Rabu, 5 Oktober, 2022

Mengikhlaskan Sang Pejuang Moderasi

Oleh: Abdul Mukti Ro’uf*

Di berbagai platform Media Sosial yang terkoneksi dalam jaringan, dalam beberapa hari ini dipenuhi berita duka mendalam atas wafatnya Prof, Dr. Azyumardi Azra, MA, CBE, seorang cendikiawan muslim tersohor yang dimiliki bangsa Indonesia. Ia wafat dalam muhibah intelektualnya di Malaysia pada 18 September 2022 pukul 12.30 dalam usia 67 tahun.

Alangkah bahagianya bagi seseorang yang dipanggil kekasih-Nya dalam perjalanan dakwah dalam menebarkan ilmu. Begitulah tanda-tanda orang baik. Kepergiannya diringi banyak doa dari berbagai penjuru negeri dan dunia. Tak diragukan lagi bahwa ketokohannya sebagai cendikiawan yang mendidik bangsa ini dibuktikan oleh ucapan belasungkawa dari banyak kalangan yang multi golongan.

Dedikasi dan Legacy

- Advertisement -

Dalam kesaksian dan interaksi langsung, sosok Azyumardi Azra tak ayal lagi bukan sekedar intelektual biasa, melainkan intelektual organik yang down to earth. Keteguhannya untuk menarik jarak dengan kekuasaan menjadikan independensinya tetap terjaga, hingga akhir hayatnya. Pandangannya selalu kritis terhadap apa saja yang menjadi penghalang bagi tumbuh-kembangnya nalar ilmiah baik dalam lingkungan kampusnya sendiri maupun dalam ranah yang lebih luas, negara.

Awal karirnya sebagai pejabat di lingkungan kampuspun—sebagaimana pengakuannya sendiri dalam sebuah talk show—bukan karena motif berkuasa. Melainkan karena jalan pikiran untuk membesarkan Kampus Islam (baca: IAIN-UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Modal moral-intelektualnya yang terus terjaga itulah yang di kemudian hari memosisikannya sebagai intelektual ternama dalam kajian keislaman terutama dalam peminatan sejarah Islam.

Karya-karyanya di bidang Sejarah Islam, jika ditelusuri di berbagai literatur dalam publikasi jurnal ilmiah, tampak semarak. Berbagai posisi akademik dalam publikasi jurnal berindeks scopus, juga makin menguatkan dunia intelektual atas otoritas akademiknya dalam blantika keilmuan terutama dalam Islamic Studies.

Selain psoisi intelektualnya yang gemilang, Azra adalah salah satu “otak” di balik transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) ke Universitas Islam Negeri (UIN). Sejak diamantkan oleh Prof. Dr. Quraish Shihab, MA selaku Rektor IAIN pada waktu itu, di tangan Azra dalam kepemimpinannya sebagai Rektor IAIN dua periode—bersama orang kepercayaannya, almarhum Prof. Suwito, berhasil “menghijrahkan” IAIN yang melulu hanya sebagai kajian keagamaan menjadi “universal” dengan dibukanya prodi-prodi umum seperti kedokteran, sain dan teknologi, ilmu politik, hukum dan lain sebagainya.

Dalam kontribusinya sebagai pemikir sejarah Islam, Azra telah menyemai benih-benih intelektualnya dalam wujud kelembagaan Islam yang modern dan diakui masyarakat. Kiprah para alumninya baik alumni IAIN-UIN Syahid Jakarta maupun UIN-IAIN-STAIN di Indonesia, tidak lagi melulu dalam kajian keagamaan, melainkan tersebar di banyak bidang. Sehingga kini, UIN-IAIN tidak lagi dipandang “sebalah mata” oleh masyarakat.

Fakultas kedokteran yang bersemayam di UIN—utamanya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta—sudah dapat berkompetisi dengan fakultas kedokteran di kampus-kampus umum lainnya. Bahkan, di FKIK memiliki kekahasannya sendiri, yaitu wawasan keagamaannya bisa mengimbnagi pengetahuan saintifiknya. Dengan wujud kelembagaan itu sejatinya, gagassan UIN tengah mengembalikan kejayaan peradaban Islam pada masa lampau dimana integrasi agama dan ilmu menjadi spirit atas kebangkitan Islam. Ide integrasi ilmu inilah yang kini terus dikembangkan di berbagai institusi pendidikan Islam. Dan Prof Azra adalah bagian dari intealektual yang mendorong berbagai institusionalisasi lembaga dengan gagasan integrasi ilmu.

Selain gagasan integrasi ilmu yang mewujud dalam lembaga, Prof Azra adalah intelektual yang sangat getol mempromosikan ke dunia tentang Islam Indonesia yang berkarakter moderat. Karya-karya belakangan yang ditulis Azra sebagian besar seputar Islam Indonesia yang berpotensi menjadi rujukan dunia karena karakternya yang sejalan dengan sifat dasar Islam: rahmatan lil alamin.

Azra menyerukan perlunya menghadirkan wasathiyatul Islam dalam negara bangsa yang pluralis seperti Indonesia. Islam dengan pemeluknya yang mayoritas harus mampu mengayomi warga bangsa yang lain. Dalam persepktif Kementerian Agama, di kenal dengan moderasi beragama. Kini bangs aini menjadi bangsa yang besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia dan dihuni oleh banyak warga muslim yang sangat moderat.

Azra seringkali mengkritik sangat keras terhadap kelompok-kelompok yang menebarkan Islam atas dasar pandangan yang skiruptualistik, apalagi bercampur politik kuasa. Namun demikian pada saat yang sama, Azra tidak sungkan untuk mengkritik rezim pemerintah yang berlaku tidak adil atas dasar nilai-nilai Pancasila dan keagungan demokrasi. Independensinya dalam melontarkan kritik semakin membuat dirinya dihargai sebagai intelektual yang berpengaruh, dalam mengembangkan Islam yang sejuk dan damai.

Sebagai cendekiawan, Azra, dalam penampilan sehari-harinya cukup independen dan sederhana. Saking independennya, seringkali dikesankan “sombong”. Dalam pengalaman interaksi langsung—meski tidak seintens dengan kader “ideologis”nya—penulis dapat merasakan betapa penghargaannya terhadap hasil-hasil karya yang jujur dan autentik menjadi perhatiannya.

Sebagai mentor intelektual yang mumpuni, penulis merasa bersyukur telah menjadi muridnya meski sebatas dalam ruang kelas dan bimbingan disertasi. Tuangan dalam kata pengantar buku yang penulis dedikasakan kepada dunia intelektual, barangkali bukti kecil atas “interkasi inteletual” dari sang guru bangsa.

Kini, kita hanya bisa mendoakan agar seluruh dedikasi “professor moderat” ini dapat menjadi amal soleh bagi kehidupannya di alam akherat bersama Sang Kekasih, Allah SWT. Selamat jalan guru, damai bersama Sang Maha Damai di Surga-Nya. Wallahu a’lam bi al shawab.

*Penulis merupakan Dosen IAIN Pontianak, Alumni SPs UIN Jakarta

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER