Senin, 5 Januari, 2026

Menag Puji Konsep Natal Nasional 2025 yang Sangat Indonesia

MONITOR, Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengapresiasi dan menyebut Perayaan Natal Nasional 2025 sebagai perayaan yang luar biasa. Sebab, perayaan Natal tahun ini menghadirkan makna mendalam, berdampak luas, dan dirasakan secara universal oleh seluruh elemen bangsa. 

Menurut Menag, kesederhanaan yang diusung justru memperkuat pesan kebersamaan dan kepekaan sosial di tengah masyarakat. “Natal tahun ini jangan dipahami sebagai perayaan yang kecil. Justru sebaliknya, dampaknya sangat besar, luas, dan universal. Nilainya bisa dirasakan lintas agama, lintas etnik, dan lintas daerah,” ujar Menag usai Seminar Natal Nasional 2025 di Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Menag mengapresiasi keputusan panitia yang tidak menggelar perayaan besar-besaran di satu lokasi, melainkan memilih format sederhana namun menyentuh banyak lapisan masyarakat. Langkah tersebut dinilainya sebagai bentuk kedewasaan beragama sekaligus kepekaan terhadap kondisi sosial, termasuk masyarakat yang tengah menghadapi bencana.

“Saya melihat ini sebagai perayaan yang sangat Indonesia. Ada empati, ada kepedulian, dan ada kesadaran bahwa di tengah perayaan, kita tetap harus memperhatikan saudara-saudara kita yang sedang mengalami kesulitan,” tegasnya.

- Advertisement -

Menag juga menyoroti tema Natal Nasional 2025, “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, sebagai tema yang sangat sentral dan relevan bagi seluruh umat beragama. Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan fondasi utama pendidikan dan pembentukan karakter manusia.

“Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak manusia. Jika keluarga itu baik dan utuh, maka pendidikan di masyarakat dan sekolah hanya menjadi pelengkap. Inti pendidikan sesungguhnya ada di keluarga,” jelas Menag.

Menurutnya, tantangan keluarga saat ini semakin kompleks, mulai dari persoalan ekonomi, relasi, hingga tekanan sosial. Karena itu, seminar dan rangkaian diskusi Natal Nasional dinilai penting, tidak hanya bagi umat Kristiani, tetapi juga bagi seluruh warga bangsa.

“Isu keluarga ini menyentuh kita semua. Tema ini bukan hanya relevan bagi satu umat, tetapi bagi seluruh agama dan masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Menag berharap hasil-hasil pemikiran dari rangkaian Seminar Natal Nasional dapat terus dikembangkan, bahkan menjadi rujukan dalam diskursus nasional dan internasional tentang penguatan ketahanan keluarga.

“Ke depan, tidak tertutup kemungkinan hasil seminar ini dibawa ke forum yang lebih luas, agar dunia juga memahami betapa pentingnya memperbaiki ketahanan keluarga dalam menghadapi tantangan zaman,” pungkas Menag.

Sementara itu, Ketua Panitia Natal Nasional 2025, Maruarar Sirait, menjelaskan bahwa tema Natal Nasional tahun ini lahir dari keprihatinan terhadap berbagai tantangan yang dihadapi keluarga Indonesia. Mulai dari persoalan ekonomi, komunikasi dalam keluarga, hingga dampak sosial seperti narkoba dan pengaruh dunia digital.

“Pesan utama Natal Nasional ini adalah penyelamatan dan penguatan keluarga. Keluarga yang saling menopang adalah fondasi utama bangsa,” ujarnya.

Arahan Presiden Republik Indonesia agar perayaan Natal digelar secara sederhana, berdampak, dan terbuka menjadi pedoman utama panitia dalam merancang seluruh rangkaian kegiatan. Natal Nasional 2025 diselenggarakan dengan jumlah peserta terbatas, sekitar 3.600 orang, dengan prioritas kehadiran bagi hamba Tuhan, pengurus gereja, anak yatim piatu, anak Sekolah Minggu, guru agama, serta penyandang disabilitas.

Kesederhanaan juga diwujudkan melalui pemberdayaan UMKM dalam penyediaan konsumsi serta pelibatan seniman nasional dan daerah dari berbagai wilayah Indonesia. Bahkan, ornamen Natal dirancang dengan menampilkan produk lokal dan buah-buahan Nusantara sebagai simbol kecintaan pada hasil bumi Indonesia.

Selain perayaan puncak, Natal Nasional 2025 juga dirangkai dengan berbagai aksi sosial yang tersebar di sejumlah daerah, termasuk Papua, Sumatera, Kalimantan Barat, NTT, dan wilayah lainnya. Panitia menyalurkan dukungan di bidang pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, distribusi kitab suci, renovasi rumah ibadah, hingga pembangunan infrastruktur penunjang pendidikan dan kesehatan di daerah terpencil.

“Kami berusaha agar Natal ini benar-benar berdampak bagi seluruh rakyat Indonesia. Perbedaan agama, suku, dan latar belakang justru menjadi kekuatan bangsa,” kata Maruarar.

Ia menambahkan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Natal Nasional 2025 terlaksana berkat semangat gotong royong lintas iman, sejalan dengan pesan kebersamaan yang terus digaungkan Kementerian Agama.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER