Rabu, 29 Juni, 2022

PDIP: Kunci Kemajuan Bangsa Ada di Perguruan Tinggi

MONITOR, Banda Aceh – Sekretaris Jenderal  PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto merasa terhomat saat hadir di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. Pasalnya, punya rekam jejak kuat dan kedekatan dengan Presiden Pertama RI dan Proklamator Soekarno atau Bung Karno.

Bahkan, sebelum memberikan kuliah, Rektor USK Prof. Dr. IR. Samsul Rizal mengajak Hasto dan Rokhmin melihat Tugu Darussalam, Minggu (27/2/2022). Mereka berpose bersama sejenak di sana. Presiden Soekarno pada tanggal 2 September 1959, meresmikan Tugu Darussalam dan membuka fakultas pertama dari USK, yaitu Fakultas Ekonomi.

Di USK, Hasto memberikan kuliah umum “Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila di Kalangan Sivitas Akademika Perguruan Tinggi Menuju Indonesia Emas 2045”.

“Bung Karno selalu mengingatkan kepada kaum muda Indonesia termasuk mahasiswa dan mahasiswi Universitas Syiah Kuala untuk meletakkan, merumuskan, menempatkan cita-citamu setinggi langit. Sebab, sekiranya kau jatuh, kau jatuh di antara bintang-bintang di angkasa raya,” kata Hasto mengawali sambutannya.

- Advertisement -

“Kami sungguh sangat terhormat bisa berada di Universitas Syiah Kuala dengan rekam jejak kepemoporan yang begitu kuat,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu, Hasto mengatakan, universitas harus menjadi pusat kemajuan di dalam penguasaan ilmu dan teknologi yang berakar terhadap apa yang Indonesia miliki. Sehingga, penelitian harus didorong untuk menunjukkan kemampuan sebagai bangsa berdikari.

Salah satunya adalah bagaimana penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi itu harus berdasarkan Pancasila. Hasto mengingatkan bagaimana Indonesia jangan mudah terpengaruh bahwa semua yang dari luar adalah yang paling baik dan bagus.

“Karena itulah memahami Pancasila apalagi berbicara revitalisasi, hanya bisa dilakukan kalau kita membongkar mentalitet kita. Mentalitet yang terjajah, mentalitet yang tertunduk yang mudah terpengaruh teori-teori dari luar, untuk kita kembangkan teori kita sendiri berdasarkan kondisi rakyat Indonesia, kebudayaan dan kondisi geografis bangsa, serta sumber daya yang dimiliki rakyat Indonesia, itu tugas perguruan tinggi,” kata Hasto.

Dia pun mencontohkan, bahwa dengan Pancasila, Indonesia bisa menjadi pemimpin di antara bangsa di dunia, dihormati di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Sehingga perlu ada keterlibatan universitas untuk mengaungkan kembali spirit pembumian Pancasila dan agar Indonesia bisa berdiri dengan kaki sendiri, setidaknya di bidang pangan, energi, pertahanan dan keuangan.

Hasto meningatkan pesan Presiden Soekarno yang menyebut universitas menjadi city of intellect. “Perguruan Tinggi harus menjadi infrastruktur kemajuan bangsa Indonesia. Enggak akan Indonesia maju tanpa Perguruan Tingginya maju, jangan dibalik,” tutur Hasto.

Sementara itu, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang kini Ketua DPP PDIP Prof. Rokhmin Dahuri turut hadir menjadi pemateri. Dia pun mengingatkan bahwa kunci kemajuan bangsa ada di perguruan tinggi.

“Fakta menunjukkan hampir semua leader, baik presiden, gubernur, menteri sampai bupati/wali kota adalah anak kandung perguruan tinggi. Kalau kita ingin memajukan dan memakmurkan bangsa ini, maka startnya harus memperbaiki dan menjadikan kampus kita menjadi world class university,” ucap Rokhmin.

Pria asal Cirebon ini mengatakan arena hidup di era highly interconnected, kunci untuk maju ada  tiga. Pertama competitiveness (daya saing). Rumus kedua untuk Indonesia Emas 2045 harus mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas, dan harus inklusif, dinikmati seluruh rakyat Indonesia serta harus sustainable,” bebernya.

Kalau ketiga ini dicapai maka tahun 2045 Indonesia, menurut Rokhmin, menjadi salah satu kekuataan ekonomi terbesar di dunia. “Tiga hal ini kita bisa capai kalau kita terapkan ekonomi berbasis Pancasila, green economy dan ekonomi berbasis digital (industri 4.0),” lanjut Rokhmin.

Masih di tempat yang sama, pada sambutannya, Rektor USK Prof. Dr. IR. Samsul Rizal mengatakan Indonesia patut bersyukur memiliki ideologi yang kuat, yaitu Pancasila, yang sudah teruji sebagai perekat keberagaman baik suku, bahasa, budaya, dan agama.

“Tapi harus kita akui nilai-nilai Pancasila yang semestinya yang menjadi landasan hidup sebagai bangsa, tapi kini nilai luhur tersebut mulai memudar dari jati diri masyarakat kita. Contoh paling sederhana, di media sosial. Bagaimana orang mudah terprovokasi dengan berita yang belum jelas kebenarannya. Ironisnya, yang menyebabkan berita hoaks tak jarang berasal dari orang berpendidikan. Orang yang semestinya jadi panutan masyarakat,” kata Rektor USK.

Karena itulah, USK memberikan perhatian penuh kepada upaya pembentukan karakter mahasiswa, melalui mata kuliah pembinaan karakter yang wajib diambil mahasiswa serta berbagai program pembinaan karakter lainnya. “Kami ingin mahasiswa Universitas Syiah Kuala tidak hanya cerdas di bidang akademik saja, tapi juga harus memiliki karakter dan integritas,” urainya.

Di akhir acara, Hasto dan Rokhmin menyerahkan sejumlah buku kepada Rektor USK. Salah satu buku itu berjudul Mustika Rasa yang atas arahan Presiden Soekarno dicetak sebagai buku resep masakan nusantara, diterbitkan tahun 1967 dan kini dicetak ulang.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER