Rabu, 11 Maret, 2026

Indonesia Pimpin G-33, Perjuangkan Nasib Petani di Perundingan WTO

MONITOR, Jakarta – Indonesia menegaskan kembali peran pentingnya dalam diplomasi  perdagangan multilateral saat memimpin Pertemuan Menteri G-33 yang diselenggarakan secara  virtual pada Senin, (9/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, Indonesia membahas penguatan konsolidasi  reformasi pertanian untuk diangkat di Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 Organisasi  Perdagangan Dunia (WTO) yang dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Maret 2026 di Kamerun. 

Menteri Perdagangan RI Budi Santoso menyampaikan, KTM ke-14 perlu dimanfaatkan sebagai  momentum untuk menghidupkan kembali perundingan pertanian WTO yang beberapa tahun  terakhir stagnan. 

Indonesia menekankan, KTM ke-14 WTO harus dimanfaatkan untuk menghidupkan kembali  perundingan pertanian WTO yang dalam beberapa tahun terakhir stagnan. Indonesia selaku  koordinator G-33 mengimbau agar reformasi pertanian WTO tetap berorientasi pada  pembangunan. Beberapa aspek seperti ketahanan pangan, kesejahteraan petani kecil, dan agenda  pembangunan nasional harus menjadi bagian utama dari arah reformasi tersebut,” kata Mendag  Busan pascapertemuan. 

Pertemuan Menteri G-33 kali ini mengusung tema “G-33 Priorities and Collective Action toward MC 14 for Advancing Inclusive WTO Agricultural Negotiation”. Pertemuan yang merupakan bagian dari  tradisi konsolidasi yang rutin menjelang KTM WTO ini bertujuan untuk menjaga kesatuan posisi dan  memperkuat daya tawar negara-negara berkembang. Dengan 47 anggota, G-33 memiliki peran  strategis dalam membentuk arah reformasi pertanian global. 

- Advertisement -

Mendag Busan menyebut, salah satu agenda utama pertemuan adalah penyelarasan Pernyataan  Bersama (Joint Ministerial Statement) G-33 yang akan disampaikan pada KTM ke-14 WTO. Dalam  pernyataan bersama tersebut, para Menteri G-33 menegaskan kembali komitmen untuk  memperkuat sistem perdagangan multilateral yang berbasis aturan, adil, inklusif, dan transparan  dengan WTO sebagai fondasinya.  

Kami menyampaikan keprihatinan atas terbatasnya kemajuan dalam perundingan di bidang  pertanian. Indonesia akan terus mendorong pendekatan yang tegas namun konstruktif agar  kepentingan negara berkembang, termasuk isu Public Stockholding for Food Security Purposes (PSH)  untuk menjamin ketahanan pangan, Special Safeguard Mechanism (SSM) sebagai instrumen untuk  mengatasi lonjakan impor, serta Special and Differential Treatment (S&DT) tetap menjadi bagian  dari agenda reformasi pertanian WTO,” lanjut Mendag Busan.

Mendag Busan menyatakan, Indonesia bersama negara-negara anggota G-33 akan terus  memperkuat koordinasi untuk memastikan isu-isu prioritas negara berkembang tetap mendapat  perhatian dalam agenda reformasi pertanian WTO menjelang KTM ke-14.  

Indonesia mengajak seluruh anggota G-33 untuk terus memperkuat koordinasi dan solidaritas  menjelang KTM ke-14 WTO. Kepemimpinan aktif Indonesia dalam forum ini menegaskan komitmen  nasional untuk memperjuangkan sistem perdagangan multilateral yang lebih inklusif, responsif, dan  berpihak pada kepentingan pembangunan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan  kesejahteraan petani kecil,” pungkas Mendag Busan. 

Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala WTO dan para Menteri G-33 dan menyampaikan  apresiasi kepada Indonesia yang telah menyelenggarakan pertemuan, utamanya untuk identifikasi  prioritas kelompok dan cara untuk mendorong perundingan pertanian kembali bergulir. Dalam  pertemuan tersebut, para Menteri G-33 juga sepakat untuk menghasilkan kemajuan konkret di  bidang pertanian untuk menjaga kredibilitas WTO dan membangun kembali kepercayaan  antaranggota.  

Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala menyampaikan, para Menteri G-33 memiliki pandangan yang sama  bahwa G-33 memegang peranan penting sebagai kesatuan suara untuk memperjuangkan  kepentingan negara berkembang di WTO. Selain itu, para Menteri G-33 juga menekankan  pentingnya isu ketahanan pangan di masa saat ini sehingga perundingan pertanian dan KTM ke-14  harus merefleksikan isu tersebut dalam hasilnya.  

Dalam situasi global yang tidak menentu, isu ketahanan pangan menjadi salah satu hal  fundamental, utamanya bagi negara berkembang. Untuk itu, kelompok G-33, sebagai suara negara  berkembang memerankan peranan penting untuk mendorong isu tersebut dibahas dalam KTM ke 14 dan perundingan pertanian mendatang. Saya mengapresiasi dan mendukung adanya pertemuan  G-33 hari ini untuk kesuksesan KTM ke-14,” ujar Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala. 

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

Ramdhan Monitor.co.id

TERPOPULER