MONITOR, Yogyakarta – Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i memberi pesan khusus pada Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama. Wamenag minta jajarannya jaga integritas dan hidup sederhana.
Pesan ini disampaikan Wamenag saat memberikan pembinaan kepada aparatur sipil negara (ASN) Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (3/1/2025). Acara yang digelar sederhana di Ruang Aula Kanwil Kemenag DIY tersebut, diisi dengan pemotongan tumpeng dan istighasah. Siraman rohani juga disampaikan Gus Muwafiq, pengasuh Pesantren Minggir, Sleman.
Mwnurut Wamenag, ekspektasi umat pada Kementerian Agama sangat tinggi. Karenanya, integritas menjadi harga mati yang harus dijaga demi marwah institusi.
Romo Syafi’i mendefinisikan integritas bagi ASN Kemenag dalam frasa “kesederhanaan yang mewah”. Ia menekankan bahwa gaya hidup sederhana merupakan benteng pertahanan paling kokoh dalam mencegah perilaku koruptif.
“Setiap ASN Kemenag memikul tanggung jawab moral untuk menampilkan citra diri, mulai dari perilaku, pakaian, hingga tutur bahasa yang mencerminkan nilai-nilai kesalehan. Kesederhanaan inilah yang dinilai sebagai kemewahan sejati yang akan mendatangkan ketenangan dalam bekerja dan keberkahan dalam pengabdian,” pesan Wamenag di Yogyakarta, Sabtu (3/1/2026).
Selain itu, Romo Syafi’i juga minta ASN Kemenag untuk menjaga loyalitas yang dibarengi dengan peningkatan kapasitas teknis yang mumpuni. ASN Kemenag diminta tidak hanya hadir secara administratif, tetapi juga harus mampu menjadi solusi praktis dalam kehidupan beragama masyarakat. Ia mencontohkan, seorang ASN Kristiani harus siap memimpin doa jika pendeta berhalangan, demikian pula ASN Muslim harus cakap menjadi imam atau khatib saat dibutuhkan.
“Kesiapan ini adalah bukti loyalitas ASN sebagai “penyangga” umat, memastikan bahwa kehadiran negara dirasakan langsung dalam menjaga kekhidmatan ibadah masyarakat,” sebutnya.
Urgensi peningkatan kapasitas ini, menurut Romo, berbanding lurus dengan fasilitas yang telah diberikan oleh negara. Ia membandingkan kondisi ASN masa kini yang didukung gaji, tunjangan, dan fasilitas dinas yang memadai, dengan perjuangan para tokoh terdahulu yang tulus mengabdi meski kerap dicaci dan hidup dalam keterbatasan. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi ASN Kemenag untuk tidak memberikan kinerja terbaiknya.
“Fasilitas negara yang dinikmati harus ditebus dengan dedikasi dan pelayanan yang jauh melampaui standar rata-rata,” tuturnya.
Dalam konteks pengembangan kelembagaan, Kemenag tengah melakukan transformasi internal yang signifikan melalui penguatan pendidikan vokasi. Setelah berhasil memperjuangkan hadirnya Direktorat Jenderal Pesantren, Romo mengungkapkan visi strategis untuk mentransformasi struktur pendidikan menjadi Direktorat Vokasi. Langkah ini diambil untuk mengakomodasi potensi besar santri dan siswa madrasah yang terbukti unggul di bidang sains dan teknologi.
“Begitu dia belajar agama, paginya dia adalah pekerja profesional, siangnya dia adalah ilmuwan, malamnya dia adalah ulama,” tegas Romo menggambarkan profil lulusan yang dicita-citakan. Ia menambahkan filosofi mendalam di balik transformasi ini, “Belajar agama agar kau bisa memiliki semua yang kau butuhkan untuk melanjutkan kehidupan,”
Menutup arahannya, Romo menitikberatkan pentingnya internalisasi “toleransi organik” dalam kehidupan sosial ASN. Beliau menekankan bahwa moderasi beragama tidak boleh berhenti pada narasi politik semata, melainkan harus mengejawantah dalam praktik hidup bertetangga yang natural.
Berkaca dari pengalaman pribadinya di lingkungan majemuk, toleransi sejati tercermin dari tindakan-tindakan kecil namun bermakna, seperti saling membantu tanpa sekat identitas. Praktik sosiologis inilah yang diharapkan menjadi DNA setiap ASN Kemenag dalam merawat kerukunan bangsa.