Kamis, 18 Agustus, 2022

Festival Bakar Ikan Nusantara, PDIP ingatkan Ketahanan Pangan dan Pencegahan Stunting

MONITOR, Jakarta – PDI Perjuangan (PDIP) menggelar Festival Bakar Ikan Nusantara dalam rangkaian peringatan Bulan Bung Karno 2022di Hall B Jakarta Convention Center Senayan, Jakarta, hari ini Sabtu (25/06/2022).

Ketua Bidang Kelautan, Perikanan dan Nelayan DPP PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS pada kesempatan tersebut menyinggung kondisi Stunting atau masalah kurang gizi kronis di Indonesia yang sangat ironis mengingat potensi sumber gizi yang melimpah yaitu sektor perikanan dan kelautan.

“Komoditas dan produk perikanan mengandung nilai nutrisi dan gizi yang sangat baik bagi kesehatan dan kecerdasan manusia dimana Indonesia memiliki potensi produksi perikanan lestari terbesar di dunia, sekitar 115,3 juta ton/tahun, dan baru dimanfaatkan sekitar 30%,” ujar Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University ini.

Menurut Prof. Rokhmin Dahuri, ikan menjadi produk strategis dalam mencegah Stunting. Karena, katanya, mempunyai keunggulan protein dibandingkan dengan red meat (daging sapi, ayam) dan telur.

- Advertisement -

“Tapi yang utama proteinnya mudah dicerna di tubuh kita. Jadi untuk balita sangat bagus untuk mengatasi stunting. Selain itu, lanjutnya, potensi produksi perikanan di Indonesia sangat besar dengan keragaman jenis ikan di Indonesia sangat tinggi dan tersedia sepanjang tahun,” kata Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara itu.

Kemudian, sambungnya, asam amino ikan pun termasuk yang paling lengkap dari sekian belas asam amino esensia yang menstimulasi otak-otak anak balita. Kemudian asam lemak nya pun tidak jenuh 200mg ke atas ada di ikan, lobster, sedangkan daging sapi 24%.

Jadi, menurut Prof. Rokhmin Dahuri bagus sekali, karena hampir semua vitamin mulai vitamin A, vitamin B, yudium ada dalam ikan. “Sayangnya konsumsi ikan orang Indonesia baru mencapai 50kg, kalau di Jepang sudah 80kg, Jadi kalau kita konsumsi ikan tinggi Insya Allah kita semakin sehat. Dan secara medis semakin cerdas,” ungkap Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia ini menjelaskan.

Lanjutnya, Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan, bahwa untuk mengkselerasi terwujudnya Indoensia Emas (Maju, Adil-Makmur, dan Berdaulat) pada 2045 bangsa Indonesia harus melakukan reorientasi pembangunan sebagai negara maritime yaitu memberdayakan sumber daya alam. Salah satu sumber daya alam yang sangat penting adalah pangan.

Prof. Rokhmin mengingatkan pidato Proklamator RI Bung Karno pada 1952 yang menyebut pangan adalah hidup mati sebuah bangsa. Hal itu pun diamini oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Beruntung Indonesia memiliki potensi itu karena sebagai negara agraris dan maritim terbesar di dunia,” jelasnya.

Oleh karena itu, tegasnya, PDIP di bulan Bung Karno sangat konsen membidik bahwa pangan ini harus berdaulat. Karena pangan menentukan kualitas sumber daya manusia. “Jadi kalau gizi kita buruk, asupan pangan kurang bergizi bisa stunting dan buruk dini,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan RI tahun 2001-2004 itu.

Sementara itu, Ketua DPP PDIP bidang Politik Puan Maharani mengatakan, ketahanan dan kedaulatan pangan merupakan hal yang penting untuk mengantisipasi dampak global, yang salah satunya disebabkan perang Rusia-Ukraina. Pentingnya ketahanan dan kedaulatan pangan ini yang membuat PDIP menggelar Festival Bakar Ikan Nusantara dan Sajian Kuliner Nusantara.

“Saya tanya kenapa bikin acara resep Mustika Rasa dan bakar ikan bersama? Karena apa? Sekarang itu ketahanan pangan, kedaulatan pangan, penting sekali, apalagi di saat perang Rusia dan Ukraina ini,” ungkap Puan dalam keterangannya.

Dikatakan, Presiden Jokowi telah mengingatkan sejumlah negara mulai kekurangan bahan pangan akibat dampak global tersebut. Bahkan, sejumlah negara memutuskan tidak mengekspor bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Semua negara itu kan kemarin waktu yang datang di Rakernas disampaikan ketum dan Pak Jokowi, Pak Presiden, sekarang itu negara-negara itu kekurangan terkait dengan pangannya. Bahkan sudah ada negara-negara yang tidak mau mengeluarkan makanan atau bahan pangan itu untuk diekspor karena disimpan negaranya,” tuturnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER