Senin, 26 September, 2022

Prof Rokhmin: Penerapan Ekonomi Islam dalam Blue Economic atasi Kekurangan Kapitalisme

MONITOR, Bogor – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan-IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS memberikan kuliah Islamic Economics Winter Course 2022, Department of Islamic Economics yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Manajemen – IPB University secara daring dengan tema “Digitalization Of Islamic Social Finance Towrads Islamic Blue Economy (Digitalisasi Keuangan Sosial Islam Menuju Ekonomi Biru Islam)” pada Selasa malam (20/9/2022).

Dalam kesempatan itu, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut membeberkan sejumlah keyakinannya bahwa penerapan Ekonomi Islam dalam Blue Economic Development mampu mengatasi kekurangan atau kelemahan utama paradigma pembangunan konvensional (Kapitalisme) dalam pembangunan ekonomi, khususnya di sektor ekonomi kelautan yakni sebagian besar nelayan, pembudidaya ikan, dan warga pesisir lainnya masih miskin, kontribusinya terhadap perekonomian nasional. (PDB) masih rendah, ketimpangan ekonomi tinggi, dan tidak berkelanjutan.

Menurut Rokhmin Dahuri, pertumbuhan ekonomi global selama 250 tahun terakhir telah menyebabkan degradasi lingkungan besar-besaran yang didorong oleh keserakahan manusia, kegagalan pasar, dan kebijakan yang buruk (Weizsaker dan Wijkman, 2018). “Hampir semua negara di dunia mengalami skala penipisan sumber daya alam, pencemaran lingkungan, dan dampak negatif dari Pemanasan Global,” terangnya.

Perubahan Iklim Global secara langsung dapat merugikan perekonomian dunia sebesar US$ 7,9 triliun pada pertengahan abad ini karena meningkatnya kekeringan, gelombang panas, wabah penyakit, kenaikan permukaan laut, banjir, pengasaman laut, dan gagal panen yang menghambat pertumbuhan dan mengancam infrastruktur (EIU, 2019).

- Advertisement -

“Jika suhu Bumi meningkat lebih tinggi dari 1,50C dari pengukuran dasar, maka dampak negatif Pemanasan Global tidak dapat dikendalikan (IPCC, 2019),” terang Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pengembangan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu.

Di seluruh dunia, jelasnya, terutama di daerah perkotaan, terjadi peningkatan tingkat stres, ketegangan dan perselisihan dalam urusan manusia, disertai dengan dan peningkatan semua gejala anomie (penyakit sosial), seperti frustrasi, kejahatan, alkoholisme, kecanduan narkoba, HIV/AIDS, perceraian, pemukulan anak, penyakit mental dan bunuh diri, semuanya menunjukkan kurangnya kepuasan batin dalam kehidupan individu (Brown, 2003; Chapra, 2014).

Kemudian, ketidakadilan ekonomi (ketimpangan ekonomi), pengangguran, kemiskinan absolut, dan diskriminasi politik telah banyak dilaporkan dan diyakini sebagai akar penyebab radikalisme, terorisme, dan perang (Cavanagh dan Mander, 2004; Yunus, 2017).

Sementara itu tiga konsep fundamental dari dasar pandangan dunia Islam. Ini termasuk Tauhid (Keesaan dan Keesaan Tuhan), Khilafah (wakil dari manusia) dan Adalah (keadilan) dan Falah. “Tauhid menjadi konsep inti karena dua lainnya membentuk turunan logisnya. Tauhid berarti desain dan penciptaan Alam Semesta dengan anggun oleh Yang Maha Esa yang Esa dan Unik dan bahwa alam semesta tidak muncul secara kebetulan atau kebetulan dan apa pun yang diciptakan di Alam Semesta memiliki tujuan,” katanya.

Prof. Rokhmin Dahuri menyampaikan berdasarkan akal Ketuhanan (Dalil Naqly): (1) Islam adalah agama yang sempurna dari Allah (Tuhan) Yang Maha Kuasa (QS. 5:3); (2) Islam memberikan pedoman yang lengkap bagi kehidupan manusia tidak hanya untuk akhirat (di akhirat) tetapi juga untuk semua aspek kehidupan manusia (termasuk ekonomi dan keuangan) di dunia (QS. 2: 208; Hadits);

Dan (3) barang siapa yang tidak memutuskan (memutuskan) suatu perkara (sesuatu) dengan apa yang diturunkan Allah (Hukum Allah: Al-Qur’an dan Hadits), itulah orang-orang Kafirun (QS. 5:44), Zalimun (QS. 5:45), atau Fasiqun (QS.5:47). Patut dicatat bahwa semua Kafirun, Zalimun, dan Fasiqun akan menjadi penghuni Neraka (An-Nar) di akhirat (akhirah).

Alasan Rasional (Dalil Aqly): setiap penciptaan (makhluk) akan berhasil jika penciptaan (termasuk manusia) mengikuti petunjuk (buku pedoman) yang dibuat olehnya, dia, dan penciptanya (Allah, Tuhan Yang Maha Esa).

Alasan Empiris: pedoman hidup manusia selain Islam, yaitu Komunisme telah mati (tidak ada pengikut) sejak 1989 (runtuhnya Uni Soviet), dan Kapitalisme sebenarnya telah gagal dalam mencapai tujuan kemanusiaan yaitu: kemajuan, kemakmuran, keadilan, perdamaian, dan kelestarian lingkungan.

“Sementara itu, setelah ummat Islam menerapkan syariat Islam secara holistik (kaffah) dan sesuai dengan hadits (‘ittiba) pada masa Fathu Makkah hingga abad ke-16, ummat Islam semakin maju,” kata Wakil Ketua Dewan Pakar MN – KAHMI itu.

Ketua Perhimpunan Akuakultur Indonesia itu menjelaskan, ekonomi biru didefinisikan sebagai model ekonomi yang menggunakan infrastruktur hijau, teknologi dan praktik, mekanisme pembiayaan yang inovatif dan inklusif, dan pengaturan kelembagaan proaktif untuk memenuhi tujuan kembar melindungi pantai dan lautan, dan pada saat yang sama meningkatkan potensi kontribusinya terhadap ekonomi berkelanjutan. pembangunan, termasuk meningkatkan kesejahteraan manusia dan mengurangi risiko lingkungan dan kelangkaan ekologis. (PEMSEA, 2011; UNEP, 2012).

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER