Senin, 20 Mei, 2024

Hadiri Haflah dan Wisuda Ponpes Ittifaqiah Sumsel, Prof Rokhmin berbagi Strategi Pengembangan Ekonomi Pesantren

MONITOR, Ogan Ilir – Guru Besar Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS didampingi sang isteri Pigoselpi Anas menghadiri acara Haflah  dan Wisuda ke 56 Pondok Pesantren Al-Ittifaqiah (PPI)   Indralaya Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan, Rabu (21/6/2023).

Dalam orasinya, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan  Kabinet Gotong Royong (2001-2004) itu membeberkan sejumlah hal terkait pengembangan dan pemberdayaan ekonomi pesantren berbasis pertanian dan perikanan.

“Memang sejatinya Islam adalah pedoman hidup (agama dan ideologi) yang sempurna (QS. Al-Maidah [5]: 3) bagi umat manusia, yang bukan hanya mencakup ibadah mahdhah atau hubungan antara manusia dan Allah SWT seperti salat, puasa, zakat, dan haji. Tetapi, juga mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, hubungan antara manusia dengan manusia lain (seperti ekonomi dan bisnis, pendidikan, pengembangan riset dan inovasi, hukum, dan tata kelola kehidupan berbangsa dan bernegara), dan hubungan antara manusia dengan alam semesta (lingkungan hidup),” katanya.

Singkatnya, tutur Rokhmin ketika Umat Islam menjalankan kehidupan duniawinya berdasarkan pada Islam secara kaffah (menyeluruh) dan ittiba’ (menurut caracara yang dicontohkan Rasulullah saw), terbukti Umat Islam mencapai masa keemasannya sejak Fathukh Makkah (abad-7 M) hingga abad-18 (WallaceMurphy, 2006). Pada masa itu, sekitar 11 abad lamanya, Umat Islam menguasai 2/3 wilayah dunia, IPTEK berkembang pesat, dan keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian dirasakan bersama oleh seluruh penduduknya, baik muslim maupun non-muslim.

- Advertisement -

“Rasulullah Muhammad saw menginginkan Umat Islam bisa menjadi insaninsan yang “Qaddirun ‘Ala Kasbi” yaitu yang mampu memenuhi kebutuhan finansialnya sendiri (Fatkhani, 2023). Itulah sebabnya, setiap muslim dan muslimah harus bekerja cerdas, keras, dan ikhlas supaya menjadi insan yang sejahtera dan berdikari serta dapat menolong orang lain yang membutuhkan pertolongan, khususnya kaum fakir – miskin,” tuturnya.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu memaparkan bahwa dari sekian banyak sektor ekonomi, sektor pertanian, sektor kelautan dan perikanan, dan sektor kehutanan (Sumber Daya Alam Terbarukan = Renewable Resources) bersama sektor ESDM merupakan yang terpenting bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, terang dosen kehormatan Mokpo National University Korea Selatan tersebut pengembangan usaha pertanian, kelautan dan perikanan, dan kehutanan yang produktif, efisien (menguntungkan), berdaya saing, inklusif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan (Porter, 2004; O’Connor, 2008) merupakan pilihan yang sangat tepat untuk pemberdayaan ekonomi (peningkatan kesejahteraan) Ponpes dan masyarakat, yang hingga kini kebanyakan masih tertinggal dan kurang sejahtera.

“Fakta, bahwa sebagian besar Ponpes terletak di wilayah perdesaan (rural areas) pun memperkuat argumentasi (alasan) bahwa pemberdayaan ekonomi Ponpes berbasis pada ketiga sektor ekonomi SDA terbarukan adalah sangat tepat,” terangnya.

Menurutnya manakala kita hendak melakukan pemberdayaan ekonomi (peningkatan kapasitas dan kesejahteraan) Ponpes, para alumni Ponpes, maupun masyarakat umum melalui (berbasis pada) ekonomi pertanian, kelautan dan perikanan, dan kehutanan; maka ada beberapa pedoman yang harus dijalankan.

Pertama adalah kita harus memastikan bahwa lokasi setiap unit usaha di sektor pertanian, sektor kelautan dan perikanan, dan sektor kehutanan harus sesuai dengan RTRW. Kedua, setiap unit usaha (bisnis) mesti memenuhi skala ekonominya. Apakah itu, usaha di bidang produksi sarana produksi; produksi (budidaya) komoditas pertanian, kelautan dan perikanan, dan kehutanan serta penangkapan ikan (on-farm); industri pengolahan dan pengemasan hasil pertanian, perikanan, dan kehutanan; perdagangan (trading); maupun usaha pertanian terpadu (hulu – hilir) dari sarana produksi, produksi (on-farm), industri pengolahan sampai ke pemasaran (marketing).

Ketiga, menggunakan teknologi mutakhir dan best practices yang ramah lingkungan di setiap mata rantai pasok. Mulai dari subsistem (mata rantai) sarana produksi (hulu), subsistem produksi (on-farm), subsistem industri pengolahan hasil pertanian dan perikanan (processing industry) sampai ke pemasaran. Keempat, kita harus menerapkan Sistem Manajemen Rantai Pasok Terpadu (Integrated Supply Chain Management System) (Lokollo, dkk., 2012).

“Artinya, setiap usaha budidaya pertanian dan perikanan atau penangkapan ikan (on-farm) harus ada kepastian untuk mendapatkan (membeli) semua sarana produksi yang berkualitas tinggi, harga relatif murah, dan pasokan mencukupi setiap saat diperlukan. Selain itu, penjualan (pemasaran) hasil panen petani, pekebun, peternak, dan pembudidaya ikan serta hasil tangkapan nelayan harus ada jaminan pembelinya, dengan harga sesuai nilai keekonomian atau menguntungkan para petani, nelayan, dan produsen komoditas lainnya,” katanya.

Kelima, seluruh kegiatan usaha (bisnis) di sektor pertanian, sektor kelautan dan perikanan, dan sektor kehutanan haruslah dikerjakan secara ramah lingkungan, tidak membuang limbah dan mengemisikan CO2 dan Gas Rumah Kaca lainnya (zero waste and emission), melakukan konservasi (pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem), dan lainnya.

Sebelumnya, Pimpinan Pondok Pesantren KH Mudrik Qori MA mengatakan bahwa jumlah santri PPI mencapai 7847 orang, sedangkan alumni PPI mencapai lebih dari 30 ribu orang. “Untuk wisuda ke 56 ini tercatat sebanyak 2352 orang santri dengan berbagai tingkatan mengikuti prosesi wisuda ,’’kata Mudrik Qori.

Dipaparkan Kh Mudrik Qori, saat ini PPI memiliki 7 kampus diatas lahan seluas 111 hektar. ’’Dari luas lahan tersebut, selain infrastruktur bangunan PPI, juga ada puluhan lahan pertanian sawit, dan ratusan hektar  lahan kosong yang akan dikelola dan dikembangkan,’’ ungkapnya.

PPI sendiri hadir ditengah tengah masyarakat, berkomitmen mengutamakan mendidik anak-anak dari keluarga miskin dan nyatim , sesuai dengan amanah para pendirinya. “Kami berharap 5 hingga 10 tahun kedepan, PPI tidak lagi memungut biaya yang tinggi, menikmati pendidikan gratis, dan itu akan kita realisasikan,’’ ujarnya.

Masih kata Kh Mudrik Qori, Keberadaan PPI terus terjadi perkembangan, hingga mendapat pengakuan dan penghargaan, seperti Go Internasional, Masuk 20 Ponpes berpengaruh di Indonesia, terbaik Ponpes di Sumsel tahun 2012, dan penghargaan paling cepat kemajuannya sejak tahun 2021.

“Saat ini PPI memiliki 15 program pendidikan formal dengan terakreditasi A, dan memiliki Perguruan Tinggi yakni  Institut Agama Islam Al-quran Al-Ittifaqiah (IAIQI) dengan 7 Prodi yang bercirikan khas Alquran,’’tutur Mudrik Qori.

Dipenghujung acara wisuda dan Haflah, dilakukan Launching dan penandatangan prasastri oleh Prof Dr Ir H Rokhmin Dahuri, yakni PT Tour Wisata Ruhama, Kelas Excellent Informasi Teknologi, Peresmian Baghdad City, Signboard.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER