Rabu, 4 Agustus, 2021

Cegah Stunting dengan Sumber Daya Perikanan dan Kelautan

MONITOR, Jakarta – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Rokhmin Dahuri mengatakan kondisi Stunting atau masalah kurang gizi kronis di Indonesia sangat ironis mengingat potensi sumber gizi yang melimpah yaitu dari sektor perikanan dan kelautan.

Menurut Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara itu, Komoditas dan produk perikanan mengandung nilai nutrisi dan gizi yang sangat baik bagi kesehatan dan kecerdasan manusia dimana Indonesia memiliki potensi produksi perikanan lestari terbesar di dunia, sekitar 115,3 juta ton/tahun, dan baru dimanfaatkan sekitar 30%.

“Kita tahu bahwa stunting mengakibatkan penderitanya berfisik lemah, rentan sakit, dan rendah kecerdasannya (lost generation). Bonus demografi pada 2021-2030 bisa menjelma jadi malapetaka demografi sehingga Indonesia terjebak sebagai negara berpendapatan menengah (middle-income trap), alias gagal menjadi negara maju, adil-makmur, dan berdaulat pada 2045,” ujarnya saat menjadi narasumber webinar “Profesor Bicara Stunting” yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Kamis (8/7/2021).

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan tersebut memaparkan angka stunting di Indonesia mencapai 27,7%. Padahal berdasarkan acuan WHO (Badan Kesehatan Dunia PBB-red), batas amannya maksimum 20%.

- Advertisement -

“Masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap kronis bila prevalensi stunting lebih dari 20 persen, dan prevelensi di Indonesia saat ini 27,7%. Artinya, secara nasional masalah stunting di Indonesia tergolong kronis, terlebih lagi di 18 provinsi yang prevalensinya melebihi angka nasional,” terang Prof Rokhmin.

Prof Rokhmin menambahkan wasting dan stunting diprediksi meningkat akibat Covid-19 karena krisis ekonomi, berkurangnya akses terhadap makanan dan gangguan layanan kesehatan. Tanpa tidakan yang cukup dan tepat waktu, jumlah anak wasting diprediksi akan meningkat sebanyak 15% (7 juta anak) di seluruh dunia pada setahun pertama pandemi Covid-19 sebagaimana data UNICEF Headquarter 2020.

Pada 2020, jumlah penduduk Indonesia usia dini (0-4 tahun) mencapai 15.453.694 jiwa (5,7% total penduduk). Jumlah ini diproyeksikan akan terus meningkat hingga tahun 2035. “Jumlah penduduk usia dini dapat dijadikan sasaran konsumen produk perikanan dalam mencegah dan menurunkan stunting di Indonesia,” jelas Prof Rokhmin.

Ikan menjadi produk strategis dalam pencegahan stunting, menurut Prof Rokhmin karena mempunyai keunggulan nutrisi dibandingkan dengan red meat (daging sapi, ayam) dan telur. Selain itu, potensi produksi perikanan di Indonesia sangat besar dengan keragaman jenis ikan di Indonesia sangat tinggi dan tersedia sepanjang tahun.

“Periode 2010-2020, angka konsumsi ikan nasional terus meningkat, rata-rata 6,36% per tahun. Ikan merupakan salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dengan kontribusi mencapai hampir 60% dari seluruh protein hewani yang dikonsumsi penduduk Indonesia,” kata Dosen Kehormatan Mokpo National University tersebut.

Untuk pencegahan stunting Prof Rokhmin mendorong pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil dengan ikan dan produk olahan salah satunya melalui bantuan sosial (bansos) dari pemerintah. “Bagi keluarga miskin wajib menerima bansos paket komoditas atau produk olahan,” pungkas penasehat menteri kelautan dan perikanan tersebut.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER