Rabu, 8 Desember, 2021

Literasi Media di Era Penyiaran Digital

Oleh: Firdaus Abdullah*

Seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, semakin banyak media dengan sistem siaran digital. Sekarang ini, kita sedang dihadapkan pada perancangan, pengoperasian, dan pengawasan sistem penyiaran digital. Kebanyakan masyarakat memandang bahwa media baru dalam era digitalisasi penyiaran meliputi Youtube, Facebook, dan lain sebagainya.

Tak dipungkiri, masyarakat pasca-industri informasi menjadi penentu faktor kehidupan kerja terlepas latar belakangnya; guru, dosen, pedagang, jurnalis, politisi, atau lainnya. Teknologi telah mengalami kebisingan, dengan ditandai adanya tsunami informasi karena banyaknya media penyiaran telah memiliki media baru seperti IG TV, Youtube, dan semacamnya berproduksi untuk masyarakat, dan masyarakat dipengaruhi untuk bermigrasi ke media baru tersebut.

Berkembangnya teknologi komunikasi dan informasi yang disertai dengan globalisasi turut menimbulkan permasalahan baru dalam bidang kearifan lokal, misalnya kurangnya budaya asli daerah. Terjadinya erosi nilai budaya, menurunnya rasa kepercayaan diri akan budaya bangsa sendiri dan menipisnya gaya hidup ketimuran atau meingkatnya gaya kebarat-baratan, sehingga menghilangkan kearifan lokal (Surahman, 2016). Dampak dari digitalisasi tersebut semakin memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi, mulai dari yang positif hingga yang mampu memberikan kecemasan kepada khalayak (Widiastuti, 2020).

- Advertisement -

Banyaknya sumber informasi yang diperoleh tersebut, serta ketergantungan masyarakat yang tinggi terhadap konsumsi media, sangat rentan akan penerimaan isu-isu hoaks (Rosemary, dkk, 2021). Selain itu, kebanyakan motif masyarakat dalam memilih program siaran maupun informasi di media berdasarkan pada apa yang diberikan oleh industri media itu sendiri.

Konsepsi penerimaan informasi oleh masyarakat memiliki perspektif yang berbeda- beda dalam menanggapi suatu informasi, hal ini berhubungan erat pula dengan tingat literasi media yang tergolong rendah dan menjadi faktor utama dalam minimnya pengetahuan masyarakat akan bagaimana dalam memilih sebuah informasi maupun program siaran, jika tidak masyarakat sangat mudah terpengaruh terhadap segala informasi dari media yang ada, termasuk media penyiaran. Literasi media sangat penting, karena menjadi salah satu bentuk edukasi kepada masyarakat.

Literasi media muncul pada tahun 1970-an ketika metode berpikir kritis mulai diperkenalkan di Amerika Serikat (Bakti,2016). Dengan mengacu pada kepada gagasan Wiedarti literasi media secara mendasar dipahami sebagai melek, menguasai, memahami dan menggunakan informasi dari media dengan cerdas. Literasi media merupakan suatu upaya pembelajaran khalayak media dan masyarakat menggunakan media dengan cerdas. Poin penting literasi media adalah bagaimana mengubah paradigma masyarakat dalam menggunakan media dari pasif menjadi aktif.

Hampir setiap masyarakat saat ini memiliki media penyiaran baik televisi maupun radio, akan tetapi sebagian besar lebih banyak mengkonsumsi media televisi. Tentu kita menyadari bahwa sebagian masyarakat masih kurang memahami bagaimana menjadi penonton yang cerdas. Padahal di zaman digital saat ini, penting untuk bisa menjadi penonton maupun pendengar yang cerdas, serta pentingnya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan literasi media. Misalnya dengan melakukan crosscheck atau tabayyun terhadap suatu berita atau informasi sebelum mempercayaai atau ikut menyebarannya. Selain itu, keberadaan literasi media menjadi penting karena mengingat keberadaan industri media / penyiaran yang
tidak netral, mengingat bahwa apapun acara lembaga penyiaran adalah selalu bermuatan atau orientasi ekonomis.

Penjabaran di atas menunjukkan bahwa literasi media secara esensial mencakup aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan kritis terhadap media. Literasi media bukan bersifat bawaan, melainkan bisa dilakukan lewat suatu kegiatan seperti sosialisasi atau pendidikan antara lain pada lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat secara umum. Hal ini penting karena literasi media dapat membuka mata masyarakat agar dapat membedakan yang layak untuk dikonsumsi mana tidak. Sehingga dengan keberadaan literasi media sebagai upaya mencegah atau mengurangi dampak negatif atas program siaran yang ditayangkan
lembaga penyiaran.

Disamping itu, keberadaan literasi media merupakan salah satu pilar penting dalam pelaksanaan digitalisasi penyiaran, untuk memberikan penguatan kepada masyarakat tentang konten siaran yang layak ditonton saat berlimpahnya saluran televisi lewat digitalisasi, yang paling penting memasuki era digitalisasi penyiaran adalah masyarakat memahami betul yang harus dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan informasinya masing-masing.

Sementara itu Perilaku menonton masyarakat seperti memilih sebuah program siaran TV atau mendengarkan radio tertentu, ikut berperan dalam menentukan tinggi rendahnya kualitas sebuah program siaran. Artinya, jika masyarakat masih suka menonton tayangan tidak berkualitas, maka kreatifitas dan pola produksi siaran akan mengikutinya.

Olehnya itu, literasi media memiliki peran yang sangat penting dalam membina dan mengembangkan pengetahuan masyarakat dalam kehidupan media, termasuk media penyiaran. Selian itu, dengan adanya literasi media dapat berpengaruh besar kepada kualitas sebuah program siaran.

*Penulis merupakan Pendiri / Dewan Pembina Forum Masyarakat Peduli Media (FMPM) Sulawesi Barat

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER