Senin, 20 September, 2021

Perang Lawan Belalang Kembara

MONITOR, Jakarta – Apakah kita sudah mengetahui apa saja jenis belalang kembara dan perannya di lingkungan sekitar kita? Mungkin itu adalah beberapa pertanyaan di benak Anda dan belum banyak orang mengetahuinya.

Terdapat beberapa jenis (spesies) belalang kembara di Indonesia, namun yang paling banyak dikenal adalah spesies Locusta migratoria manilensis Meyen.

Meski tidak termasuk dalam hama utama pada tanaman padi dan jagung, namun keberadaanya harus diwaspadai karena berpotensi terjadi outbreak (ledakan populasi) sewaktu-waktu jika kondisi alam mendukung dan tidak ada tindakan yang kita lakukan sejak dini. Dengan demikian perlu dilakukan mitigasi penanganan dan strategi pengendaliannya yang jitu.

Pada webinar series episode ke-82 ini (1/9/2021) mengajak kita untuk mengenal lebih dalam tentang belalang dan perannya di kehidupan kita. Webinar ini terselenggara atas kerjasama antara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan Propaktani serta disiarkan secara langsung melalui aplikasi Zoom, Youtube, dan Instagram. Webinar dengan topik “Serangan Belalang Kembara dan Pengendaliannya” kali ini di pandu oleh guru besar dari UGM, Prof. Y. Andi Trisyono, diikuti kurang lebih 700 peserta yang tersebar dari Pulau Sumatera sampai Papua.

- Advertisement -

Ditekankan oleh Nugroho Susetyo Putro (pakar dari UGM) bahwa pengenalan keragaman jenis atau spesies, bioekologi perilaku belalang kembara sangat perlu kita pahami agar strategi pengendalian yang kita terapkan dapat tepat dan berhasil baik.

“Pengenalan jenis spesies belalang kembara, perilakunya seperti kemampuannya bergerombol dan berpindah atau migrasi dalam jumlah ribuan dan sangat rakus makan, serta faktor-faktor lingkungan yang mendukung perkembangannya sangat perlu dipahami agar tindakan dan strategi pengendalian yang kita terapkan tepat sasaran dan berhasil optimal,” ujar pria yang akrab disapa Tyo tersebut.

Senada dengan Tyo, Paulus Taek akademisi dan peneliti belalang kembara dari Undana menyatakan bahwa pengendalian belalang kembara harus dilakukan secara komprehensif sehingga dapat mencapai tujuan, yakni menurunkan populasi belalang kembara namun tetap dapat menjamin keselamatan lingkungan dan pelaku pengendalian.

“Berdasarkan hasil pengamatan dan pengendalian yang dilakukan terhadap belalang kembara, teknik pengendalian yang paling efektif adalah dengan pengendalian secara kimiawi yaitu menggunakan pestisida. Pengendalian dengan teknik lain seperti mekanik, kultur teknis, dan biologi kurang optimal hasilnya karena banyak kendala dan keterbatasannya menghadapi populasi belalang kembara yang sudah jutaan ekor dan tersebar dimana-mana. Untuk pengendalian secara kimia yang efektif dapat dilakukan dengan pestisida yang bekerja untuk menghambat penetasan telur, nafsu makan, pergantian kulit nimfa, peletakan telur, dan menekan jumlah telur yang diletakkan”, terang Paulus.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Nikolas Nik, akademisi dari Unimor bahwa belalang kembara dapat hidup dan berkembang biak pada daerah-daerah tertentu yang memiliki kekhasan seperti kelembaban rendah, musim kering yang panjang, dan lain-lain. Kondisi alam yang khusus dan perilaku petani setempat turut mendukung keberadaan belalang kembara tetap eksis dari waktu ke waktu.

“Kondisi alam Nusa Tenggara Timur yang mempunyai banyak padang rumput atau savana, dengan iklim panas, kering, kelembaban rendah sangat sesuai untuk hidup belalang kembara. Hal ini juga didukung oleh kebiasaan petani dengan praktek pertanian yang berpindah-pindah sehingga keberadaannya tidak pernah terputus,” papar Nikolas.

Nikolas juga menjelaskan bahwa setelah mengetahui kantung-kantung habitat belalang kembara maka akan mempermudah pengendalian secara dini pada musim kemarau untuk mengurangi populasi di musim berikutnya. Pengendalian biologi dapat dilakukan pada kondisi ini dengan menggunakan bahan pengendali berisi konidia cendawan Metarhizium anisopliae yang dicampur dengan minyak goreng/kelapa yang cukup efektif mengendalikan belalang kembara ini.

Selanjutnya disampaikan secara aklamasi oleh tiga Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sumba Tengah (Nyong U.K Pari), Kepala Dinas Pertanian Sumba Timur (Oktavianus), dan Kepala Dinas Pertanian Sumba Barat Daya (Rofianus) mengenai kegiatan perang di lapangan melawan belalang kembara yang sering menghantui daerah-daerah tersebut.

Menurut Kepala Dinas Pertanian di tiga wilayah tersebut, pengendalian yang paling efektif dilakukan pada saat stadia nimfa yang tinggal di daerah datar dan belum dapat terbang ke tempat-tempat yang tinggi. Disamping itu, pengendalian yang baik dilakukan pada waktu malam sampai pagi hari, pada waktu belalang kembara beraktifitas makan, kawin, dan bertelur. Kemudian penanganan pengendalian belalang kembara ini harus kompak melibatkan semua stake holder, baik dari instansi pemerintah lintas bidang, petani, pelaku usaha, dan masyarakat luas.

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, M. Takdir Mulyadi, menegaskan bahwasanya Pemerintah Pusat melalui Direktorat Tanaman Pangan siap mendukung dan mengawal pengelolaan hama belalang kembara khususnya di Provinsi NTT dan daerah lainnya.

“Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan siap mendukung dan mengawal pengelolaan belalang kembara di NTT dan daerah lain. Kami siap bekerjasama, berkolaborasi dan bersinergi untuk perang melawan belalang kembara ini. Kami sudah membantu sarana pengendalian berupa alat-alat semprot mist blower, drum, dan bahan pengendalian (pestisida biologi dan kimia), juga bimbingan-bimbingan teknis pengamatan dan pengendalian belalang kembara sesuai dengan prinsip PHT,” tegas Takdir.

Suwandi selaku Direktur Jenderal Tanaman Pangan menekankan bahwa pengendalian hama belalang kembara ini harus betul-betul dilaksanakan dengan sistem pengelolaan hama terpadu (PHT), dengan menerapkan teknik-teknik pengendalian yang sesuai dengan karakter belalang kembara dan lingkungannya. Pengendalian yang dilakukan harus efektif, efisien, dan aman.

“Pengendalian terhadap hama belalang kembara ini harus betul-betul kita laksanakan secara PHT. Terapkan prinsip-prinsip PHT dengan benar untuk mengendalikan hama ini, walau secara nasional bukan merupakan hama utama tanaman pangan, namun keberadaannya dapat menurunkan produksi pangan kita. Untuk itu, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, petani, para pelaku usaha, serta masyarakat luas harus bekerja bersama bahu membahu mengendalikan serangan hama belalang kembara ini sejak dini. Jangan menunggu populasi tinggi apalagi sampai terbentuk fase gregarius untuk mengendalikannya. Kuncinya ada pada pengamatan, amati keberadaannya dan kendalikan segera sebelum berkembang menjadi gerombolan yang besar. Dengan pengendalian belalang kembara yang cepat dan tepat maka akan dapat mendukung upaya pengamanan produksi pangan nasional, sehingga target produksi pangan dan kesejahteraan petani dapat tercapai,” tegas Suwandi.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER