Selasa, 18 Juni, 2024

Haji Ramah Lansia Panggilan Kemanusiaan dan Keagamaan

MONITOR, Jakarta – Bisa berkunjung ke Baitullah dengan status jema’ah haji adalah keberkahan, kebahagiaan, dan kemuliaan dari Allah Swt. Karena, tidak semua orang dipanggil untuk berziarah ke tempat mulia Makkah dan Madinah. Menziarahi makam Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya, lengkap dengan napak tilas sejarah panjang kehidupannya.

Bukan wisata biasa, tetapi wisata religius, yang berorientasi ibadah. Media pertautan antara hamba (‘abdun) dengan Sang Pencipta (Khaliq). Napak tilas dari perjalanan spiritual Bapak Monotheisme Ibrahim as, Ibunda Siti Hajar as dan putranya Ismail as.

Agama melalui fiqih haji (fiqqul hajj) telah memandu para jemaah dengan baik. Syarat, rukun dan sunnahnya haji. Perbuatan-perbuatan apa yang dilarang (diharamkan), dibolehkan (makruh) atau mana amaliah yang diharuskan (diwajibkan). Termasuk bekal doa-doa yang harus di baca sejak keluar dari rumah, naik pesawat, turun pesawat, memasuki kota Makkah, dan ritus-ritus ibadah sebagai penyempurna rukun Islam.

Bagi orang yang awam agama, juga tak boleh khawatir, karena ada pembimbing ibadah, yang akan mengarahkan proses ibadah rukun Islam ke lima ini dengan baik. Yang saat ini belum mempunyai dana, juga jangan berkecil hati, karena bisa menabung sampai titik tertentu diberikan kemampuan.

- Advertisement -

Masalahnya adalah bagaimana kita sebagai ummat Muhammad, bisa menjadi golongan orang-orang yang mendapat panggilan menjadi duyufur Rahman itu? Mempunyai kekayaan saja tidak cukup, pintar agama juga belum memadai. Menjadi pejabat dan konglomerat saja juga belum cukup, tetap harus bersandar kepada kekuatan spiritualitas kita dengan Tuhan. Harus dipanggil oleh Allah Saw sebagai tamu Allah.

Karena menjadi tamu Allah adalah sebuah rahasia. Bisa saja orang yang dilihat secara kasat mata oleh manusia belum pantas, tetapi di mata Tuhan adalah orang yang paling pantas. Berkumpul dengan jutaan jemaah se-dunia, untuk mengagungkan asma-Mu, sebagai ibadah yang dominan fisik.

Ramah Lansia

Ibadah haji tahun 2024 masih sama dengan tahun 2023, diberi tagline oleh Kementerian Agama, sebagai Haji Ramah Lansia. Sebuah kebijakan yang tepat, di tengah antrian panjang, hingga puluhan tahun. Negara hadir, kepada kaum yang mengalami keterbatasan fisik, sakaligus mental karena perjalanan panjang usianya.

Pada saat Kick Off Meeting Penyelenggaraan Haji Tahun 1445 H/2024 M, di Kantor Kemenag RI Jakarta, Senin (4/12/2023), Gus Men mengatakan, Presiden sangat mengapresiasi konsep layanan jemaah lansia dan menjadi salah satu legacy terbaiknya yang telah dilakukan oleh Pemerintah RI melalui Kementerian Agama.

Sebagaimana diketahui bersama, Pemerintah Arab Saudi, telah menetapkan kuota haji tahun 1445 H/2024 M untuk jemaah haji Indonesia sebesar 221.000 jemaah, terdiri atas 203.320 jemaah haji reguler, dan 17.680 jemaah haji khusus. Selain itu, Indonesia juga mendapat kuota tambahan sebesar 20.000 jemaah. Ini tentu menggembirakan, pertanda akan semakin banyak bangsa dengan mayoritas penduduk muslim ini, mendapartkan akses haji yang luas.

Hal ini tentu menjadi peluang yang baik, bagi pemerintah Indonesia untuk terus berbenah penyelenggaraan haji, dengan ratusan juta Jemaah. Termasuk memberikan akses yang luas kepada jemaah yang berusia lanjut usia (Lansia).

Sebagai salah satu Pemantau Haji 2024 duta dari Inspektorat Jenderal, saya merasa bersyukur, bisa turut mendampingi ibadah haji ramah lansia ini. Menurut catatan Ditjen PHU Kemenag, jumlah jemaah haji lansia tahun 1445 H/2024 M masih terbilang tinggi yakni sebanyak 45.000 orang dari total 241.000 jemaah.

Dipastikan jemaah haji lansia, yang berangkat telah memenuhi istitha’ah kesehatan. Semua perangkat haji telah didesain dengan sangat apik oleh Kemenag dan diimbangi dengan sejumlah layanan yang ramah lansia. Layanan konsumsi, transportasi, akomodasi, layanan ibadah dan juga kesehatan. Dalam struktur petugas haji, Kemenag juga telah membuat bidang pelayanan Lansida Disabilitas.

Terobosan ini sebagai ide geniun Kemenag, di bawah komando Gus Men, terhadap pembacaan realitas sosial keagamaan, bahwa masih banyak warga negara Indonesia yang bersusia lanjut, yang belum bisa berhaji.

Dari percakapan saya kepada sejumlah Jemaah Lansia, mereka sangat senang atas kebijakan haji ramah Lansia. “Terimakasih Pak Menteri Agama, melalui kebijakan haji ini, sehingga saya bisa berkesempatan mengunjungi baitulloh, walau umur sudah tak muda lagi”.

Para petugas sigap memandu para jemaah Lansia. Ada yang dipapah, sampai didorong dengan kursi roda. Makanan yang disajikannyapun cukup enak kata mereka. Saya yang menyaksikan merasa terharu sekaligus bangga dengan kebijakan ini.

Lansia sebagai tamu Allah memiliki keunikan tersendiri dengan berbagai tantangan yang dihadapi. Dari mulai keterbatasan fisik, sering lupa, problem literasi keagamaan, hingga merasa tidak kerasan, ingin cepat kembali ke kampung halaman.

Semua itu telah diantisipasi dengan baik oleh Kemenag. Dengan menyediakan para Petugas yang kredibel, professional, dan memiliki komitmen dan kinerja pelayanan yang baik. Di sebuah kesempatan Menteri Agama berpesan kepada para petugas, agar tidak hanya memberikan pelayanan kepada para Jemaah, tetapi juga sekaligus menjadi problem solver atau pemecah masalah. Selain itu petugas, harus sabar sebagai kunci melayani jemaah.

Jemaah Lansia bukan menjadi masalah, tetapi justeru untuk memperkuat khidmah kemanusiaan, keagamaan dan kebangsaan. Komitmen ini penting agar orang tua kita, yang telah berjasa kepada kita mendapatkan perlakuan Istimewa. Semua dari kita tentu menyadari betapa besar jasa orang tua kita.

Kebijakan Haji Ramah Lansia menjadi jawaban penting, sebuah hal yang ditunggu-tunggu bertahun-tahun oleh warga bangsa. Sebuah legacy yang disebut oleh Gus Men sebagai legacy Presiden Ir. H. Joko Widodo.

Bagi saya, Haji Ramah Lansia merupakan panggilan kemanusiaan dan Keagamaan, yang dimandatkan kepada pemegang kebijakan. Sukses haji Indonesia adalah sukses pelayanan haji ramah lansia. Dari Kemenag untuk Indonesia dan dunia. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Ruchman Basori (Inspektur Wilayah II, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI)

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER