang mampu memperluas pasar dan meningkatkan daya saing produk mereka di tingkat global,” katanya.
MONITOR, Jakarta – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) meluluskan 1.565 peserta evaluasi teori calon Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja…
MONITOR, Jakarta – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Asep Saepudin Jahar mengajak seluruh…
MONITOR, Jakarta - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengingatkan seluruh pegawai Kementerian Komunikasi dan…
MONITOR, Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri menegaskan komitmen Indonesia…
MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia memastikan proses kedatangan dan pemulangan jemaah…
MONITOR, Semarang – Seiring dengan meningkatnya mobilitas kendaraan menuju wilayah Timur Trans Jawa, PT Jasamarga…