Jumat, 3 Desember, 2021

Pidato Ilmiah Wisuda Untad, Prof Rokhmin paparkan Kunci Sukses Alumni PT

MONITOR, Palu – Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan 2019-2024, Prof Dr Rokhmin Dahuri, MS didaulat memberikan pidato ilmiah pada acara Wisuda Universitas Tadulako (Untad) Palu yang digelar pada Senin (25/10/2021).

Dalam orasinya, Guru Besar IPB University tersebut memaparkan sejumlah hal mulai dari tantangan kebutuhan SD di era revolusi industri 4.0, problem sosial ekonomi bangsa, hingga peta jalan pembangunan nasional sebagai pijakan wisudawan Untad meniti karir dan profesi agar meraih sukses sekaligus memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

Prof Rokhmin mengingatkan bahwa pada dasarnya, lulusan (alumni) Perguruan Tinggi yang sukses dalam perspektif Negara Pancasila adalah mereka yang mampu menguasai dan menggunakan IPTEK (hard skills) dan etos kerja/akhlak mulia (soft skills) yang didaptakan selama masa perkuliahan, dalam kehidupan keseharian. Sehingga, hidupya sukses dan bahagia, bukan hanya di dunia, tetapi juga di akhirat kelak.

Selain itu, menurutnya lulusan Perguruan Tinggi yang sukses adalah mereka yang tidak egois. Mereka bekerja cerdas, keras, ikhlas serta bekerjasama secara sinergis dengan warga negara Indonesia lainnya untuk menyumbangkan kemampuan terbaiknya bagi terwujdunya Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat atau INDONESIA EMAS paling lambat pada 2045.  Mereka pun memiliki komitmen yang kuat untuk senantiasa  berbuat kebajikan bagi kemaslahatan sesama insan dan dunia yang lebih baik, for a better world.

- Advertisement -

”Pandapat saya itu sesuai dengan tujuan Pendidikan Tinggi Indonesia sebagaimana tertuang dalam UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa sistem Pendidikan Tinggi bertujuan: ”(1) berkembangnya potensi mahasiswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, terampil, kompeten, dan berbudaya untuk kepentingan bangsa; (2) dihasilkannya lulusan yang menguasai cabang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi untuk memenuhi kebutuhan nasional dan peningkatan daya saing bangsa; (3) dihasilkannya IPTEK melalui penelitian yang memperhatikan dan menerapkan nilai humaniora agar bermanfaat bagi kemajuan bangsa serta kemajuan peradaban dan kesejahteraan umat manusia; dan (4) terwujudnya pengabdian kepada masyarakat berbasis penalaran dan karya penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.

”Agar saudara-saudara para wisudawan berhasil menerapkan hard skills dan soft skills bagi keberhasilan hidup saudara-saudara seperti saya gambarkan diatas.  Maka, saudara-saudara para wisudawan mesti memahami dinamika pembangunan nasional, perkembangan science and technology (IPTEK) yang luar biasa pesat, dan dinamika perkembangan zaman pada tataran global (global dinamics),” jelasnya. 

Dengan memahami ketiga hal tersebut, menurut Prof Rokhmin para wisudawan diharapkan mampu mengidentifikasi dan memetakan jenis-jenis pekerjaan, hard skills, dan soft skills yang dibutuhkan di Indonesia dan di dunia, baik untuk saat ini maupun di masa mendatang,” jelasnya.    

Tantangan Indonesia

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut menilai sejak merdeka pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia terus mengalami perbaikan hampir di semua bidang kehidupan.  Namun, hingga kini Indonesia masih sebagai negara berpendapatan menengah bawah (lower – middle income country), dengan Pendapatan Nasional Kotor  (Gross National Income = GNI) sebesar 3.870 dolar AS per kapita (World Bank, 2021).  Belum menjadi negara  makmur (high-income country), dengan pendapatan nasional kotor diatas 12.695 dolar AS per kapita (World Bank, 2021). 

Selain itu, menurutnya berdasarkan pada kapasitas IPTEK, kita bangsa Indonesia pun belum berstatus sebagai negara maju.  Karena, kapasitas IPTEK bangsa Indonesia sampai sekarang masih berada di kelas -3 (Technology-Adaptor Country). Artinya, lebih dari 70 persen kebutuhan IPTEK nasional berasal dari impor.  Sedangkan, negara maju adalah mereka yang kapasitas IPTEK nya mencapai kelas-1 (Technology-Innovator Country), dimana lebih dari 70 persen kebutuhan IPTEK nya dihasilkan oleh bangsanya sendiri (UNESCO, 2019).

Meskipun kualitas SDM Indonesia terus mengalami perbaikan dari tahun ke tahun,  namun, terang Prof Rokhmin hampir semua unsur (indikator) yang menentukan kualitas SDM Indonesia sampai sekarang belum memenuhi syarat untuk menjadi negara-bangsa yang maju, adil-makmur, dan berdaulat.

”Kemampuan literasi bangsa kita masih sangat rendah, tercermin pada indeks minat baca yang hanya 0,001.  Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya seorang yang rajin membaca (UNESCO, 2012).  Kemudian, pada 2016, CCSU (Central Connecticut State University) merilis laporan hasil risetnya berjudul ”The World’s Most Literate Nations” yang menempatkan Indonesia pada peringkat-60 dari 61 negara yang diteliti. Hanya satu tingkat diatas Boswana, negara sangat miskin di Benua Afrika. Hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam pelajar setingkat kelas-3 SLTP di seluruh dunia, mengungkapkan bahwa pada 2018 dari 77 negara yang disurvei, Indonesia hanya menempati peringkat-71,” terangnya. 

Produktivitas tenaga kerja Indonesia pun tidak luput dari problem yakni hanya setara dengan US$ 23.390 per tahun.  Jauh dibawah Singapura (US$ 141.227), Malaysia (US$ 56.084), dan Thailand (US$ 27.101) (WEF, 2018).  Kapasitas inovasi bangsa Indonesia baru menempati peringkat-85 dari 131 negara yang disurvei, dan pada urutan-7 di ASEAN. Singapura pada peringkat-5, Malaysia ke-35, Thailand ke-44, Vietnam ke-45, Brunei Darussalam ke-67, dan Pilipina ke-73 (Global Innovation Index, 2020). 

Pada 2014, jumlah wirausahawan (entrepreneur) di Indonesia hanya 1,6% dari total penduduk, kemudian naik menjadi 3,1 persen pada 2018.  Padahal, salah satu syarat bagi suatu negara untuk maju dan makmur adalah jumlah wirausahawannya minimal 7 persen (Bank Dunia, 2010).  Sebagai perbandingan, jumlah entrepreneur di Amerika Serikat mencapai 14 persen, Singapura 8 persen, Malaysia 5 persen, dan Thailand 4 persen.

“Oleh sebab itu, sangat diharapkan para wisudawan ini nantinya akan lebih banyak menjadi wirausahawan (entrepreneur) ketimbang sebagai Pegawai Negeri Sipil, bekerja pada orang lain di perusahaan, koperasi, UMKM atau LSM.  Seorang entrepreneur bukan mencari kerja, tetapi menciptakan lapangan kerja baik untuk dirinya maupuan orang lain,” terangnya.

Status Pembangunan Bangsa

Prof Rokhmin yang juga Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu menegaskan bahwa status pembangunan negara kita yang masih sebagai negara berpendapatan-menengah, belum menjadi negara maju dan makmur akibat rendahnya kinerja pembangunan nasional tidak perlu membuat kita putus asa, apalagi menyalahkan pemerintah atau pihak lain. 

“Kita harus tetap optimis, setiap warga negara Indonesia harus menyumbangkan kemampuan terbaiknya, dan antar komponen bangsa mesti bekerjasama secara produktif dan sinergis untuk mewjudkan Indonesia yang maju, adil-makmur, dan berdaulat paling lambat pada 2045, pas seratus tahun umur NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” katanya.

Duta Besar Kehormatan Jeju Island Korea Selatan tersebut mengingatkan jika bangsa Indonesia tiga modal dasar pembangunan (comparative advantages) yang sangat besar dan lengkap, yang tidak dimiliki oleh kebanyakan bangsa-bangsa lain di dunia. Modal dasar pertama adalah jumlah penduduk sebanyak 272 juta orang, terbanyak keempat di dunia setelah China (1,4 milyar orang), India (1,2 milyar orang), dan Amerika Serikat (360 juta orang). 

“Artinya Indonesia mempunyai potensi pasar domestik yang sangat besar, terbesar keempat di dunia. Pasar domestik yang besar, secara potensial memudahkan kita untuk memacu kegiatan produksi, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan rakyat. Lebih dari itu, mulai tahun 2020 hingga puncaknya pada 2032, Indonesia akan mendapatkan bonus demografi.  Dimana, jumlah penduduk yang produktif (usia antara 15 sampai 64 tahun) lebih besar ketimbang yang tidak produktif,” terangnya. 

Kedua adalah bahwa Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA), a resource-rich country, baik di darat, apalagi di wilayah lautnya.  Dengan menggunakan IPTEK mutakhir, khususnya teknologi di era Industri 4.0, dan manajemen profesional mestinya kita mampu mengolah (processing and manufacturing) SDA baik yang terbarukan (renewable resources) maupun yang tidak terbarukan (non-renewable resources) menjadi berbagai produk dan jasa untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun ekspor secara berkelanjutan (sustainable). 

Ketiga, posisi geoekonomi dan geopolitik Indonesia yang sangat strategis, diapit oleh Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, dan benua Asia dan Australia.  Dimana, sekitar 40 persen dari seluruh barang (komoditas dan produk) yang diperdagangkan di dunia, dengan nilai sekitar US$ 15 trilyun per tahun diangkut dengan ribuan kapal melalui ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) (UNCTAD, 2018). 

Oleh sebab itu, untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap) menjadi negara maju, sejahtera, dan berdaulat, kita bangsa Indonesia mulai sekarang harus mentransformasi diri, dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen. Kita mesti mampu memproduksi barang dan jasa yang berdaya saing (competitive). Barang atau jasa yang berdaya saing memiliki 3 karakteristik: (1) kualitasnya unggul (top-quality), (2) harganya relatif murah, dan (3) kuantitas atau volume produksinya teratur serta dapat memenuhi kebutuhan konsumen (pasar) domestik dan ekspor setiap saat (Porter, 1998). 

”Dengan demikian, kita akan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional dari rata-rata hanya 5 persen per tahun, dalam lima tahun terakhir, menjadi rata-rata diatas 7 persen per tahun.  Pertumbuhan ekonomi rata-rata diatas 7 persen per tahun selama sedikitnya 10 tahun berturut-turut merupakan prasyarat bagi suatu negara berpendapatan-menengah untuk menjadi maju dan makmur (O’Neill, 2011; Kroeber, 2016). Selain itu, ke depan sumber pertumbuhan ekonomi harus lebih besar (dominan) dari aktivitas investasi dan ekspor ketimbang konsumsi dan impor,” katanya.

Transformasi Struktur Ekonomi

Kita pun mulai sekarang harus melakukan transformasi struktur ekonomi, dari yang selama ini bertumpu pada sektor primer, dengan mengkesploitasi SDA dan mengekspornya dalam bentuk mentah (raw materials) seperti komoditas perkebunan, perikanan, minyak mentah (crude oil), batubara, dan mineral.  Menjadi sistem perkonomian yang bertumpu pada sektor sekunder, yakni industri manufaktur yang berbasis SDA (makanan-minuman, farmasi, serat, bioteknologi, dan lainnya) maupun industri manufaktur berbasis non-SDA seperti elektronik, otomotif, perkapalan, information and communication technology, industri nanoteknologi, dan lainnya. Sektor tersier yang meliputi sektor jasa, pendidikan, kesehatan dan kebugaran (wellness), pariwisata, dan industri dan ekonomi kreatif juga harus terus diperkuat dan dikembangkan. 

Guna mengurangi ketimpangan sosial-ekonomi, yang juga merupakan masalah utama bangsa Indonesia, maka pertumbuhan ekonomi itu haruslah berkualitas dan inklusif. Artinya, pertumbuhan ekonomi itu harus dapat menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, dan mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia secara berkeadilan dan berkelanjutan (sustainable). Hal ini dapat diwujudkan dengan merevitalisasi semua unit usaha (UMKM, Koperasi, Perushaan Swasta, dan BUMN) yang ada saat ini (existing) di semua sektor pembangunan, supaya produktivitas, efisiensi, daya saing, inklusivitas, dan keberlanjutan (sustainability) nya meningkat hingga berkelas dunia.

Masalah disparitas pembangunan antar wilayah (Jawa vs. luar Jawa, dan desa vs. kota) dapat diatasi dengan menggenjot pembangunan infrastruktur, kegiatan industri dan ekonomi, fasilitas kesehatan dan pendidikan, dan daya tarik pembangunan lainnya di luar Jawa, daerah perdesaan, dan wilayah perbatasan.  ”Boleh jadi, pemindahan Ibu Kota Negara dari Jakarta ke Kalimantan akan membantu mengurangi disparitas pembangunan antar wilayah secara signifikan,” ungkap Prof Rokhmin.

Kecenderingan Global

Sejak memasuki abad-21 (tahun 2000), teradapt lima kecenderungan global (key global trends) yang sangat berpengaruh terhadap maju-mundurnya sebuah bangsa dan kehidupan umat manusia secara keseluruhan.  Pertama adalah jumlah penduduk yang terus bertambah dan gaya hidup (life-style) milenial.  Pada 2011 jumlah penduduk dunia sebanyak 7 milyar orang, kini sekitar 7,4 milyar orang, tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 8,5 milyar, dan pada 2100 akan mencapai 12 milyar jiwa (PBB, 2018). 

”Implikasinya tentu bakal meningkatkan kebutuhan (demand) manusia. Implikasi selanjutnya adalah bahwa magnitude dan laju eksplorasi serta eksploitasi SDA dan jasa-jasa lingkungan (envrionmental services) baik di wiayah (ekosistem) daratan, lautan maupun udara bakal semakin menjadi-jadi,” paparnya.

Kedua adalah berupa pencemaran lingkungan (environmental pollution) dan pengikisan keanekaragaman hayati (biodiversity loss) yang kian meluas dan masif serta Perubahan Iklim Global (Global Climate Change).  

Ketiga,  lahirnya generasi teknologi di era Revolusi Industri Keempat (Industry 4.0) dan perkembangannya yang super cepat.  Teknolologi yang dimaksud meliputi IoT (Internet of Things), Artificial Intelligent, Big Data, Cloud Computing, Blockchain, 3D dan 5D printing, robotics, human – machine interface, bioteknologi, dan nanoteknologi (Schwab, 2016). 

”Generasi teknologi di era Industri 4.0 ini bisa membuahkan hal-hal positip bagi kehidupan manusia, seperti berbagai barang, produk, energi, dan proses industri serta ekonomi yang semakin produktif, efisien, kecil, ringan, padat (denser), murah, mudah, berdaya saing, dan sustainable.  Namun, juga ada sejumlah dampak negatip yang telah menimpa kehidupan manusia, terutama hilangnya beberapa jenis pekerjaan, profesi, dan matapencaharian,” tandasnya.

Keempat, dunia yang semakin terhubungkan (highly interconnected) dan bercirikan VUCA (Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambiguous) telah mengakibatkan hampir semua aspek kehidupan tidak menentu.  Contohnya, AS, Inggris, dan negara-negara Eroa Barat yang sejak awal 1980-an merupakan penggagas dan sponsor globalisasi serta perdangan bebas. 

Kelima adalah pandemi covid-19 yang bermula dari Wuhan, China pada Desember 2019 yang sampai sekarang belum bisa dipastikan kapan berakhirnya.  Pandemi ini bukan hanya telah merusak (mendisrupsi) bidang kesehatan, tetapi juga ekonomi dan hampir seluruh aspek kehidupan manusia.

”Dengan semakin terkikisnya keimanan manusia kepada Allah swt dan kehidupan akhirat, maka keempat kecenderungan global itu telah menimbulkan perebutan wilayah teritorial dan SDA.  Seperti yang tengah berlangsung di kawasan Laut China Selatan, Selat Hormuz, Israel – Palestina, dan lainnya.  Selain itu, juga telah mengakibatkan semakin meningkatnya kriminalitas dan penyakit sosial (social illness),” ungkapnya.

Karakter Alumni Perguruan Tinggi

Berdasarkan pada wawasan dan informasi diatas, menurut Prof Rokhmin profil alumni perguruan tinggi yang sukses setidaknya harus memiliki 5 karakter. Pertama harus beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME menurut agama kita masing-masing.  Kedua, memiliki kompetensi IPTEK (hard skills) sesuai dengan bidang ilmu atau program studi yang saudara pelajari. 

Ketiga, harus sehat, cerdas, cakap, terampil, kreatif, inovatif, berpikir kritis, mampu menganalisis masalah secara tepat dan benar, mampu memecahkan masalah, fleksibel dan adaptif, mampu bekerjasama (teamwork), dan berjiwa wirausaha (entrepreneurship).

Keempat, menguasai IPTEK di era Industri 4.0, khususnya information technology (penggunaan komputer dan teknologi digital) dan bahasa asing (Inggris, Arab, dan Mandarin).  Kelima, memiliki etos kerja yang unggul (seperti rajin, ulet, tampil maksimal, dan disiplin) dan berakhlak mulia termasuk jujur, amanah, toleransi, sabar, penyayang, dan ikhlas.

”Menjadi Ahli Madya,  Sarjana, Magister, Doktor maupun Professor itu bukan berarti anda berhenti belajar.  Tidak, justru kita harus terus belajar, menggali ilmu dan mengamalkannya untuk kemaslahatan bersama.  Selain ikhtiar dan kerja keras, bukalah pintu-pintu langit (ridha dan berkah Allah ) melalui doa tiada henti kepada Allah swt agar hidup kita sukses bahagia dunia dan akhirat serta mmeberikan banyak manfaat kepada sesama insan,” pungkasnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER