Kemenag: Jangan Sampai PTKI Lahirkan Pengangguran Akademik

Webinar perdana Tadarus Litapdimas tahun 2021 dengan tema "Sumbangsih Pendidikan Islam, Enterpreneur, dan Peradaban Dunia"

MONITOR, Jakarta – Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) diharapkan dapat menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif dalam menghadapi persaingan global, baik dari segi hard skill maupun soft skill. Mengingat perubahan sosial, budaya, dan teknologi kini menjadi tantangan sekaligus harapan baru bagi pendidikan Islam di Indonesia.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, menyebutkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka pengangguran telah mencapai 9,77 juta orang pada periode Agustus 2020 lalu.

Data ini disampaikan Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini dalam pidato kunci webinar Tadarus Litapdimas seri pertama tahun 2021 dengan tema “Sumbangsih Pendidikan Islam, Enterpreneursip dan Peradaban Dunia” pada Jumat, 16 April 2020. Untuk menjawab tantangan diatas, Ali Ramdhani pun menekankan agar perguruan tinggi keagamaan Islam mulai menyiapkan lulusannya sehingga mampu bersaing di sektor ketenagakerjaan terutama dalam menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat.

“Pada masa pandemi ini, berdasarkan data yang dicatat BPS, angka pengangguran mencapai 9,77 juta orang pada bulan Agustus 2020, terdapat dijumpai kenaikan yang sangat signifikan 2,67 juta dibandingkan satu periode sebelumnya, dan salah satu pemicunya adalah pandemi Covid-19. Jika kita merujuk pada berbagai pengalaman negara maju dan bekembang, umumnya yang mampu menghadapi dinamika yang serba mengalami turbulensi, sebuah negara mengandalkan bentuk ekonomi yang gesit yang kita kenal sebagai UMKM,” ujar Ali Ramdhani dalam pidatonya.

Ia berharap lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam dapat menjawab tantangan di sektor ketenagakerjaan, dengan meneladani jiwa enterpreneur yang dicontohkan Rasulullah SAW. Untuk itu, ia berharap PTKI tidak hanya fokus merealisasikan misi research university atau menjadi teaching university, melainkan dapat mengembangkan enterpreneur university dengan mengembangkan riset yang memiliki nilai tambah secara ekonomi.

Selanjutnya, dua narasumber dari Dosen PTKI mempresentasikan hasil penelitian yang telah dipublikasikan yaitu Inayatul Ulya, M.SI selaku Dosen Institut Pesantren Mathaliul Falah- IPMAFA Pati Jawa Tengah, menjelaskan tentang risetnya berjudul “Edupreneurship, Menyiapkan Guru MI Berjiwa Enterpreneur” dan Dr. M. Ali Sibram Malisi, M.Ag dari IAIN Palangka Raya memaparkan penelitiannya yang berjudul “Idham Cholid And Normal Islam Educational Reform”.

Mengawali presentasi pertama, Inayatul Ulya mengungkapkan banyaknya persoalan-persoalan yang muncul di PTKI, mulai dari kompetensi lulusan yang rendah hingga orientasi lulusan kampusnya yang masih sebatas pencari kerja, bukan pencipta lapangan kerja. Padahal seharusnya, kata Inayah, keberadaan PTKI diharapkan dapat menekan tingkat pengangguran ditengah ketersediaan lapangan kerja yang tidak seimbang.

“Banyak mahasiswa yang cita-citanya itu ukuran kesuksesan lebih diyakini ketika mereka diterima sebagai karyawan, makanya kemudian mereka tidak punya kreatifitas untuk menciptakan lapangan pekerjaan. Ini dilema ketika melamar pekerjaan tetapi tidak diterima, sehingga kemudian menimbulkan persoalan jika tidak dibekali skill kewirausahaan,” terang Inayatul Ulya.

Inaya menyadari para lulusan PTKI masih belum mampu memenuhi harapan masyarakat, sehingga ia mendorong agar PTKI dapat merancang strategi melalui pengembangan kurikulum yang berbasis kewirausahaan. Dalam hasil risetnya, Inaya mengaku sudah mengembangkan tiga strategi melalui integrasi kewirausahaan kedalam kurikulum PTKI, kemudian upaya pemagangan mahasiswa dalam dunia industri dan terakhir mendorong praktik berwirausaha di kalangan mahasiswa.

Sedangkan Ali Sibram Malisi dalam hasil risetnya menjelaskan pemikiran Idham Chalid, sosok pembaharu di dunia pendidikan Islam, yang mengintegrasikan proses modernisasi dengan tradisi-tradisi keilmuan klasik di pesantren Rasyidiyah Chalidiyah. Pemikiran Idham Chalid tentang integrasi antara aspek sains dan agama ini diimplementasikan ke lembaga pendidikan sekolah Normal Islam.

“Normal Islam adalah bentuk integrasi antara wawasan pengetahuan umum dalam pesantren. Tujuan pesantren tidak hanya menciptakan guru-guru agama saja, tetapi Idham Chalid juga meningkatkan kapasitas sisi politik, kultural, ekonomi dan sosial serta meningkatkan peran alumni didalam masyarakat,” jelas Ali Sibram.

Ditengah tantangan global kini, Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Palangka Raya ini berharap agar lulusan PTKI memiliki ideologi normatif secara baik yakni mampu bersaing dan menyelesaikan persoalan-persoalan secara kognitif, serta memiliki inovasi baru terutama dalam hal kewirausahaan.

“Mahasiswa PTKI kalau komunikasinya mengalami problem, maka ini menjadi kendala, harus ada mobilisasi kultural, dan wawasan pancasila dan kebangsaan harus dijaga oleh mahasiswa kita,” kata Ali Sibram.

Selanjutnya Analis Kebijakan Ahli Madya dan Koordinator Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat DIKTIS, Dr. Suwendi, mengapresiasi atas penelitian yang sudah dilakukan oleh kedua narasumber. Berdasarkan sejumlah data yang diterima, Suwendi menyadari tidak semua sarjana bisa bekerja dan masuk dunia pekerjaan.

Sebagai langkah antisipatif meminimalisir angka pengangguran, Suwendi menekankan perlu adanya terobosan relasi dunia pendidikan dan pekerjaan sehingga harus equivalen.

“Ini tantangan dunia pendidikan dengan dunia pekerjaan agar tidak jomplang. Jangan sampai PTKI berkontribusi melahirkan sarjana yang pengangguran. Jangan sampai melahirkan pengangguran akademik,” pungkas Suwendi mengingatkan.