Rabu, 28 Juli, 2021

Prof Rokhmin dorong Pemkab Bangkep kembangkan Inovasi Sektor Kelautan dan Perikanan

MONITOR, Banggai Kepulauan – Penasehat Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof Rokhmin Dahuri mengaku kagum dengan potensi kekayaan sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) Provinsi Sulawesi Tengah. Potensi tersebut menurutnya menjadi modal penting mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

“Kabupaten Bangkep ini berada pada posisi strategis yaitu dekat dengan alur pelayaran internasional (ALKI-III) yang merupakan jalur distribusi barang dan jasa antara wilayah Kabupaten Banggai dengan Kabupaten Banggai Laut maupun Provinsi Maluku Utara serta berada pada jalur migrasi ikan tuna nasional,” ujarnya saat menjadi narasumber Seminar Otonomi Daerah Percepatan Pembangunan Wilayah Kabupaten Banggai Kepulauan yang juga dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Ma’mun Amir, Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri serta dihadiri langsung Bupati dan Wakil Bupati Bangkep bersama seluruh Camat se-Kabupaen Bangkep, Sabtu (26/6/2021).

Guru Besar IPB tersebut memparkan sejumlah potensi lain yang dimiliki Kabupaten Bangkep diantaranya berada pada wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 714 dan 715 dalam wilayah Teluk Tolo dengan potensi sumber daya ikan (SDI) sebesar 382.000 ton/tahun.

Namun, meski demikian Prof Rokhmin menyebut bahwa pemanfaatan potensi sektor kelautan dan perikanan di Kabupaten Bangkep untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat masih belum maskimal. “Pada 2019, produksi perikanan tangkap laut Bangkep sebesar 11.101 ton atau hanya 2,91% potensi SDI teluk Tolo),” ungkapnya.

- Advertisement -

Mantan Menteri Kelautan dan Perikana itu memaparkan sejumlah data diantaranya potensi Budidaya Rumput Laut Kab. Bangkep seluas 138.454 ha, dengan estimasi produksi 4,8 juta ton/tahun dan potensi Kebun Bibit Rumput Laut seluas 5.457 ha dengan estimasi produksi 302.229 ton/tahun.

“Produksi perikanan budidaya Bangkep hanya dihasilkan dari budidaya laut, dimana sekitar 99% merupakan budidaya Rumput Laut yang menjadi terbesar di Sulawesi Tengah,” terangnya.

Untuk itu, pada kesempatan tersebut Prof Rokhmin mendorong pemanfaatan potensi kelautan perikanan menjadi tulang punggung sekaligus tujuan pembangunan ekonomi daerah yakni kegiatan ekonomi yang berlangsung di wilayah pesisir dan lautan, dan kegiatan ekonomi di darat (lahan atas) yang menggunakan SDA dan jasa-jasa lingkungan kelautan untuk menghasilkan barang dan jasa (goods and services) yang dibutuhkan umat manusia.

Tujuannya, lanjut Prof Rokhmin yang juga ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) itu adalah : Pertama, semua penduduk usia kerja (15 – 64 tahun) bisa bekerja dengan income yang mensejahterakan (> US$ 300/orang/bulan), berdaya saing tinggi, menghasilkan pertumbuhan ekonomi tinggi (> 7% per tahun) dan berkualitas, dan ramah lingkungan serta berkelanjutan (sustainable).

Kedua, Pengembangan industri sektor-sektor ekonomi unggulan: industri pengolahan (perikanan, perkebunan, dan pertanian), perkebunan, kehutanan, pertanian pangan, perikanan, ekonomi kreatif & industri – 4.0, dan pariwisata. Ketiga, pembangunan Kawasan Industri Terpadu berbasis: perikanan, makanan dan minuman (mamin), perkebunan (seperti kakao, sawit, dan karet), pariwisata, dan ekonomi kreatif & industri – 4.0. 4. Hilirisasi (processing and packaging) ekonomi SDA.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Rokhmin meminta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan termasuk kadis pertanian segera melakukan pendataan nelayan, pembudidaya ikan, pengolah hasil perikanan, pedagang perikanan, pekerja industri hulu dan industri hilir KP by name and by address. Lalu, pilah berdasarkan income 300 dolar AS/orang/bulan untuk mengkalisifikasikan mana yang masih miskin dan mana yang sudah sejahtera (income > 300 dolar AS/orang/bulan).

“Kemudian, buat kebijakan dan program kerja untuk pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan mereka yang sudah sejahtera, sehingga incomenya > 12.535 dolar AS perkapita. Mendorong setiap unit bisnis (usaha), khususnya UMKM harus menerapkan skala ekonomi, Integrated Supply Chain Management System, tekonologi mutakhir (termasuk teknologi era Industri 4.0); dan ramah lingkungan,” jelasnya.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER