Sabtu, 22 Januari, 2022

Budidaya Padi Ramah Lingkungan Solusi Pulihkan Kesuburan Tanah dan Tingkatkan Provitas

MONITOR, Jakarta – BTS (Bimbingan Teknis Sosialisasi) Propaktani yg diselenggarakan setiap hari, pada episode ke 281 Tanggal 12 Januari 2022 mengangkat Tema Menarik Budidaya Padi Ramah Lungkungan.

Acara yang diinisiasi Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian merupakan upaya nyata untuk mencerahkan para petani terkait dengan inovasi dan teknologi budidaya pertanian, dan juga ajang bertukar fikiran, diskusi, sambung rasa dari berbagai kalangan. Apakah mereka yang berbasis akademisi. Apakah mereka yang berasal dari kalangan peneliti, penyuluh pertanian, kelembagaan/organisasi petani dan para petani itu sendiri.

Ketua Harian DPD HKTI Jabar, Entang Sastraadmadja berpendapat dari apa yang menjadi penyampaian Bimtek oleh para Narasumber dapat ditegaskan, pola tanam padi ramah lingkungan adalah teknologi budidaya padi sawah dengan penerapan pola tanam jajar legowo, pengairan berselang, pemupukan berimbang dan penggunaan biopestisida. “Sawah tidak perlu diairi terus menerus, tidak perlu banyak pupuk kimia dan tambahkan pupuk organik,” sebutnya.

Budidaya padi ramah lingkungan, pada dasarnya akan sangat ditentukan oleh benih padi yang akan ditanam, dosis dan jenis pupuk yang tepat, pengairan yang sesuai dengan kebutuhan, penggunaan bio pestisida yang cocok dan keberadaan para Penyuluh Pertanian di lapangan. “Dari perbincangan tentang bintek secara daring ini ada beberapa catatan penting yang perlu dijadikan pencermatan kita bersama,” sebutnya.

- Advertisement -

Pertama, tentu saja terkait dengan penggunaan benih padi yang akan dibudidayakan. Benih yang akan digunakan, sebaiknya sudah bersertifikat. Kita harus hati-hati memilih benih padi ini. Sekarang ini banyak benih padi yang memiliki waktu lebih singkat untuk di panen dengan produksi yang cukup tinggi. Kita juga memiliki benih yang tahan kekeringan. Sekarang tinggal dipilih, mana yang akan dibudidayakan.

Dalam hal ini, peran Penyuluh Pertanian menjadi sangat penting. Penyuluh inilah yang akan melakukan proses pembelajaran kepada para petani terkait varietas padi apa yang cocok dikembangkan untuk budidaya padi ramah lingkungan. Apa yang dihasilkan para peneliti, sudah seharus nya disampaikan kepada para penyuluh secara terang benderang, sehingga para Penyuluh akan dapat mengajarkan nya kepada petani secara benar.

Proses Penyuluhan Pertanian seperti ini kelihatan butuh sinergi dan kolaborasi antara Ditjen Tanaman Pangan dengan BP2SDM Kementerian Pertanian. Tanpa ada kerja-sama yang berkualitas, mulai dari sisi perencanaan hingga pelaksanaan nya, boleh jadi masing-masing eselon 1 di Kementan bakalan asyik dengan tugas dan fungsinya masing-masing.

Kedua, terkait dengan proses pemupukan. Budidaya padi ramah lingkungan, sepatut nya lebih mengutamakan penggunaan pupuk organik ketimbang memakai pupuk kimia. Namun dengan berbagai pertimbangan, kelihatannya kita masih belum siap untuk menyetop pemakaian pupuk an-organik untuk menggantikan nya dengan pupuk organik secara totalitas.

Namun begitu, suka atau pun tidak, secara keputusan politik, kita sudah harus berani mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mensubsitusi nya dengan pupuk organik. Disinilah perlu nya ada revitalisasi dalam kebijakan pupuk bersubsidi. Revitalisasi adalah “giving a new life”. Arti nya perlu ada “darah baru” dalam Tata Kelola Pupuk Bersubsidi.

Subsidi yang diberikan kepada pabrikan, sebaik nya diberi muatan agar pupuk organik menjadi salah satu prioritas pengembangan mereka ke depan. Sebab, kalau kita sudah berani akan mengembangkan budidaya padi ramah lingkungan, maka yang disebut pupuk organik adalah salah satu faktor yang menentukan sampai sejauh mana budidaya padi ramah lingkungan itu mengena pada apa yang diimpikan nya itu.

Ketiga terkait dengan komitmen dan konsistensi Pemerintah untuk menerapkan budidaya padi ramah lungkungan itu sendiri. Arti nya, sampai sejauh kemauan politik yang demikian akan diikuti oleh tindakan politik di lapangan. Pemerintah, baik Pusat atau Daerah, harus betul-betul mendampingi, mengawal, mengawasi dan mengamankan kebijakan ini.

Hal ini penting dicatat, karena tanpa ada nya dukungan maksimal dari Pemerintah, besar kemungkinan budidaya padi ramah lingkungan, bisa saja dihantam oleh kelompok yang tidak pro dengan pengembangan pupuk organik.

Sebetul nya banyak hal yang mengedepan dalam Bintek Daring yang berlangsung sekitar 3 jam efektif. Hanya, berdasarkan pengamatan yang dilakukan, Bimtek Daring semacam ini, memang merupakan langkah tepat untuk mencerahkan pemikiran kita terhadap hal-hal baru dalan pembangunan pertanian di negeri ini. Namun begitu, kita juga harus mampu menberi solusi nyata atas apa-apa yang diungkap oleh peserta Bimtek yang berjumlah sekitar 250 orang tersebut. Mereka adalah kekuatan kita, yang perlu dioptimalkan keberadaannya.

Di tempat terpisah, Dirjen Tanaman Pangan Suwandi menyampaikan bahwa Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL) merupakan salah satu kegiatan regular maksimum di tahun 2022 dan dialokasikan stimulan bantuan pemerintah seluas 10.800 hektar di 12 Provinsi 55 Kabupaten.

“Kegiatan ini merupakan upaya dalam rangka peningkatan produksi dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan keberlanjutan budidaya kedepan. Dengan pemulihan kesuburan lahan, tentunya produktivitas hasil Panen akan meningkat dan berdampak pada peningkatan pendapatan petani,” pungkas Suwandi.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER