Senin, 15 Juli, 2024

Pengkhidmatan Haji yang Membanggakan

MONITOR, Jakarta – Puncak pelaksanaan ibadah haji tahun 2024 telah usai. Secara bertahap, sejak 21 Juni 2024, jemaah haji Indonesia pun mulai Kembali ke Tanah Air. Cerita gembira dan apresiasi banyak disampaikan oleh para jemaah usai mereka tiba di Tanah Air. Alhamdulillah.

Tahun ini, Indonesia memberangkatkan 241 ribu jemaah, 45 ribu di antaranya adalah jemaah lansia. Kita patut mengucapkan syukur, karena semua tahapan pelaksanaan ibadah haji dapat dilalui jemaah tanpa kendala signifikan. Padahal, berdasarkan laporan Menteri Kesehatan RI, pada musim haji ini suhu di tanah haram berkisar antara 48-52 derajat celcius.

Penyelenggaraan ibadah haji merupakan salah satu tugas besar yang diemban oleh Kementerian Agama setiap tahunnya. Tugas besar Kementerian Agama ini merupakan tugas mulia karena ibadah haji merupakan salah satu pilar Islam, perintah agung dari Allah dan sunnah Rasulullah Saw. (Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak (QS. Al-Hajj: 27).

Tugas besar ini tentu harus diemban dengan sebaik-baiknya. Karena itulah Kementerian Agama RI di bawah pimpinan Gus Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas terus melakukan ikhtiar konstruktif, mencari inovasi baru dalam rangka pengkhidmatan terhadap pelaksanan ibadah haji yang membanggakan. Konsekuensi logis ini, dalam dua tahun terakhir pelaksanaan ibadah haji terus menuai pujian dan penghargaan baik dari kalangan jamaah haji, pemerintah Indonesia maupun dari pemerintah Arab Saudi.

- Advertisement -

Tidak dapat disangkal bahwa dalam penyelenggaraan haji pada tahun 2024, Kementerian Agama RI kembali mendapat pujian karena dipandang menyelenggarakan ibadah haji lebih baik dan lebih profesional dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari beberapa testimoni baik dari wakil rakyat, akademisi maupun para jemaah yang merasa nyaman dan aman melaksanakan ibadah haji.

Wakil Ketua MPR, Yandri Susanto misalnya, menyatakan bahwa penyelenggaraan Haji 2024 jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam berbagai aspek pelayanan. Pergerakan jemaah di Muzdalifah lancar dan angka wafat serta rawat jemaah menurun dibanding tahun sebelumnya.

Pengkhidmatan haji yang membanggakan pada tahun 2024 ini merupakan bukti komitmen kuat Kementerian Agama RI dalam menjalankan tugas besar memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah yang melaksanakan ibadah agung ini. Keberhasilan ini patut dibanggakan dan diapresiasi karena mencerminkan perbaikan kinerja yang berkelanjutan.

Di samping itu, keberhasilan ini telah membawa berkah bagi rakyat Indonesia. Keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2024 tidak terlepas dari upaya Kementerian Agama mencari terobosan dan inovasi yang terus menerus.

Amirul Hajj Indonesia, Gus Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas sangat menekankan pentingnya evaluasi dan invonasi yang berkelanjutan dalam penyelenggaraan ibadah haji. Berbagai inovasi dikembangkan oleh kementerian agama. Inovasi ini tidak hanya penting dalam meningkatkan efisiensi, tetapi juga menciptakan dampak positif yang lebih besar dalam masyarakat.

Ikhtiar konstruktif yang dilakukan oleh Kementerian Agama dalam penyelenggaraan haji merupakan penerapan petunjuk Rasulullah kepada pemangku jabatan. Ketika Rasulullah mengutus Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal ke Yaman sebagai pemangku jabatan di Yaman, beliau berpesan, Yassira wala tu’assira yang bermakna Hendaklah kalian mudahkan dan jangan persulit. Inilah paradigma yang harus dipegang oleh pemangku jabatan, selalu berorientasi pada pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Kebijakan murur yang diterapkan bagi jemaah kategori lansia, risti, dan disabilitas merupakan salah satu inovasi baru yang dilakukan Kemeterian Agama RI. Murur bemakna melintas. Kebijakan ini membawa jemaah haji melintasi area Muzdalifah tanpa harus singgah dan bermalam di sana. Jadi saat melintas di Muzdalifah, jemaah tetap berada dalam bus, membaca niat mabit dan langsung menunju tenda-tenda di Mina. Kebijakan cerdas Kementerian Agama ini mampu mengurangi resiko jemaah yang menderita sakit saat di Mina. Skema ini diterapkan setelah mengevaluasi penyelenggaraan haji tahun sebelumnya di mana banyak jemaah yang menderita sakit akibat kelelahan dan cuaca yang sangat panas.

Jemaah sangat diuntungkan dengan skema ini, karena fisik, tenaga dan waktu tidak terkuras. Pukul 7.37 WAS jemaah sudah bergerak dari Muzdalifah. Pada tahun lalu jemaah terakhir meninggalkan Muzdalifah pada pukul 13.30 WAS karena harus mengalami kemacetan sehingga mereka mengalami kelelahan fisik. Kebijakan murur ini dapat membuat jemaah tetap merasa segar dan kuat dalam melanjutkan tahapan haji berikutnya.

Kebijakan penerapan murur ini memiliki basis di dalam hukum Islam. Memelihara keselamatan jiwa (hifz al-nafs) merupakan dharuriyah ketika saling berdesakan di area Muzdalifah. Di sisi lain, terdapat pula kaidah fiqhiyah, Dar’u al-mafasid muqaddamun ‘ala jalbi al-mashalih, yang bermakna menolak kerusakan lebih didahulukan dari sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan. Dengan demikian, kebijakan murur adalah kebijakan yang memiliki dasar hukum yang kuat.

Peluncuran aplikasi Kawal Haji juga merupakan inovasi yang dilakukan Kementerian Agama RI. Melalui aplikasi ini jemaah haji Indonesia bisa mengakses layanan haji secara tepat dan akurat, baik transportasi, akomodasi, makanan, ibadah, dan juga ketika jemaah terpisah dari rombongan atau hilang. Sebagian jemaah haji kita adalah mereka yang baru pertama kali melaksanakan ibadah haji dan juga ada yang belum berpengalaman bepergian ke luar negeri. Tentu aplikasi ini akan memudahkan jemaah bila mengalami hal-hal yang disebutkan di atas.

Inovasi yang juga tidak kalah pentingnya adalah menyiapkan sistem pendampingan, petugas khusus dan penambahan infrastruktur, Haji Ramah Lansia, Katering Jemaah, dan lain-lain. Semua inovasi-inovasi ini memberi andil dalam pencapaian kemajuan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2024. Secara umum dapat dinyatakan bahwa tidak terdapat masalah krusial yang muncul. Masalah-masalah yang muncul di lapangan di mana sangat bersifat kompleks dan teknis dapat ditangani dengan cepat dan baik.

Apresiasi dan penghargaan tinggi patut diberikan kepada Gus Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas yang begitu peduli dan serius memikirkan serta membuat kebijakan layanan haji yang smart dan inovatif, sehingga pengkhitmatan haji tahun 2024 sangat sukses dan membanggakan.

Prof. Dr. H. Mujiburrahman (Rektor UIN Ar Raniry Banda Aceh)

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER