Sabtu, 24 Juli, 2021

Gandeng Cangkir Opini, IMM Suarakan Gerakan Islam Moderat


MONITOR, Solo – Moderasi beragama adalah cara beragama yang dilakukan dengan pandangan tengahan, atau menolak cara-cara ektrimisme yang nir ilmu dalam menyebarkan agama. Dalam berbagai macam kajian, moderasi dianggap sebagai cara beragama yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Nabi, tidak berlebihan serta mencintai kedamaian.

Sebagai organisasi Islam yang bergerak di ranah kemahasiswaan, IMM mencoba mengampanyekan gerakan Islam moderat ditengah masyarakat melalui berbagai macam kegiatan, salah satunya melalui kegiatan Ngopi Bareng: Apa Itu Islam Moderat?. bersama dengan Cangkir Opini, sebuah komunitas digital yang dibentuk oleh IMM Jawa Timur. Kegiatan yang dilaksanakan di Solo, Jumat (18/6/2021) ini bertajuk “Islam Moderat untuk Mencegah Ekstrimisme Berbasis Agama”.

Adapun narasumber yang mengisi kegiatan ini, diantaranya Hammam Sanadi, tokoh intelektual yang kini aktif sebagai dosen IAIN Salatiga dan Majelis Pendidikan Kader PWM Jateng, kemudian Mahmud Hariono mantan narapidana terorisme asal Jombang, yang pernah dikirim ke Filiphina untuk berlatih militer, serta akademisi muda yang aktif meneliti persoalan radikalisme agama di Indonesia, Nafik Muthohirin.

Hammad Sanadi menekankan bahwa moderasi beragama merupakan upaya memberikan ruang yang selebar-lebarnya kepada anak muda dalam mengekspresikan agamanya tapi dengan satu tujuan, yaitu menjaga harmonisasi beragama dan bermasyarakat. Dalam aktualisasinya, Islam moderasi harus menjadi narasi alternatif agar gerakan-gerakan ekstrimisme beragama tidak menyebarluas di kalangan masyarakat.

- Advertisement -

“Ruang-ruang publik harus diberikan kepada generasi muda yang memiliki wawasan moderat yang kuat untuk mencerahkan keberagamaan masyarakat yang saat ini sangat mudah dipengaruhi oleh paham-paham ekstimisme,” ujar Dosen IAIN Salatiga itu.

Senada dengan Hammad, Nafik Muthohirin menambahkan bahwa isu-isu moderasi beragama harus disebarluaskan di media social secara masif, karena ia menyadari bahwa organisasi mainstream seperti Muhammadiyah dan NU adalah organisasi yang sangat representatif untuk mengampanyekan moderasi beragama di Indonesia.

Selain itu, Nafik mengingatkan generasi muda memiliki peran yang signifikan dalam menyuarakan paham beragama yang moderat di media sosial. Karena dengan kreatifitas yang dimiliki seperti kemampuan desain, membuat meme, dan menuliskan narasi progresif bisa dijadikan alat untuk menyuarakan moderasi beragama yang sampai hari ini masih jarang mencuat di media social.

Di sesi akhir, Mahmud Hariono yang merupakan mantan napi terorisme berpesan agar generasi muda saat ini jangan sampai mengikuti jejaknya. Sebab hal ini akan memberatkan keluarganya. Di hadapan peserta dialog, Mahmud menceritakan pengalamannya ketika berada didalam jeruji penjara, karena tindakan yang pernah dilakukan di masa lalu sehingga harus memberatkan keluarga, lantaran mereka harus bolak balik dari rumah ke lapas Nusakambangan.

Pasca lepas dari penjara, ia bertekad untuk menyebar luaskan ajaran Islam yang cinta damai, dan tidak lagi berurusan dengan hal-hal yang berbau kekerasan apalagi setelah melihat perjuangan keluarganya sewaktu dirinya masih di dalam penjara. Ia berkeyakinan bahwa Islam adalah agama yang mencitai kedamaian, dan harusnya menjadi penyejuk bagi siapapun yang tahu dengan Islam, bukan sebaliknya, digunakan untuk berperang.

Perlu diketahui, kegiatan Ngopi Bareng ini sangat diapresiasi oleh ketiga pembicara karena sangat jarang dilakukan oleh generasi muda. Kegiatan diskusi yang mengkaji topik moderasi agama harus terus menerus digalakkan Islam kedepan tetap menjadi agama yang rahmatan lil alamin.

Kegiatan ini dihadiri oleh kalangan aktivis muda yang berasal dari berbagai macam latar belakang organisasi. Peserta sangat antusias mendengarkan paparan dari para pemateri. Apalagi dengan berbagai kasus terorisme yang telah terjadi di Solo dan sejumlah kasus penangkapan yang dilakukan oleh kepolisian sehingga membuat IMM Jawa Timur, IMM Jawa Tengah dan Cangkir Opini akan gencar untuk menyuarakan moderasi beragama di Indonesia.

- Advertisement -

BERITA TERKAIT

TERPOPULER