Jumat, 1 Juli, 2022

Rokhmin Dahuri apresiasi Honda Marine sebagai Upaya Modernisasi Teknologi Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan

MONITOR, Padang – Penasehat Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prof Rokhmin Dahuri mengapresiasi kehadiran mesin tempel untuk kapal Honda Marine dan sebagai upaya modernisasi tekonologi penangkapan ikan ramah lingkungan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan dan kontribusi sektor perikanan bagi perekonomian secara berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Prof Rokhmin Dahuri saat menjadi keynote speaker pada acaraPembukaan Dealer Honda Marine Padang. “Fakta membuktikan Honda lebih hemat, kemudian tidak berisik mesinnya. Dan selanjutnya ramah lingkungan, karena polusi jelaganya kurang,” katanya di Mercure Hotel Padang pada Jum’at (27/5/2022).

Selain itu, terang guru besar fakultas perikanan dan ilmu kelautan IPB tersebut, produk Honda Marine 40 persen hemat BBM sehingga sangat membantu para nelayan di Sumbar. “Di satu sisi meningkatkan pendapatan, di sisi kedua mengurangi biaya melaut bagi nelayan. Jadi kita sambut dengan baik,” tuturnya.

Pada kesempatan tersebut, Prof Rokhmin membeberkan sejumlah hal penting terkait pemanfaatan potensi sektor kelautan dan perikanan khususnya di wilayah provinsi Sumatera Barat dan umumnya di Indonesia yang belum maksimal tidak memenuhi skala ekonomi.

- Advertisement -

“Sebagian besar usaha perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan dilakukan secara tradisional (low technology) dan berskala Usaha Kecil dan Mikro sehingga, tingkat pemanfaatan SDI, produktivitas, dan efisiensi usaha perikanan pada umumnya rendah Nelayan dan pelaku usaha lain miskin, dan kontribusi bagi perekonomian (PDB, nilai ekspor, pajak, PNBP, dan PAD) rendah,” ungkapnya.

Selain itu, jelas Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut ukuran unit usaha (bisnis) perikanan tangkap, perikanan budidaya, pengolahan hasil perikanan, dan perdagangan hasil perikanan sebagian besar tidak memenuhi skala ekonomi (economy of scale) sehingga, keuntungan bersih (pendapatan) lebih kecil dari US$ 300 (Rp 4,5 juta)/orang/bulan, alias miskin.

Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu menyebut bahwa perlu pendekatan sistem untuk mewujudkan perikanan tangkap yang mensejahterakan dan berkelanjutan yakni dengan mendorong peningkatan Penangkapan ≤ MSY, Income ABK > $300/Orang/Bln, Penerapan  satu atau lebih Teknik Manajemen Perikanan Tangkap, Penerapan Best Handling Practices, Matapencaharian Alternatif, saat Nelayan tidak bisa Melaut, dan Perbaikan Sistem Bagi Hasil antara Pemilik Kapal Ikan dan ABK.

Sementara untuk program pasca panen pemerintah harus mendorong pelabuhan perikanan berkelas dunia lengkap dengan Kawasan industri Perikanan Terpadu, Armada transportasi berpendingin ke konsumen (pasar) domestik & Ekspor. “Ikan hasil tangkapan nelayan berapapun & kapan saja dapat terjual dengan harga sesuai keekonomian,” katanya.

“Modernisasi armada kapal ikan tradisional yang ada saat ini, sehingga pendapatan nelayan ABK > US$ 300 (Rp 4,5 juta)/nelayan/bulan. Pengembangan kapal ikan modern (> 30 GT) dengan alat tangkap yang efisien dan ramah lingkungan untuk memanfaatkan SDI di wilayah laut 12 mil – 200 mil (ZEEI), dan  Kapal Ikan > 50 GT untuk laut lepas > 200 mil ( International Waters atau High Seas),” tambahnya.

“Tadi saya tegaskan bahwa kalau ingin survive dan berkelanjutan harus kompetitif produknya. Kualitas unggul, harga relatif murah dan volume produksi tinggi,” sambung Rokhmin.

Sebagai informasi, Honda Marine yang merupakan mesin tempel untuk kapal yang memiliki beberapa keunggulan dibanding mesin lainnya. Melalui PT Alam Bahari Sukses, Honda menghadirkan mesin tempel untuk kapal di Sumatera Barat.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER