Kamis, 18 Agustus, 2022

Dua Komisioner KPAI Digadang Masuk Bursa Caketum PP Fatayat NU

MONITOR, Jakarta – Badan Otonom Nahdlatul Ulama (NU) Fatayat NU menggelar kegiatan Kongres ke XVI, kegiatan rutin lima tahunan ini digelar di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang, Sumatera Selatan, Kamis 14 Juli hingga Minggu 17 Juli mendatang. 

Selain penyampaian laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan periode 2015-2020, kegiatan juga akan diisi dengan pemilihan ketua umum organisasi yang bergerak di bidang perempuan muda NU itu untuk lima tahun ke depan. Total 34 pimpinan wilayah pada tingkat provinsi dengan 480 pimpinan cabang turut serta pada kongres yang mengusung jargon “riang gembira” ini. 

Sementara itu, dua calon kandidat digadang-gadang masuk bursa Ketua Umum Fatayat NU Periode 2022-2027,  Ai Maryati Sholihah dan Margaret Aliyatul Maimunah yang keduanya merupakan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang masing-masing menjabat sebagai Pengurus PP Fatayat NU periode saat ini. 

Berdasarkan wawancara dari YouTube TVNU masing-masing calon kandidat mengusung rencana perbaikan untuk organisasi yang didirikan tahun 1950 itu. Ai Maryati Sholihah memiliki konsen terhadap reorganisasi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Fatayat NU. Ia menuturkan,  salah satu capaian kesejahteraan sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang diukur melalui indeks pembangunan manusia maupun pembangunan gender (persamaan laki-laki dan perempuan). 

- Advertisement -

“Hingga saat ini IPM Indonesia masih dalam rerata 71% dibawah IPM laki-laki 75% dan IPM perempuan menduduki 69%. Hal tersebut menunjukkan perlu kerja keras dan kerja cerdas bangsa ini dalam menggapai peningkatan kualitas hidup. Sektor Pendidikan, Kesehatan dan ekonomi menjadi faktor yang menempatkan pencapaian tersebut,” ujarnya. 

Sementara, masalah kesenjangan gender masih saja ada di Indonesia. Misalnya, kesenjangan laki-laki dan perempuan pada peran aktif dalam dunia politik, pengambilan keputusan dan ekonomi. Perempuan dalam panggung parlemen tahun 2019 masih menempati 118 dari 575 anggota DPR RI.

Untuk itu, reorganisasi yang efektif pada tubuh Fatayat NU diyakininya akan menciptakan tatanan yang dinamis sehingga Fatayat bisa terlibat dalam perumusan kebijakan strategis, utamanya menyangkut kajian perempuan dan anak.

“Membutuhkan reorganisasi di dalam menciptakan dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Memastikan kader Fatayat bisa masuk dan terlibat dalam positioning strategis,” ungkap Ai.

Hal tersebut, lanjut Ai, bisa terwujud melalui optimalisasi peran Fatayat NU sebagai organisasi sosial keagamaan. Selain itu, rencana reorganisasi yang diusung juga diharapkan bisa membawa peningkatan indeks pembangunan manusia.

“Dengan optimalisasi peran organisasi dan menuju pada peningkatan indeks pembangunan manusia seutuhnya di Indonesia,” paparnya.

Menurutnya, Fatayat NU memiliki komunitas khusus, unik dan berkarakter. Dia meyakini, perlu implementasi visi Khittah NU dalam kerangka gerakan Fatayat NU yang bisa dilakukan dengan pertama, mewujudkan kemandirian Gerakan perempuan dalam menguatkan kelembagaan dan SDM jam’iyah Fatayat NU sebagai penggerak Islam washatiyyah.

Kemudian, menyiapkan Kepemimpinan perempuan NU yang berkualitas untuk percepatan pembangunan dan demokratisasi di Indonesia serta meningkatkan layanan social kemasyarakatan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menuju pencapaian SDGs dan Indonesia sejahtera. 

“Peningkatannya adalah bukan hanya agent social change tetapi pada guidening, pendampingan. Di Fatayat ini kami menyiapkan perangkatnya. Saya punya harapan dan optimisme kader Fatayat NU mewujudkan citra diri Fatayat dan menjadi keluarga besar NU,” ucapnya.

Dia berharap, Fatayat NU tidak bekerja pada satu kepentingan politik tertentu maupun partai politik tertentu, melainkan berkomitmen kuat terhadap keumatan, kebangsaaan dan tegaknya demokrasi di Indonesia

Sementara, Margaret Aliyatul Maimunah, yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Umum PP Fatayat NU berkomitmen untuk menguatkan sistem kaderisasi dan kelembagaan Fatayat NU dengan  memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi sebagai strategi dakwah Fatayat NU. 

“Saya memiliki keterbatasan wewenang, berbeda dengan ketum sebagai pemegang kebijakan utama. Sehingga, saya yang saat ini sudah menjadi sekum (sekretaris umum), terdorong untuk menjadi ketum. Harapannya ingin berbuat lebih,” paparnya, 

Dia berharap, karena Fatayat NU merupakan organisasi perempuan NU sebagai organisasi keagamaan, maka perlu penguatan  organisasi agar jadi sumber rujukan utama pengetahuan Islam yang konsen pada perempuan dan anak.

“Melalui ini kita bisa membuat kader memahami organisasinya, bergerak untuk penguatan organisasinya,  meningkatkan komitmen sehingga bisa membentuk kader yang militan,” ujarnya. 

Kemudian, Margaret juga menyinggung masalah pentingnya sumber rujukan keislaman, utamanya pada kajian anak dan perempuan. Ia berpendapat, perlu adanya penguatan terkait beberapa isu perempuan dan anak terkini yang dapat dikaji melalui forum bahtsul masail. Hal tersebut, lanjut dia, dinilai dapat menguatkan peran Fatayat NU sebagai rujukan terkait isu terkait.

“Kita hampir tidak pernah ada bahtsul masail untuk beberapa isu perempuan era kekinian yang itu perlu ditelaah dari perspektif kekinian. Ini penting selanjutnya menguatkan kembali Fatayat menjadi sumber rujukan Islam terkait perempuan dan anak,” katanya. 

Maka, dia berkomitmen untuk melanjutkan program-program yang sebelumnya terkait  kesehatan reproduksi, penguatan kemandirian ekonomi perempuan serta dakwah melawan radikalisme.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER