Advertorial

Penilaian Aset Warga di Lahan Bakal UIII Usai, Tinggal Tunggu SK Gubernur

MONITOR, Depok – Target 10 hari penilaian aset warga di atas lahan pembangunan Kampus Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) rampung, Selasa (31/8/2021). Proses penilaian berlangsung lancar meski terdapat beberapa kendala dari sisi warga.

Kuasa Hukum Kementerian Agama, Misrad menuturkan, lancarnya proses penilaian tak lepas dari kerja sama tim dilapangan yang digawangi oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP), TNI, Polri, Satpol PP, Perwakilan RT, RW dan Kelurahan, hingga Perwakilan Kementerian Agama dan UIII.

“10 hari kerja ini berjalan lancar dan sesuai target. Ini berkat dukungan para pihak terkait, terutama Kementerian Agama RI atas keseriusannya yang luar biasa, dari segi administratif dan logistik, bahkan Direktur Diktis langsung turun ke lapangan untuk memastikan proses kerja sesuai dengan yang direncanakan,” tutur Misrad di lokasi penilaian aset warga.

Kuasa Hukum Kementerian Agama, Misrad beserta Direktur Diktis langsung turun ke lapangan untuk memastikan proses kerja sesuai dengan yang direncanakan.

Suksesnya penilaian aset warga pada Penertiban Tahap II ini bukan tanpa kendala, kendala yang mencul sebagian besar dari sisi warga, dimana terdapat bidang warga dalam list penilaian yang berstatus kepemilikan ganda, penolakan untuk dinilai, hingga bidang tanah yang sudah masuk pada penertiban tahap I.

Di antara warga yang menolak sebagian besar terpengaruh oleh organisasi-organisasi yang sengaja masuk ke lahan UIII dan mempengaruhi warga. Diantara pengaruh yang disebarkan berupa iming-iming pembayaran bidang tanah yang dihitung per meter.

Hambatan lain yakni penilaian tidak dapat dilakukan berurutan lantaran pada hari penilaian ada warga yang menolak, sehingga harus dilewati meski pada hari berikutnya bersedia untuk dinilai KJPP.

“Hambatan paling besar adalah ada warga yang menolak, mereka itu tergabung dalam organisasi, organisasi kedaerahan yang sengaja tidak mau dilakukan penilaian, kemudian mereka juga bukan hanya menolak, tetapi mempengaruhi orang-orang yang tadinya mau ikut, yang tidak berpihak kemana-mana dipengaruhi supaya tidak ikut dinilai bahkan ada lagi kelompok yang selalu mengiming-imingi bahwa ini akan dibayar dalam hitungan per-meter harga tanah,” tandas Misrad.

Dalam Penertiban Lahan UIII, Kementerian Agama tidak membayar lahan permeter, melainkan berdasarkan aset yang ada di atas bidang tanah yang sebelumnya digarap warga, baik dari sisi usaha, bangunan hingga tanaman yang ada di atasnya.

Kemenag dibantu Tim Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Ikut mendampingi perwakilan dari TNI, Polri, Satpol PP, Unsur RT RW, Kelurahan dan juga tim dari Kementerian Agama.

“Hambatan di lapangan sebetulnya cukup lumayan, tetapi karena kekompakan seluruh tim yang turun Alhamdulillah kendala itu bisa teratasi. Belum lagi di lapangan itu ada kepemilikan ganda, ada satu bidang diklaim dua sampai tiga orang, sehingga diantara warga sendiri bersitegang hingga nyaris bentrok, karena masing-masing bertahan mengatakan dia yang memiliki lahan tersebut,” tutur Misrad menceritakan.

Menghadapi situasi demikian, Kemenag dan KJPP bertindak tegas dan tidak menilai lahan yang masih dalam konflik saling klaim. “Kalau tidak clear ya kita tinggalkan saja, kita akan menilai sepanjang masyarakatnya kooperatif dan memenuhi persyaratan, kalau tidak dinilai mereka akan rugi sendiri.”

Tinggal Tunggu SK Gubernur

Misrad menjelaskan, setelah dilakukan penilaian oleh KJPP, selanjutnya masyarakat tinggal menunggu hasilnya diserahkan kepada Gubernur Jawa Barat. Gubernur nantinya akan menerbitkan Surat Keputusan terkait nama-nama yang berhak mendapatkan dana kerahiman termasuk besaran dananya sesuai nominasi dari KJPP.

Kuasa Hukum Kementerian Agama, Misrad di lokasi

Setelah mendapatkan dana kerahiman, warga diberi waktu tujuh hari untuk mengosongkan lahannya, baik meninggalkannya begitu saja, maupun membongkar sendiri bangunannya.

Sebagai informasi, penilaian aset warga pada Penertiban Lahan UIII tahap II ini telah berlangsung sejak 20 Agustus 2021 ini, sebagian besar warga mempersilahkan KJPP untuk menilai asetnya, bahkan di antara warga menjamu kedatangan rombongan tim di lapangan.

Dalam penilaian ini, Kemenag dibantu Tim Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Ikut mendampingi perwakilan dari TNI, Polri, Satpol PP, Unsur RT RW, Kelurahan dan juga tim dari Kementerian Agama. Objek yang dinilai adalah aset milik warga di atas lahan yang masuk dalam Zona Kuning Penertiban Lahan UIII Tahap II.

Recent Posts

Menteri Agama Ajak Masyarakat Jabodetabek Hadiri Doa Kebangsaan 1 Agustus di Monas

MONITOR, Jakarta - Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak masyarakat, khususnya di wilayah Jabodetabek, untuk menghadiri…

2 jam yang lalu

Pembangunan Rumah Ke-1 Type 36 Semi Permanen TMMD Ke-129 Kodim 1807 Capai 68 Persen

MONITOR, Sorong Selatan – Pelaksanaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Ke-129 TA 2026 Kodim…

2 jam yang lalu

Kemenperin Tumbuhkan Wirausaha Baru Industri di Kawasan Transmigrasi

MONITOR, Kementerian Perindustrian proaktif mendukung pengentasan kemiskinan melalui pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) berbasis…

3 jam yang lalu

Perputaran Dana Judol Turun, Waka Komisi I DPR Dorong Penanganan Makin Disiplin

MONITOR, Jakarta - Wakil Ketua Komisi I DPR, Sukamta menyambut baik tren penurunan perputaran dana…

4 jam yang lalu

Kemenperin dan UNIDO Percepat Transformasi Kawasan Industri Hijau

MONITOR, Jakarta - Kawasan industri kini tidak lagi dinilai hanya dari kelengkapan infrastruktur atau kemudahan…

9 jam yang lalu

Menaker: Dialog Sosial Jadi Kunci Penyelesaian Isu Ketenagakerjaan

MONITOR, Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menegaskan dialog sosial merupakan kunci dalam menyelesaikan berbagai…

12 jam yang lalu