MONITOR, Rangkasbitung – Eritrosit atau sel darah merah selama ini dikenal dalam dunia medis sebagai komponen vital yang berfungsi mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Namun, dalam perspektif keislaman, khususnya manhaj Ahlussunnah wal Jamaah yang dianut Nahdlatul Ulama (NU), eritrosit tidak hanya dipahami sebagai objek biologis, tetapi juga sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang layak direnungi.
Ketua Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Kabupaten Lebak dr. H. Agus Sunardi, Sp.PK,, mengatakan Eritrosit Komponen Vital dengan Jumlah Fantastis.
Menurutnya, secara biologis, eritrosit merupakan sel darah merah yang memiliki peran utama mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbon dioksida kembali untuk dikeluarkan. Dalam setiap mikroliter darah manusia terdapat jutaan eritrosit, sehingga totalnya mencapai puluhan triliun sel dalam satu tubuh.
Dikatakan dr. Agus Sunardi, jumlah yang sangat besar dan keteraturan kerja eritrosit menjadi pintu masuk perenungan mendalam tentang kebesaran Allah SWT.
“Bagaimana mungkin makhluk mikroskopis yang tidak memiliki kesadaran seperti manusia mampu bekerja dengan presisi luar biasa, teratur, dan berkesinambungan sepanjang hidup manusia,” ujarnya.

Dalam ajaran Islam, dr. Agus menjelaskann, khususnya Ahlussunnah wal Jamaah, seluruh makhluk diyakini bertasbih kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 44, yang menyatakan bahwa langit, bumi, dan segala isinya bertasbih kepada Allah, meskipun manusia tidak memahami tasbih mereka.
Tasbih dalam konteks ini tidak selalu berupa ucapan verbal, tetapi juga dapat dimaknai sebagai ketaatan total terhadap hukum dan ketentuan Allah atau sunnatullah.
Eritrosit, kata dr. Agus, merupakan contoh nyata makhluk yang tunduk sepenuhnya pada ketentuan tersebut. Sel darah merah menjalankan tugasnya secara konsisten, mengalir melalui pembuluh darah, mengantarkan oksigen, dan menopang kehidupan tanpa pernah menyimpang dari fungsinya.
“Tidak ada eritrosit yang membangkang atau menolak tugasnya. Kesempurnaan keteraturan ini adalah manifestasi kehendak Allah yang Maha Mengatur,” jelasnya.
Selain jumlahnya yang fantastis, eritrosit juga memiliki karakteristik unik, seperti tidak memiliki inti sel, yang memungkinkan ruang lebih besar untuk hemoglobin—protein pengikat oksigen. Usia eritrosit sekitar 120 hari, kemudian dihancurkan dan digantikan dengan sel baru melalui proses teratur di sumsum tulang.
Keteraturan tersebut mencerminkan keseimbangan dan kebijaksanaan dalam penciptaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia.
Dalam tradisi Nahdlatul Ulama, ilmu pengetahuan dipandang sebagai sarana untuk mengenal kebesaran Allah. Penelitian terhadap sel darah merah melalui mikroskop, menurut dr. Agus, bukan hanya aktivitas ilmiah, tetapi juga bentuk perenungan terhadap ayat-ayat kauniyah atau tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.
Lebih jauh, dr. Agus menjelaskan bahwa keberadaan eritrosit menjadi pengingat bahwa manusia sangat bergantung pada sistem biologis yang berjalan tanpa disadari setiap saat.
Setiap detik, eritrosit mengantarkan oksigen ke otak, jantung, dan organ vital lainnya. Tanpa fungsi tersebut, kehidupan manusia tidak dapat berlangsung dengan normal.
Kesadaran ini, menurutnya, dapat menumbuhkan rasa syukur, kerendahan hati, dan penguatan iman kepada Allah SWT.
“Tubuh manusia adalah alam semesta kecil yang dipenuhi ayat-ayat Allah. Dari makhluk mikroskopis seperti eritrosit, manusia dapat belajar tentang tauhid, ketaatan, dan kerendahan hati,” ungkapnya.
Selain menjadi bukti kebesaran Allah, eritrosit juga memberikan pelajaran moral. Sel darah merah bekerja tanpa henti menjalankan tugasnya, siang dan malam, tanpa keluhan.
Hal ini menjadi refleksi bagi manusia yang memiliki akal dan kehendak bebas, agar menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.
Dalam manhaj Ahlussunnah wal Jamaah, keseimbangan antara dzikir, fikir, dan amal menjadi kunci penguatan iman. Ilmu pengetahuan yang membawa manusia kepada pengakuan atas kebesaran Allah dipandang sebagai bagian dari ibadah.
Refleksi tentang eritrosit menunjukkan bahwa sains dan agama bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan saling melengkapi. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami mekanisme kehidupan, sementara iman memberikan makna spiritual atas pemahaman tersebut.
Dengan merenungi eritrosit, manusia diingatkan akan tiga hal utama: kebesaran Allah SWT, keterbatasan dirinya, dan pentingnya bersyukur atas nikmat kehidupan.
“Inilah harmoni antara wahyu dan akal, antara ilmu dan iman, yang menjadi ciri khas ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” tutup dr. Agus Sunardi.

