Rektor IPB: Sektor Pertanian Tumbuh Positif dan Stok Aman di Atas Standar Stok FAO

Rektor IPB, Arif Satria

MONITOR, Bogor – Kinerja pertanian di masa pandemi naik signifikan di saat sektor yang lain justru mengalami penurunan. Hal ini disampaikan oleh Rektor IPB Arif Satria saat menghadiri evaluasi capaian makro sektor pertanian di Bogor hari Jumat (21/5). Arif menyebut sektor pertanian kali ini lagi-lagi menjadi penyelamat perkonomian nasional.

“Dan jika dihitung, subsektor tanaman pangan adalah yang tumbuhnya tertinggi,” sebut Arif.

Berdasarkan data BPS, sebesar 64,56% PDB Triwulan-I 2021 berasal dari sektor industri pengolahan, pertanian, perdagangan, konstruksi dan pertambangan. Di antara sektor yang berkontribusi pada PDB triwulan-I 2021 di atas, hanya sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan positif, menduduki posisi ke-4 setelah infokom, pengadaan air dan jasa kesehatan. Pertumbuhan sub sektor tanaman pangan terhadap PDB pertanian meningkat tajam, dari 10,29 persen pada tahun 2020 menjadi 10,32 persen pada tahun 2021 (Q1). Angka ini lebih tinggi dibandingkan subsektor lainnya.

Kemudian Arif menyoroti dari sisi stok beras. Bahwa stok beras sampai Juli akan ada sekitar 4,04 juta ton beras. Angka ini menurutnya cukup aman jika dilihat dari penetapan batas stok FAO sebesar 20 persen dari total produksi.

Perhitungannya, surplus beras (produksi-konsumsi) pada bulan Januari-April 2021 (sebesar 4,26 juta ton beras) relative tinggi dibanding Januari-April 2020 (1,75 juta ton beras) dan Januari-April 2019 (4,12 juta ton beras). Perkiraan sampai dengan bulan Juli 2021 akan ada surplus sebesar 4,04 juta ton beras.

Menurut Arif,  angka surplus 4,04 juta ton beras ini melebihi rekomendasi FAO AMIS (Agricultural Market Information System) yang menjadi acuan perhitungan stok komoditas beras Indonesia.

“FAO merekomendasikan standar minimum stok beras adalah sebesar 18-20%. Jadi asumsinya  20% dari 17,17 juta ton beras ketemu angka 3,43 juta ton beras. Hasilnya ternyata surplus kita bisa melebihi rekomendasi,” sebut Arif.

Menambahkan apa yang disampaikan Rektor IPB, Widyastuti Dosen IPB memaparkan bahwa sub sektor tanaman pangan  memang memiliki pertumbuhan relatif lebih tinggi dibandingkan sub sektor lainnya. 

“Ini menunjukkan respon positif Kementerian Pertanian dalam menjaga ketahanan pangan pada saat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Kemudian menilik harga beras, penurunan harga produsen gabah diikuti oleh penurunan harga produsen beras per April 2021. Harga beras nasional  mengalami penurunan yang mengindikasikan terjadinya excess supply beras di pasar. Berdasarkan data BPS (2021), bulan April 2021 harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) sebesar 1,85%  menjadi Rp 4 398 per kg dan 6,31%% menjadi Rp 4 994 per kg di tingkat penggilingan. Namun demikian harga ini masih di atas HPP.

Wiwid menyebutkan bahwa perlu disusun strategi pengembangan pertanian yang banyak bersinggunan langsung dengan sektor real.

“Semakin banyak dapat mengakomodir sektor riil maka fondasi perekonomian akan semakin kuat. Selanjutnya, dikembangkan teknologi atau industri yang  bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian,” pungkasnya

Sementara itu Direktur Jenderal Tanaman Pangan Suwandi mengatakan akan dilakukan target tanam di masa tanam kedua tahun ini yaitu mulai dilakukan pada bulan April lalu hingga September 2021 di total luas lahan 5,16 juta hektare. Penanaman padi di masa tanam kedua ini diprediksi akan dipanen pada bulan Juli hingga Desember 2021.

Suwandi mengungkapkan  produktivitas gabah di Indonesia pada 2020 sebesar 5,19 ton per hektare. Menurut Suwandi, produktivitas beras nasional bisa dipertahankan salah satunya atas kontribusi dari benih unggul.

“Hasil kunjungan Presiden Jokowi ke Malang beberapa waktu lalu salah satunya kita diminta bekerjasama untuk penerapan teknomogi dengan Perguruan Tinggi, ini yang akan kita tidaklanjuti,”katanya.