PARLEMEN

DPR Dorong Indonesia Miliki Cadangan Penyangga Energi

MONITOR, Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Ratna Juwita mendorong Indonesia memiliki stok penyangga (buffer stock) bahan bakar minyak (BBM). Buffer stock tersebut, menurutnya, penting untuk menjaga ketahanan energi yang beredar di masyarakat.

Meski saat ini, Indonesia memiliki Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menangani tentang energi, namun ia menilai negara perlu memiliki buffer stock tersendiri atau yang disebut dengan Cadangan Penyangga Energi (CPE). Hal tersebut mengemuka usai Ratna dan Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII mengunjungi Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, guna melihat ketersediaan energi di regional tersebut.

“Kalau selama ini kan yang memiliki buffer hanya Pertamina gitu, kita akan mulai mengevaluasi apakah perlu kita memiliki buffer BBM sendiri yang tentunya kita fungsikan untuk bisa menjaga ketahanan energi yang beredar di masyarakat,” kata Ratna kepada Media, di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (27/9/2024).

Sebagai informasi, Indonesia berencana membentuk institusi tersendiri stok penyangga (buffer stock) bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin sejumlah 9,64 juta barel, liquefied petroleum gas (LPG) sebanyak 525,78 ribu metrik ton, dan minyak bumi sebesar 10,17 juta barel hingga 2035.

Rencana buffer stock sektor energi tersebut tertuang di dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 96/2024 tentang Cadangan Penyangga Energi (CPE), yang baru saja ditetapkan dan diundangkan Presiden Joko Widodo pada 2 September 2024.

Dalam hal ini, pengelolaan CPE mengikutsertakan badan usaha milik negara (BUMN) di bidang energi, badan usaha, dan/atau bentuk usaha tetap yang memiliki perizinan berusaha di bidang energi.

Penggunaan CPE sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 huruf d dilakukan apabila terjadi Krisis Energi dan/atau Darurat Energi. Adapun secara struktur, menteri terkait bertanggung jawab dalam pengelolaan CPE tersebut.

Sementara itu, dalam kesempatan kunker tersebut, Ratna meminta Pertamina untuk berkomunikasi dengan pemerintah guna mencari solusi permasalahan kelebihan kuota LPG bersubsidi. Hal ini agar Pertamina dapat terus memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

“Jadi supaya Pertamina secara pelayanan bisa terus mendukung masyarakat namun secara B2B, (stok energi) juga tetap aman gitu seperti harapan kita semuanya,” jelas Politisi Fraksi PKB ini.

Recent Posts

Groundbreaking Hilirisasi Ayam di Enam Titik, Perkuat Pasokan Protein Nasional

MONITOR, Malang - Pemerintah melalui Danantara melaksanakan groundbreaking Pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi, dengan Kabupaten Malang,…

5 jam yang lalu

Kementerian, TNI, dan Polri Kumpul Bahas Penguatan Moderasi Beragama

MONITOR, Jakarta - Sejumlah kementerian dan lembaga negara hari ini, Kamis (5/2/2026), berkumpul di Jakarta…

11 jam yang lalu

Kemenhaj Wajibkan Petugas Haji Isi Penilaian Kinerja Harian

MONITOR, Jakarta - Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) memperkuat pengawasan melekat terhadap petugas haji dalam…

15 jam yang lalu

Koalisi Sipil Kecam Komitmen Rp16,7 T ke Board of Peace: Pemborosan Serius dan Tidak Masuk Akal

MONITOR, Jakarta - Keputusan Presiden Prabowo Subianto menandatangani Piagam Board of Peace (BOP) dan membawa…

15 jam yang lalu

Izzuddin Syarif Siap Nahkodai GP Ansor Lumajang

MONITOR, Lumajang - Dinamika menjelang Konferensi Cabang (Konfercab) XVI Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lumajang kian…

17 jam yang lalu

Karbon Biru jadi Kunci Indonesia Emas, Prof. Rokhmin: Terancam Gagal Tanpa Tata Kelola Kuat

MONITOR, Jakarta - Potensi karbon biru (blue carbon) Indonesia dinilai sebagai salah satu aset strategis…

18 jam yang lalu