MONITOR, Kota Gorontalo – Negara telah hadir memberikan pelbagai beasiswa untuk meningkatkan kualitas anak bangsa, menyambut Indonesia Emas 2045 dan menghadapi persaingan era revolusi industri 4.0.
Penegasan itu disampaikan Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA), Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Ruchman Basori pada Rapat Senat Terbuka dalam rangka Wisuda ke 37 Program Sarjana (S1) dan Magister (S2) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo, pada Sabtu (14/2/2026).
Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo Prof. Dr. Ahmad Faisal, M.Ag mewisuda 413 lulusan Sarjana (S1) dan Magister (S2) pada Rapat Senat Terbuka, yang di gelar di Grand Sumber Ria, Wongkaditi, Kota Utara, Kota Gorontalo.
Wisuda kali ini bisa menjadi momen Istimewa, sebagai wisuda terakhir, dengan status IAIN. Sebelum resmi beralih bentuk menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Amai Gorontalo.
Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA), Sekretariat Jenderal Kementerian Agama, Ruchman Basori yang didaulat menyampaikan Orasi Ilmiah, mengungkapkan para wisudawan adalah para cendekiawan yang harus berada di akar rumput (grass root) bukan berada di menara gading.
“Intelektual yang lahir dari garba PTKIN harus berada digaris depan dalam keberpihakannya kepada yang miskin, ya papa dan kurang beruntung secara ekonomi”, tegas Alumni IAIN Walisongo Semarang ini.

Ruchman menambahkan menjadi bagian dari perubahan Indonesia, membutuhkan kapasitas dan kualitas, salah satunya dengan melanjutkan studi ke jenjang S2 dan S3 untuk memenagkan persaingan.
Kepada para wisudawan dan wisudawati Doktor Manajemen Kependidikan Universitas Negeri Semarang ini berpesan agar manfaatkan pembiayaan beasiswa studi lanjut S2 dan S3 baik di Dalam dan Luar Negeri dengan baik. “Program Beasiswa Indonesia Bangkit Kemenag terbuka lebar untuk para alumni, juga para guru, ustadz, dosen dan keluarga besar Kemenag lainnya”, katanya.
“Bekal indeks prestasi tinggi belum cukup, perlu diimbangi dengan kemampuan life skill dan juga kecerdasan emosional, dalam mengarungi kehidupan”, pesan Ruchman kepada para wisudawan/i.
413 wisudawan berasal dari empat fakultas, yakni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Fakultas Syariah, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Sementara itu, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo, Prof. Dr. Ahmad Faisal, M.Ag., menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar meraih gelar akademik, tetapi juga proses pembentukan karakter dan penguatan kapasitas diri. Mengutip tokoh dunia Nelson Mandela, ia mengatakan, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.”
“Saya berharap para wisudawan terus belajar, berinovasi, dan mampu beradaptasi dengan perubahan. Karena dunia membutuhkan pemimpin yang visioner, kreatif, dan berintegritas,” ujar Faisal.
Pada kesempatan itu, Rektor juga memaparkan perkembangan alih status kampus. Ia menyebut telah terbit Keputusan Presiden Nomor 38 Tahun 2025 tentang Program Penyusunan Peraturan Presiden Tahun 2026 yang mencantumkan alih status IAIN Sultan Amai Gorontalo menjadi UIN.
Tindak lanjutnya, pada 6 Februari 2026 telah digelar Rapat Panitia Antar Kementerian (PAK) yang melibatkan Kementerian Agama, Kementerian Hukum, Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Keuangan, Badan Kepegawaian Negara, serta Kementerian PAN dan RB.
Pihaknya lanjut Faisal, tengah menunggu hasil Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) dari BAN-PT dengan target meraih predikat Akreditasi Institusi Unggul. Jika seluruh proses berjalan lancar, tahun 2026 digadang-gadang sebagai “Tahun Unggul” bagi kampus tersebut.
Melalui momentum wisuda ini, civitas akademika berharap IAIN Sultan Amai Gorontalo terus berkembang dan mampu melahirkan sumber daya manusia yang unggul, berdaya saing, serta memberi kontribusi nyata bagi bangsa dan umat.

