Sabtu, 1 Oktober, 2022

Guru Besar UPH Prof Niko: Pastikan Pendidik Punya Mental yang Sehat

MONITOR, Jakarta – Salah satu tantangan yang dihadapi oleh institusi pendidikan adalah
memastikan para tenaga pendidik memiliki kesehatan mental yang baik. Tidak dapat dipungkiri bahwa pada masa pandemi COVID-19, banyak tenaga pendidik memiliki tingkat stres tinggi yang disebabkan oleh perubahan cara kerja, dimana keadaan ini telah membuat mereka menghadapi beragam ketidakpastian dalam bekerja yang akhirnya memicu masalah pada kesehatan mental.

Fenomena ini yang disoroti dan menjadi fokus paparan dari orasi ilmiah Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pelita Harapan (UPH), Prof. Dr. Niko Sudibjo, S. Psi., M. A., Psikolog, saat dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Pendidikan pada 18 Agustus 2022, berdasarkan Surat Keputusan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tertanggal 1 April 2022.

Pada acara pengukuhan, Prof. Niko menyampaikan orasi ilmiah yang berjudul “Peran Kebahagiaan di Tempat Kerja dan Persepsi Dukungan Organisasi dalam Menjaga Kesehatan Mental Pendidik Menghadapi Pandemi COVID-19”. Melalui paparannya, Prof. Niko menekankan bahwa pendidik dengan kesehatan mental yang baik adalah mereka yang memiliki karakteristik seperti kondisi tubuh yang sehat, memiliki kondisi psikis atau mental yang baik untuk mampu menikmati pekerjaan, mampu berelasi dengan rekan kerja dan peserta didik, serta mampu mengatasi tantangan pekerjaan sehari-hari secara baik.

Dalam penelitiannya, ia menemukan dua komponen penting yang memengaruhi kesehatan mental, yaitu kebahagiaan di tempat kerja (happiness at work) dan persepsi dukungan organisasi (perceived organizational support). Penelitian ini mengajukan model untuk memprediksi faktor-faktor yang memengaruhi kesehatan mental pendidik.

- Advertisement -

“Kebahagiaan di tempat kerja merupakan aspek penilaian subjektif individu mengenai kesejahteraan di tempat ia bekerja. Terdapat beberapa faktor yang mendorong kebahagiaan ketika bekerja yaitu mereka dapat menyampaikan ide dengan bebas baik kepada rekan kerja maupun atasan, memiliki kondisi fisik yang prima untuk bekerja, dan mencapai target kerja yang telah ditetapkan,” jelas Prof. Niko pada acara pengukuhannya.

Ia melanjutkan, kebahagiaan di tempat kerja yang tinggi secara positif memengaruhi kesehatan individu, termasuk daya tahan yang lebih baik terhadap stres dan kelelahan. Faktor lain yang memengaruhi kesehatan mental pendidik adalah persepsi dukungan organisasi, dimana ini adalah keyakinan bahwa organisasi tempat seseorang bekerja peduli dengan kesejahteraan karyawan dan menghargai kontribusi mereka.

Persepsi dukungan organisasi adalah teori yang menekankan pentingnya karyawan sebagai sumber daya dan aset berharga yang dimiliki organisasi, maka dari itu semakin besar persepsi dukungan organisasi terhadap karyawan organisasi tersebut, akan semakin baik kesehatan mental karyawannya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa para tenaga pendidik masih mengalami keraguan akan adanya dukungan dari institusi tempat mereka bekerja. Keraguan dukungan tersebut antara lain, organisasi belum menghargai upaya terbaik mereka dalam bekerja, organisasi belum peduli dengan keluhan mereka, organisasi belum secara optimal memberikan dukungan pada saat mereka sakit di masa pandemi, dan belum adanya support secara memadai dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh.

Keraguan tersebut yang kemudian dapat berdampak pada kesehatan mental, khususnya di masa pandemi.

“Pimpinan sekolah dan universitas harus memberikan dukungan yang cukup dan sesuai kepada para pendidik dalam melaksanakan pekerjaan. Kita tahu, di masa pandemi COVID-19, pembelajaran berubah 180 derajat dari onsite menjadi online, dan para pendidik “dipaksa” untuk mampu mengatasi situasi yang baru,” terangnya.

“Maka organisasi perlu juga mendukung dengan pengadaan fasilitas dan dukungan untuk pembelajaran jarak jauh, misalnya pelatihan menggunakan teknologi pembelajaran jarak jauh yang fleksibel dan sesuai dengan kemampuan. Di sinilah perlunya organisasi menerapkan disiplin ilmu teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan telah terbukti memberikan pengaruh yang sangat besar dalam proses pembelajaran, mulai dari memampukan pendidik dalam mendesain pembelajaran, hingga mengevaluasi hasil dan proses pembelajaran. Selanjutnya, organisasi juga perlu memberikan penghargaan yang sesuai, terutama yang berhasil melakukan terobosan pembelajaran digital dan kreativitas yang terbentuk,” sambungnya lagi.

Prof. Niko berharap, hasil penelitiannya ini dapat memberikan pandangan baru tentang pentingnya dua variabel yang harus ada pada organisasi, yaitu menjaga kebahagiaan tenaga pendidik dan persepsi dukungan organisasi untuk menjaga kesehatan mental tenaga pendidik. Hal ini dapat dicapai ketika budaya dan iklim kerja yang positif dapat terbangun, yaitu melalui pengadaan fasilitas, pemberian perhatian, dan evaluasi kerja yang adil.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER