Sabtu, Mei 28, 2022

Berkhidmah Tanpa Batas ala Gerakan Pemuda Ansor

Ruchman Basori
Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Bidang Kaderisasi

Jutaan kader dan anggota Gerakan Pemuda Ansor kini sedang sibuk melakukan giat Posko Mudik Lebaran di ruas-ruas jalan di hampir seluruh wilayah Indonesia. Pulau Jawa, DKI Jakarta, Kalimantan, Sumatera, Aceh hingga wilayah Timur Indonesia.

Kendatipun mendirikan Posko Mudik sudah biasa dilakukan oleh organisasi yang kini memiliki anggota kurang lebih tujuh juta kader, giat tahun ini terasa lain. Karena selama dua tahun lebaran, bangsa ini dilanda pandemi Covid-19, dimana jumlah pemudik tidak banyak seperti tahun ini.

Tentu semangat, dedikasi, komitmen dan gerak juang menjadi lapisan terpenting apalagi di saat baru saja Gerakan Pemuda Ansor memperingati Hari Lahirnya yang ke 88, tepatnya lahir pada 24 April 1934.

- Advertisement -

Tema Hari Lahir (Harlah) Gerakan Pemuda Ansor yang ke-88 tahun ini adalah: “Berkhidmah Tanpa Batas”. Tema yang simpel tetapi penuh makna, heroik dan memiliki karakter dasar kaum santri yang saat ini menjadi bagian terbesar dari Gerakan Pemuda Ansor.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata khidmah berarti kegiatan, pengabdian, dan pelayanan. Berkhidmah adalah melakukan kegiatan, pengabdian dan pelayanan. Berkhidmah tanpa batas bermakna melakukan kegiatan yang baik, pengabdian dan pelayanan yang tanpa batas.

Berkhidmah hakikatnya adalah melakukan suatu kebaikan dalam bentuk pengabdian terhadap sesuatu yang didasari bukan dengan motif kepentingan pribadi (popularitas, pengaruh, harta) dan kepentingan duniawiyah lainnya, melainkan semata-mata karena Alloh swt seraya berharap keberkahan hidup dari Sang Maha Pencipta.

Al-Qur’an surat Al-Naml ayat 19 menyebutkan makna khidmah atau pengabdian. “Robbi auzi’nii an asykuro ni’matakalattii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala soolihan tardhoohu wa adkhilnii birohmatika fii ‘ibadikash soolihiin. (Ya Allah, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan untuk (selalu) mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai, serta masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh).

Berkhidmah untuk Siapa?

GP Ansor memandang the others (lian) dalam negara bangsa Indonesia, adalah bukan musuh. Tetapi saudara dan sahabat yang harus bisa hidup rukun, membangun harmoni di tengah pluralitas. Makanya sahabat-sahabat Ansor kerap melakukan kegiatan sosial dengan saudara yang berbeda agama sekalipun.

Berulang kali Yaqut Cholil Qaumas Ketua Umum Gerakan Pemuda Ansor memberikan motivasi kepada kader dengan mengutip kalimat Sayyidina Ali Bin Abi Thalib: “Mereka Yang Tidak Saudara Dalam Iman, Adalah Saudara Dalam Kemanusiaan”.

Inilah yang melandasi para kader Ansor di semua tingkatan untuk membangun hidup damai (peacepul jihad), harmonis di Indonesia. Menjaga gereja, pura, vihara, dan tempat-tempat ibadah agama lain adalah salah satu implelemntasi ajaran ini.

“Gereja saja di jaga apalagi masjid bagi umat Islam”, demikian kata-kata yang terngiang di benak para kader. Hal itu untuk menjawab cemoohan atau hinaan dari saudara-saudara muslim yang kurang memahami gerak langkah Ansor.

Kalau ada pertanyaan, berkhidmah untuk siapa? maka jawabannya jelas, bekhidmah, mengabdi dan memberikan amal terbaik untuk agama (diniyyah) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini sesuai dengan visi Gerakan Pemuda Ansor, yaitu terwujudnya Gerakan Pemuda Ansor yang teguh dan mandiri sebagai pengawal eksistensi Islam Ahlussunah wal Jamaáh (Aswaja) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

K.H. Achmad Shiddiq mengemukakan pemikiran yang jenius menjelang Muktamar NU ke-28 di Krapyak, Yogyakarata pada tahun 1989, dengan Konsep trilogi ukhuwah, adalah menyatukan antara ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan dalam ikatan kebangsaan) dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama umat manusia).

GP Ansor meyakini dengan sepenuhnya atas pelbagai khidmah yang selama ini dilakukannya, karena mendapat pembenaran secara agama yang dipandu oleh para waliyulloh dan para kyai sebagai paku bumi negeri ini.

Cap munafiq sampai dengan laqob kafir yang sering dialamatkan kepada Ketua Umum Gus Yaqut hingga para kader di Ranting bukan menyurutkan langkah Ansor membela kaum minoritas yang berbeda keyakinan, malah sebaliknya memancarkan api perjuangan untuk memperkuat ke-Indonesiaan.

Tidak heran kalau langkah Ansor memperkuat khidmah berbangsa selalu mendapat tantangan justeru dari saudaranya sendiri seiman. Baru-baru ini viral adanya kader Ansor yang di tempeleng KH. Sykron Makmun Pengsuh PP. Darul Rahman Jakarta yang dinarasikan Banser dimarahi karena menjaga gereja. Padahal fakta sebenarnya adalah sikap kasih sayang kyai kepada santrinya.

Dengan demikian layanan pengamanan mudik lebaran, mengatur lalu lintas di jalan raya untuk membantu aparat Kepolisian, layanan kesehatan hingga pijat dalam Posko Mudik GP Ansor dan juga sebagai sarana istirahat adalah bagian kecil khidmah Ansor untuk umat dan bangsa.

Semoga coretan kecil ini bermanfaat, sebagai renungan dan kado untuk sahabat-sahabat Ansor-Banser yang saat ini meninggalkan keluarga, melayani masyarakat di perjalanan. Wallahu a’lam bi al shawab.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER